Kepala BMKG: 1.598 Gempa Susulan Terjadi Usai Lindu M7,7 Guncang NTT

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani di sela-sela perayaan HUT RI di Istana Merdeka memberikan keterangan terkait situasi seismik yang terjadi di NTT usai gempa.

Diterbitkan 17 Agustus 2026, 08:58 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

 

Liputan6.com, Jakarta - Gempa susulan masih terus terjadi usai lindu Magnitudo 7,7 mengguncang wilayah NTT pada Sabtu (15/8/2026) lalu. Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani di sela-sela perayaan HUT Kemerdekaan RI di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (17/8/2026) saat ditemui wartawan mengatakan, pihaknya masih terus memantau perkembangan di lapangan. 

"Di NTT tim kita sekarang sudah bergerak ke lokasi. Bahkan ada 3 UPT atau kantor BMKG yang ada di Pulau Flores dan juga ada dua pos kami di sana. Jadi ketika gempa terjadi memang staf BMKG sudah ada di lokasi, kita tersebar di 191 lokasi di Indonesia," katanya.

Teuku Faisal mengatakan, saat gempa NTT terjadi pihaknya bersama pemerintah daerah langsung mengambil tindakan-tindakan, penyelamatan, mendampingi BPBD, dan mendampingi tim SAR.

Terkait gempa susulan, dirinya mengatakan, pihaknya juga masih terus memantau.

"Sampai dengan jam 07.00 pagi hari ini telah tercatat 1.598 gempa susulan, magnitudo terbesar adalah 6,2 magnitudo, yang terkecil 1,3 dan kemudian yang dirasakan kira-kira 54 gempa," katanya.

Teuku Faisal menyebut, kemungkinan dalam 2-3 minggu ke depan gempa akan meluruh sehingga pihaknya mulai bisa melakukan pendampingan retrofitting atau perbaikan bangunan atau pembangunan kembali jika dibutuhkan. 

Update Korban Meninggal

Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut belum ada laporan orang hilang dalam penanganan gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu, 15 Agustus 2026.

Deputi Bidang Pencegahan BNPB Abdul Muhari mengatakan, laporan orang hilang dalam penanganan bencana biasanya menjadi dasar bagi Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) untuk menyusun daftar pencarian orang berdasarkan laporan keluarga atau kerabat korban.

“Saat ini, untuk data korban hilang tidak ada yang terlaporkan ke Basarnas. Artinya, biasanya kita memiliki daftar pencarian orang dalam setiap kejadian bencana yang berasal dari data yang dilaporkan oleh saudara maupun kerabat atau orang keluarga,” ujar Abdul dalam konferensi pers yang diikuti secara daring, Minggu (16/8/2026).

Dari tujuh kabupaten/kota yang terdampak gempa, BNPB dan Basarnas saat ini belum memiliki daftar pencarian orang. Meski demikian, Basarnas tetap menyiagakan personel di sejumlah wilayah untuk mengantisipasi kebutuhan pencarian dan pertolongan.

“Tetapi meskipun demikian, Basarnas terus menyiagakan personel di Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat dan secara umum di tujuh kabupaten kota terdampak menyesuaikan dengan situasi di lapangan, respons cepat bisa segera dilakukan,” papar Abdul.

Hingga Minggu (16/8/2026) sore, BNPB mencatat 53 orang meninggal dunia akibat gempa NTT. Korban meninggal dunia tersebar di enam wilayah, yakni satu orang di Manggarai Barat, 20 orang di Manggarai Timur, 25 orang di Manggarai, satu orang di Nagekeo, empat orang di Sikka, dan dua orang di Ende.

"Untuk pemutakhiran korban jiwa meninggal dunia per sore ini, total kami mencatat 53 jiwa meninggal dunia dengan rincian Kabupaten Manggarai Barat 1 jiwa, Manggarai Timur 20 jiwa, Kabupaten Manggarai 25 jiwa, Nagekyo 1 jiwa, Sikka 4 jiwa, dan Ende 2 jiwa," terang Abdul.

Sementara itu, BNPB mencatat 105 orang masih menjalani perawatan di fasilitas kesehatan terdekat.

"Terdiri di Sikka 12 jiwa, Manggarai 17 jiwa luka berat, 20 jiwa luka ringan. Manggarai Timur 21 jiwa luka berat, 59 jiwa luka ringan. Manggarai Barat 6 jiwa luka berat," jelas Abdul.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6