Sukses

Kritisi Pemerintah, Komedian Thailand Hilang Diculik Kelompok Bersenjata

Liputan6.com, Thailand - Wanchalearm Satsaksit (37), seorang aktivis pro-demokrasi terkemuka dan satiris di Thailand dinyatakan hilang pada 4 Juni sore. Saat itu, sang kakak Sitanan Satsaksit sedang meneleponnya, namun beberapa saat kemudian ia mendengar suara datang dari ujung telepon adiknya.

"Saya mendengar ledakan keras. Awalnya saya mengira dia mengalami kecelakaan mobil, namun kemudian dia berteriak, 'Saya tidak bisa bernapas, saya tidak bisa bernapas,'" jelas sitanan kepada BBC, dikutip Selasa (7/7/2020).

Sitanan yang saat itu mendengar teriakan adiknya tersebut sempat tidak mengerti karena Wanchalearm saat itu berteriak dalam bahasa Khmer.

Saksi mata di tempat kejadian mengatakan mereka melihat sekelompok pria bersenjata mengikat Wanchalearm dan membawanya ke dalam mobil berwarna hitam. Beberapa orang sempat berusaha untuk menolongnya, tetapi para penculik bersenjata memperingatkan mereka untuk mundur.

Bingung dengan apa yang terjadi, Sitanan sempat mendengar suara adiknya tersebut yang teredam selama 30 menit. Kemudian telepon terputus.

2 dari 8 halaman

Latar Belakang Penculikan

Wanchalearm Satsaksit merupakan adalah kritikus militer dan monarki Thailand kesembilan yang jadi korban penghilangan paksa dalam beberapa tahun terakhir.

Dia sudah lebih dari satu dekade melakukan kegiatan sebagai seorang aktivis, terutama dalam isu gender dan hak-hak LGBT di Thailand. Namun seiring berjalannya waktu, minatnya mulai bergeser ke ranah yang lebih luas yaitu kritik demokrasi Thailand, kata Sunai Phasuk, seorang peneliti senior untuk Human Rights Watch Asia dan teman Wanchalearm.

Pada saat kudeta militer 2014 yang dipimpin Jenderal Prayuth Chan-ocha, Wanchalearm berafiliasi mengkritik kudeta militer dengan Front Bersatu untuk Demokrasi Melawan Kediktatoran (UDD), yang juga dikenal sebagai Kaos Merah. Kelompok itu pertama kali dibentuk pada 2006 untuk menentang kudeta militer sebelumnya yang menggulingkan perdana menteri saat itu, Thaksin Shinawatra.

Segera setelah kudeta, wajah Wanchalearm muncul di TV dan dia dipanggil untuk menghadiri pertemuan di sebuah kamp militer, kata Sunai. Namun Wanchalearm yang mengetahui bahwa ia akan dibungkam memilih meninggalkan Thailand dan memulai kehidupan baru di Phnom Penh, Kamboja.

 

3 dari 8 halaman

Menjadi Satiris dengan Banyak Perhatian

Begitu tiba di Phnom Penh, Wanchalearm menetap di lingkungan barunya. Namun ternyata melalui daring dia masih melakukan aksinya mengkritik pemerintah Thailand dengan cara humor

Sunai mengungkapkan bahwa Wanchalearm menjadikan imagenya sebagai seorang satiris, hampir seperti pelawak politik. "Dia terus menerus mengolok-olok junta militer. Dia mengolok-olok Jenderal Prayuth, yang pada waktu itu adalah pemimpin kelompok kudeta, dia mengolok-olok jenderal lain," jelas Sunai

Wanchalearm mengungkap apa yang dianggapnya sebagai kesalahan bodoh junta menggunakan dialek timur laut yang sebagian besar daerah itu adalah warga miskin. Dia melakukannya untuk menunjukkan bahwa orang biasa dapat mengolok-olok mereka yang berkuasa.

Pada Juni 2018, pihak berwenang Thailand mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Wanchalearm berdasarkan tuduhan bahwa ia melanggar Undang-Undang Kejahatan Komputer yang mengkriminalisasi tulisan melalui halaman Facebook-nya yang memicu kerusuhan. Polisi bersumpah untuk membawanya kembali ke Thailand.

Wanchalearm hanyalah satu dari sekian banyak orang buangan Thailand yang berbicara tentang keamanan negara tetangga. Namun dalam kenyataannya, hal itu menjadi semakin berbahaya.

4 dari 8 halaman

Delapan Aktivis Pro-demokrasi Lainnya yang Menghilang

Mayat kritikus lainnya, Chatcharn Buppawan dan Kraidej Luelert, ditemukan dengan isi perut yang sudah dikeluarkan dan diisi dengan beton di perbatasan Sungai Mekong dengan Laos tahun lalu. Tentara Thailand mengatakan tidak tahu apa yang terjadi.

Jakrapob Penkair, yang menjabat sebagai juru bicara pemerintah di bawah Thaksin Shinawatra, juga menerima ancaman pembunuhan sehingga ia memilih hidup di pengasingan sejak 2009.  

Berbicara kepada BBC dari lokasi yang dirahasiakan, Jakrapob yang sudah bertahun tahun mengenal Wanchalearm mengatakan dia terkejut dengan hilangnya temannya karena sifat aktivisme yang ringan. Dia tidak yakin bahwa Wanchalearm masih hidup.

"Saya pikir pesannya adalah: 'Mari kita bunuh saja orang ini. Dia adalah orang luar yang berbeda dari kita dan dia harus dibunuh untuk mengembalikan Thailand ke keadaan normal,'" katanya.

Jakrapob percaya bahwa tidak ada yang lebih salah dalam penafsiran itu. Dia percaya keputusan mereka untuk menculik dan membunuh Tar dan yang lainnya adalah untuk meradikalisasi rakyat.

 

 

5 dari 8 halaman

Demonstran: #SaveWanchalearm

Hilangnya Wanchalearm memicu protes di Bangkok karena para demonstran merasa pemerintah Thailand terlibat dalam masalah tersebut sehingga para demonstran menuntut pemerintah Kamboja untuk menyelidiki kasus ini sepenuhnya. Poster-poster Wanchalearm dan aktivis yang hilang lainnya bertebaran di sekitar kota.

#SaveWanchalearm sedang tren di Twitter Thailand pada hari-hari setelah penculikannya.

Tagar "#abolish112" juga telah di-retweet lebih dari 450.000 kali. Ini adalah rujukan ke Pasal 112 KUHP Thailand, yang menyatakan: "Siapa pun yang mencemarkan nama baik, menghina atau mengancam Raja, Ratu, Pewaris atau Bupati akan dihukum dengan hukuman penjara tiga hingga 15 tahun".

Beberapa pembangkang yang hilang dituduh melanggar pasal tersebut. Setiap pertanyaan publik tentang monarki di Thailand sampai saat ini hampir tidak pernah terjadi.

Banyak aktivis percaya penculikan ini terkait dengan istana, tetapi undang-undang yang ketat terhadap komentar negatif tentang monarki menjadikan ini sebagai sesuatu yang berbahaya untuk diselidiki. Meskipun kemarahan meluas atas penculikan Wanchalearm, hanya sedikit mempunyai harapan banyak harapan untuk kembali.

"Penculikan itu bukan karena uang atau juga masalah pribadi. Jadi tidak ada alasan untuk membuatnya tetap hidup," komentar Somyot Pruksakasemsuk, seorang aktivis terkemuka yang menjalani tujuh tahun penjara dengan tuduhan lese majeste - atau "menghina monarki" - dan pencemaran nama baik.

"Tujuan penculikan memang untuk membunuhnya dan untuk menciptakan suasana intimidasi di Thailand dan negara-negara lain di mana masyarakat aktif dalam mengkritik monarki," tambah Somyot, yang putrinya pernah memiliki hubungan dengan Wanchalearm.

6 dari 8 halaman

Dalang di Baliknya

Somyot tidak ragu-ragu tentang siapa yang berada di balik hilangnya itu. "Pemerintah tahu betul tentang penculikan dan penghilangan ini. Saya bisa jamin bahwa pemerintahlah yang berada di balik kasus ini," katanya.

Namun di sisi lain, juru bicara pemerintah Thailand, Narumon Pinyosinwat, mengatakan kepada BBC, "Kami tidak tahu apa yang terjadi padanya. Kami tidak melakukan apa pun dalam kategori penyerangan ke negara lain. Mereka memiliki hukum dan kontrol sendiri," katanya.

"Orang yang dapat menjawab pertanyaan itu sebaiknya adalah pemerintah Kamboja karena mereka tahu apa yang terjadi di negara itu kepada orang ini." Tambah Pinyosinwat

Menanggapi pertanyaan oposisi di parlemen, Menteri Luar Negeri Thailand, Don Pramudwinai, mengatakan bahwa Wanchalearm tidak memiliki status pengungsi politik, sehingga Thailand harus menunggu Kamboja menyelesaikan penyelidikannya.

7 dari 8 halaman

Kementerian Dalam Negeri Kamboja Tak Menanggapi

Seorang juru bicara kementerian kehakiman mengatakan kepada Voice of Democracy minggu lalu bahwa penyelidikan sedang dilakukan untuk memastikan "apakah berita itu benar atau tidak".

Brad Adams, direktur Asia untuk Human Rights Watch, mengatakan: "Kamboja dan Laos jelas telah memutuskan untuk tidak perduli karena sekarang sembilan orang buangan Thailand yang terkenal telah diculik, dan kemungkinan dibunuh, oleh orang tak dikenal."

“Pemerintah Thailand mengejar ‘imbal beli’ dengan kedua tetangganya” kata Brad, menuduh Bangkok menjadikan Thailand "terlarang" bagi tokoh oposisi Kamboja.

Sunai Phasuk mengatakan Kamboja harus menyelidiki sepenuhnya apa yang terjadi pada Wanchalearm jika Kamboja untuk dikenal sebagai negara yang "meningkat dari masyarakat tanpa hukum menjadi negara dengan proses hukum".

"Kejahatan seperti ini tidak dapat terjadi di siang bolong. Ini adalah ujian bagi Kamboja," katanya.

Tetapi Sitanan memiliki sedikit harapan untuk melihat adiknya hidup kembali dan hanya mencoba memahami mengapa seseorang ingin membunuh adiknya. "Aku ingin tahu apakah jika seseorang memiliki pendapatnya sendiri, apakah dia perlu dihukum berat?" tanya Sitanan.

"Dia tidak merampok siapa pun, dia tidak memperkosa siapa pun. Dia hanya berpikir secara berbeda. Apakah kamu benar-benar perlu membunuhnya?" ucap Sitanan.

 

Reporter: Vitaloca Cindrauli Sitompul

8 dari 8 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: