Sukses

Artis Online China Meninggal Setelah Sedot Lemak

Liputan6.com, Hangzhou - Seorang artis di China meninggal pada hari Selasa setelah perawatan sedot lemak yang gagal, sehingga mengakibatkan infeksi kulit yang parah dan tinggal selama dua bulan di unit perawatan intensif, demikian laporan Asia One, Sabtu (24/7/2021).

Komisi kesehatan Hangzhou, kota terbesar di provinsi timur Zhejiang, mengatakan pada hari Kamis bahwa klinik yang melakukan prosedur tersebut harus memberikan kompensasi finansial kepada keluarga dan menangguhkan operasi bisnisnya.

“Huayan Medical Cosmetics tidak memiliki pemahaman yang benar tentang operasi sebelum melakukannya, memiliki praktik yang salah selama operasi dan tidak memberikan perawatan tepat waktu setelah operasi. Kesalahannya telah menyebabkan kematian korban,” kata komisi itu dalam sebuah pernyataan.

Perempuan yang meninggal bernama Dai, seorang fashion blogger berusia 33 tahun dengan sekitar 130.000 pengikut di Weibo dan dikenal dengan nama panggilan Xiao Ran.

Dai menjalani operasi plastik pada 2 Mei untuk menghilangkan lemak di sekitar pinggang dan perutnya serta memperbesar payudaranya.

Dua hari setelah sedot lemak, dia mengeluh tentang nyeri tubuh yang parah dan berjuang melawan syok medis, situasi yang terkadang serius yang disebabkan oleh kurangnya aliran darah ke seluruh tubuh.

Dai memanggil ambulans untuk membawanya ke Rumah Sakit Penyakit Kardiovaskular Greentown terdekat, menurut tangkapan layar posting media sosial yang ditulis oleh temannya yang tidak dikenal. Postingan itu kemudian dihapus.

2 dari 3 halaman

Meninggal setelah menjalani 2 kali operasi

Para dokter di Greentown mengatakan Dai menderita beberapa kegagalan organ. Pada tanggal 5 Mei, keluarga Dai memindahkannya ke fasilitas lain di Rumah Sakit Afiliasi Kedua, Fakultas Kedokteran Universitas Zhejiang.

Dai didiagnosis dengan infeksi jaringan kulit dan necrotizing fasciitis, penyakit pemakan daging yang dapat menyebar dengan cepat dan sangat berbahaya.

Perempuan itu dirawat 2 bulan di ICU sebelum dia meninggal. Selama waktu itu, dokter melakukan dua operasi untuk melawan infeksi bakteri yang menyebar ke seluruh tubuhnya.

Keluarga Dai mempertanyakan kualifikasi dokter sedot lemak yang melakukan prosedur pada Dai.

Mereka mengatakan Gao Qiang hanyalah seorang dokter junior, padahal menurut peraturan tahun 2009 oleh otoritas kesehatan negara bagian ditetapkan bahwa operasi untuk menghilangkan 2.000 ml lemak atau lebih harus dilakukan oleh seorang dokter senior. Operasi Dai melibatkan pengangkatan lebih dari jumlah lemak itu.

Dalam unggahan media sosial, teman Dai mengungkapkan kekesalannya dengan bagaimana klinik yang melakukan sedot lemak menangani keluhan wanita tersebut.

Temannya mengatakan bahwa sebagian besar kulit Dai – dari payudara hingga perutnya – telah bernanah dan bengkak.

“Rumah sakit Huayan hanya menyuruhnya minum pil ketika dia memberi tahu mereka tentang rasa sakitnya. Itu tidak meredakan gejalanya sama sekali,” katanya.

Banyak orang menyatakan rasa iba pada Dai secara online di akun Weibonya minggu ini.

“Kita seharusnya tidak menyalahkannya karena memilih untuk menjalani operasi sedot lemak. Itu adalah pilihannya untuk menjalani operasi,” tulis salah satu orang. “Ini adalah kesalahan rumah sakit sampah ini. Anda telah mengalami terlalu banyak penderitaan. Beristirahatlah dengan tenang, adik.”

3 dari 3 halaman

Bukan korban pertama

Dai bukanlah korban pertama pratik operasi kecantikan yang gagal di China.

Oktober tahun lalu, seorang perempuan 21 tahun di Changzhou, provinsi Jiangsu, Tiongkok timur, meninggal saat menjalani operasi pembesaran payudara dan hidung.

Lembaga tempat dia menjalani operasi dituduh tidak mampu menangani situasi darurat.

Tahun 2019, seorang wanita 28 tahun meninggal setelah menjalani operasi di Nanyang, sebuah kota di Henan di Cina tengah dan rumah sakit tersebut dituduh tidak memiliki lisensi yang tepat untuk melakukan operasi kecantikan.

Tahun 2010, seorang penyanyi kompetisi menyanyi TV terkenal meninggal karena kecelakaan anestesi selama operasi kosmetik.

 

Reporter: Ielyfia Prasetio