Taliban Sita Ratusan Senjata dari Pakistan, Ungkap Kompleksitas Perang Proksi di Asia Selatan

Berdasarkan keterangan dari intelijen Taliban, sekitar 525 senjata dan 27.000 butir amunisi disita di perbatasan Torkham.

Diterbitkan 09 Maret 2026, 11:25 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Kabul - Pemerintahan Taliban di Afghanistan mengumumkan telah menyita kiriman besar senjata yang diduga berasal dari Pakistan dan hendak dikirim ke Koridor Wakhan, wilayah strategis Afghanistan yang berbatasan dengan Tajikistan, China, dan Pakistan. Insiden tersebut terjadi pada 21 Februari dan memperlihatkan meningkatnya ketegangan antara Kabul dan Islamabad.

Pada hari yang sama, Angkatan Udara Pakistan melancarkan sejumlah serangan udara ke wilayah Afghanistan. Serangan itu menargetkan kamp-kamp yang diduga digunakan kelompok militan, termasuk Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP) dan Negara Islam Provinsi Khorasan (ISKP). Operasi tersebut disebut sebagai respons atas serangkaian serangan mematikan yang sebelumnya terjadi di Bajaur, Bannu, dan Islamabad.

Hubungan Pakistan dengan berbagai kelompok militan di kawasan itu dinilai sangat kompleks. Selama puluhan tahun, badan intelijen Pakistan, Inter-Services Intelligence (ISI), dikenal sebagai salah satu pendukung utama Taliban. Namun, hubungan keduanya kini semakin tegang, dikutip dari laman The Diplomat, Senin (9/3/2026).

Analis intelijen Afghanistan sekaligus pakar kontra-terorisme Ajmal Sohail menyebut ISKP kini memainkan peran yang semakin penting dalam dinamika keamanan kawasan. Sohail merupakan salah satu pendiri dan wakil presiden Counter Narco-Terrorism Alliance Germany.

Dalam wawancara dengan editor Asia Selatan The Diplomat, Sudha Ramachandran, Sohail mengatakan bahwa ISKP memang menjadi ancaman bagi keamanan Pakistan. Namun pada saat yang sama, kelompok itu juga memiliki nilai strategis bagi Islamabad.

“Walaupun ISKP mengancam keamanan Pakistan, kelompok ini juga dimanfaatkan sebagai aset strategis untuk memengaruhi keseimbangan kekuatan regional dan perkembangan politik di Afghanistan,” kata Sohail.

Menurut laporan intelijen Taliban, sekitar 525 senjata dan 27.000 butir amunisi disita di perbatasan Torkham. Senjata tersebut disembunyikan di dalam truk dan diduga ditujukan ke kamp pengungsi Omari sebelum akhirnya diarahkan ke Koridor Wakhan.

Taliban menilai pengiriman tersebut merupakan bagian dari operasi rahasia yang lebih luas untuk mendukung kelompok-kelompok anti-Taliban di Afghanistan. Beberapa kelompok yang disebut terlibat antara lain Front Kemerdekaan Afghanistan, ISKP, serta sejumlah milisi regional lainnya.

Sebagian senjata juga disebut akan disalurkan kepada kelompok yang dikenal sebagai “Taliban Tajikistan”, yang dipimpin Mahdi Arslan dan Muhammad Sharipov. Kelompok tersebut diduga beroperasi dari wilayah pegunungan Chitral dengan dukungan intelijen Pakistan dan menargetkan investor China serta pasukan perbatasan Tajikistan di Provinsi Badakhshan.

 

Peningkatan Aktivitas

Sohail menjelaskan bahwa meningkatnya aktivitas tersebut juga berkaitan dengan kepentingan geopolitik Pakistan terhadap proyek-proyek investasi China di Afghanistan.

Menurutnya, Islamabad khawatir meningkatnya hubungan langsung antara Beijing dan Kabul, terutama dalam sektor pertambangan dan infrastruktur, dapat mengurangi pengaruh strategis Pakistan di kawasan.

Koridor Wakhan dipandang penting karena berpotensi menjadi jalur perdagangan alternatif antara China dan Asia Tengah tanpa harus melalui Pakistan. Jika jalur itu berkembang, posisi Pakistan sebagai penghubung utama dalam proyek Koridor Ekonomi China–Pakistan (CPEC) dapat melemah.

Karena itu, sejumlah serangan yang menargetkan proyek atau warga negara China diduga merupakan bagian dari strategi untuk menekan investasi tersebut.

Insiden penyitaan senjata juga menyoroti konflik proksi yang semakin jelas antara Pakistan dan Taliban. Penggunaan kelompok militan sebagai alat geopolitik bukan hal baru di kawasan ini. Pola tersebut sudah terlihat sejak era perang Soviet di Afghanistan dan terus berlanjut hingga periode pasca-serangan 11 September 2001.

Di sisi lain, Pakistan juga menghadapi ancaman nyata dari kelompok militan, terutama TTP. Islamabad menuduh Taliban Afghanistan melindungi anggota TTP yang melakukan serangan di wilayah Pakistan.

Serangan udara yang dilancarkan Pakistan ke wilayah Afghanistan disebut bertujuan menekan pemerintah Taliban agar menghentikan dukungan terhadap kelompok militan anti-Pakistan. Langkah itu juga dimaksudkan untuk menegaskan kembali pengaruh Islamabad dalam isu keamanan kawasan.

Selain itu, militer Pakistan ingin menunjukkan kepada publik domestik bahwa pemerintah tetap berkomitmen menjaga kedaulatan negara di tengah meningkatnya serangan militan.

 

Jaringan yang Terus Berkembang

Sementara itu, jaringan afiliasi ISIS di Asia Selatan juga terus berkembang. Beberapa cabangnya antara lain ISKP di Afghanistan, ISPP di Pakistan, dan ISHP di India. Ketiga kelompok tersebut berada dalam kerangka koordinasi longgar di bawah komando pusat ISIS, tetapi masing-masing menyesuaikan operasinya dengan kondisi lokal.

ISKP saat ini dianggap sebagai pusat operasional utama jaringan ISIS di Asia Selatan dan Asia Tengah. Sementara ISPP dan ISHP lebih fokus pada perekrutan anggota dan propaganda, terutama melalui media daring.

Sejumlah laporan intelijen juga menyebut adanya hubungan yang difasilitasi antara ISKP dan kelompok militan Lashkar-e-Taiba di wilayah Balochistan. Kerja sama tersebut diduga mencakup pelatihan bersama di bekas kamp militer Taliban.

Kolaborasi ini dinilai meningkatkan risiko eskalasi konflik di kawasan, termasuk potensi gangguan terhadap proyek infrastruktur regional dan meningkatnya ancaman serangan lintas batas.

Ekspansi ISKP di Balochistan juga memperumit situasi keamanan. Kelompok itu kini menargetkan gerakan separatis Baloch, termasuk Tentara Pembebasan Baloch (BLA), yang selama ini berkonflik dengan pemerintah Pakistan.

Di tengah dinamika tersebut, para analis memperingatkan bahwa penggunaan kelompok militan sebagai alat strategi geopolitik dapat menjadi pedang bermata dua. Praktik itu tidak hanya memperburuk ketidakstabilan kawasan, tetapi juga berisiko memicu siklus kekerasan yang sulit dikendalikan di Asia Selatan.