Deklarasikan Perang Terbuka, Pakistan Tegaskan Tidak Ada Dialog dengan Afghanistan

Apa yang memicu perang di antara dua negara tetangga ini? Berikut penjelasannya.

Diterbitkan 28 Februari 2026, 14:46 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Islamabad - Seruan internasional untuk mediasi semakin menguat ketika Pakistan dan Afghanistan terlibat bentrokan lintas batas yang telah memasuki hari ketiga. Eskalasi ini disebut sebagai yang paling serius dalam beberapa bulan terakhir, dan pihak Pakistan menyatakan situasi tersebut telah membawa kedua negara ke dalam kondisi yang mereka sebut sebagai "perang terbuka".

Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kallas pada Sabtu (28/2/2026) mendesak kedua negara untuk menurunkan ketegangan dan segera memasuki perundingan. Ia memperingatkan bahwa kekerasan yang terus berlanjut dapat berdampak pada kawasan yang lebih luas.

Selain Uni Eropa, Iran, Yordania, Uni Emirat Arab, dan Rusia juga menyerukan de-eskalasi dan mediasi. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres turut meminta kedua pihak menahan diri dan menyelesaikan konflik melalui dialog.

Pemerintahan Taliban di Afghanistan menyatakan terbuka untuk melakukan negosiasi guna mengakhiri konflik. Namun, pemerintah Pakistan pada Sabtu menegaskan tidak akan ada dialog, sembari kembali mengulang tuntutan lama agar Afghanistan menghentikan perlindungan terhadap aksi terorisme, tuduhan yang dibantah oleh Kabul.

Juru bicara Perdana Menteri Pakistan untuk media asing, Mosharraf Zaidi, mengatakan kepada Pakistan TV bahwa tidak akan ada pembicaraan maupun negosiasi.

"Tidak akan ada pembicaraan. Tidak ada dialog. Tidak ada negosiasi. Terorisme dari Afghanistan harus diakhiri," ujarnya seperti dikutip dari Al Jazerra.

Ia menekankan bahwa tanggung jawab Pakistan adalah melindungi warga negara dan wilayahnya.

 

Pemicu Perang Terbuka

Sementara itu, serangan balasan terus terjadi di sepanjang perbatasan yang selama ini dikenal rawan. Media Afghanistan melaporkan bahwa pasukan Taliban melancarkan serangan drone terhadap kamp militer Pakistan di wilayah perbatasan Miranshah dan Spinwam.

Surat kabar Dawn di Pakistan melaporkan sebuah serangan drone menghantam sebuah masjid di Kota Bannu, yang terletak lebih ke selatan, dan melukai sedikitnya lima orang. Pakistan TV juga menyatakan bahwa pasukan Pakistan melancarkan serangan balasan yang menargetkan sejumlah posisi Taliban Afghanistan.

Kekerasan terbaru ini dipicu oleh serangan udara Pakistan di wilayah Afghanistan pada akhir pekan lalu. Serangan tersebut memicu balasan Afghanistan yang meluas ke enam distrik di Pakistan pada Kamis (26/2). Sebagai respons, Pakistan melancarkan serangan udara besar-besaran pada Jumat (27/2) dini hari yang menargetkan ibu kota Afghanistan, Kabul, serta dua wilayah lainnya, yaitu Kandahar dan Paktia.

Serangan tersebut menjadi yang pertama kalinya Pakistan menyerang Kandahar, basis kekuatan utama Taliban di selatan, sejak kelompok tersebut kembali berkuasa pada 2021.

Kedua pihak melaporkan korban jiwa dalam jumlah besar, namun angka yang disampaikan saling bertentangan. Pakistan menyatakan 12 tentaranya dan 274 anggota Taliban tewas. Sementara itu, pihak Taliban menyebut 13 pejuangnya dan 55 tentara Pakistan tewas. Klaim kedua belah pihak tersebut tidak dapat diverifikasi secara independen.

Amerika Serikat (AS), yang menganggap Pakistan sebagai sekutu utama non-NATO, menyatakan mendukung hak Pakistan untuk membela diri dari serangan Taliban.

Dalam beberapa tahun terakhir, Pakistan mengalami peningkatan tajam aksi kekerasan di dalam negeri, termasuk bom bunuh diri dan serangan terkoordinasi yang menargetkan pasukan keamanan. Otoritas Pakistan menyalahkan kelompok Taliban Pakistan atau Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP) atas banyak serangan tersebut dan menuduh Afghanistan memberikan perlindungan kepada kelompok itu di wilayahnya.

Pemerintah di Kabul membantah tuduhan tersebut dan menyatakan tidak mengizinkan siapa pun menggunakan wilayah Afghanistan untuk melancarkan serangan terhadap negara mana pun, termasuk Pakistan.

Pakistan merupakan negara bersenjata nuklir dengan kemampuan militer yang jauh lebih unggul dibandingkan Afghanistan. Namun, Taliban dikenal memiliki pengalaman tempur yang luas setelah puluhan tahun berperang melawan pasukan yang dipimpin AS.