Sukses

Donald Trump Bikin Pejabat AS - China Gamang soal Gencatan Perang Dagang

Liputan6.com, Washington DC - Komitmen terbaru Presiden Amerika Serikat Donald Trump --pada KTT G20 di Buenos Aires akhir pekan lalu-- untuk melakukan gencatan perang dagang AS-China telah menimbulkan kegamangan di antara pejabat tinggi di Washington DC dan Beijing.

Mereka tampak kesulitan untuk mengejawantahkan komitmen Trump menjadi sebuah kebijakan realistis, mengingat AS belum memiliki landasan dokumen untuk hal tersebut, sementara pemerintahan China di Beijing tampaknya belum memberikan afirmasi balasan, demikian seperti dikutip dari Bloomberg, Selasa (4/12/2018).

Sebelumnya, melalui unggahan di Twitter, Trump mengumumkan bahwa China telah mengurangi dan mencabut bea atas mobil produksi AS yang diimpor ke Tiongkok --mengawali apa yang Trump anggap sebagai awal dari gencatan perang dagang AS-China seperti yang ia umumkan pada KTT G20 lalu.

Gedung Putih belum mengelaborasi lebih lanjut twit Trump tersebut. Sementara Kementerian Luar Negeri China di Beijing menolak mengomentari setiap perubahan terhadap bea impor mobil AS. Beberapa pejabat terkait di Beijing tidak menanggapi permintaan untuk penjelasan dan begitu pula kedutaan China di Washington.

Sementara itu, ditanya tentang pernyataan Trump pada hari Senin 1 Desember, Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin dan penasihat ekonomi top Trump, Larry Kudlow, tak memberikan komentar yang mengafirmasi tweet sang presiden AS.

"Saya hanya akan menyebut pernyataan itu sebagai komitmen pada titik ini. Komitmen tidak selalu merupakan kesepakatan perdagangan, tetapi itu adalah hal-hal yang akan mereka pertimbangkan dan mungkin akan diimplementasikan," kata Kudlow di Gedung Putih, 3 Desember 2018.

Upaya pengurangan bea pada produk otomotif adalah bagian dari komitmen gencatan perang dagang AS-China, yang disetujui oleh Presiden Trump dan Presiden Xi Jinping saat makan malam di sela KTT G20 di Buenos Aires Sabtu 1 Desember 2018. Dalam kesempatan itu, AS sepakat untuk menunda memberlakukan kenaikan bea pada barang impor China pada 1 Januari, demi membuka jalan agar dialog negosiasi dapat berlangsung.

Presiden AS Donald Trump didampingi Presiden China Xi Jinping saat upacara penyambutannya di Beijing  (AP Photo/Andrew Harnik)

Trump mengharapkan China untuk melakukan "perubahan struktural" mengenai perlindungan kekayaan intelektual, penghentian pemaksaan transfer teknologi, dan masalah perdagangan lainnya.

Pada kesempatan itu pula, semua pihak menyetujui Trump yang akan menunda peningkatan bea impor barang China, serta mengurangi pajak tarif barang China yang masuk ke AS dari 25 persen menjadi 10 persen, sebagai imbalan atas negosiasi atas perselisihan ekonomi yang lebih luas.

Tapi, Gedung Putih kemudian mengoreksi awal mula gencatan perang dagang, dengan mengatakan bahwa hal itu akan efektif dimulai terhitung 1 Desember dan efektif selama 90 hari.

"Saya pikir ada pemahaman khusus bahwa kita sekarang akan mengubah perjanjian yang kedua presiden miliki menjadi kesepakatan nyata dalam 90 hari ke depan," kata Menkeu AS Steve Mnuchin yang melalui komentarnya menjelaskan bahwa komitmen gencatan itu belum efektif berlaku.

"Saya percaya atas kata-kata Presiden Xi, yang menyatakan komitmennya kepada Presiden Trump. Tetapi mereka juga harus menepati hal ini," tambah Mnuchin, tanpa menjelaskan detail tentang komitmen balasan Beijing.

 

Simak video pilihan berikut:

2 dari 2 halaman

Berisiko?

Ketidakpastian itu menggarisbawahi risiko yang ditimbulkan oleh keinginan Trump untuk melakukan kesepakatan tanpa adanya rincian di muka. Kebingungan itu diperparah oleh tidak adanya pernyataan bersama dari AS dan China setelah makan malam bilateral dalam KTT G20 di Buenos Aires akhir pekan lalu. Pasar keuangan dibiarkan berjuang untuk mencerna komitmen itu, dengan kemungkinan munculnya risiko keuangan yang tak mengenakkan pada kemudian hari.

"Itulah yang terjadi ketika Anda tidak memiliki perundingan tak terperinci. Itu berisiko dan tidak ada jaminan bahwa itu akan menghasilkan hasil yang kita inginkan," kata Bonnie Glaser, seorang ahli China di Center for Strategic and International Studies (CSIS) yang berbasis di Washington DC, seperti dikutip dari Bloomberg.

China memberlakukan tarif balasan sebesar 25 persen atas impor mobil dari AS selama musim panas sebagai tanggapan atas tarif Trump sendiri. Itu ditambahkan di atas tarif 15 persen yang dikenakan oleh Beijing untuk impor dari seluruh dunia, membuat eksportir otomotif AS menghadapi retribusi 40 persen di Tiongkok.

Dalam pengarahannya bersama para wartawan, penasihat kepresidenan AS bidang ekonomi, Larry Kudlow mengatakan dia berasumsi bahwa China pada akhirnya akan menghentikan tarif otomotif mereka sama sekali. Perubahan semacam itu harus berlaku untuk semua negara di bawah peraturan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

"Kami belum memiliki perjanjian khusus tentang itu," kata Kudlow, tampaknya bertentangan dengan tweet Trump tentang masalah tersebut. "Tapi saya hanya akan mengatakan kepada Anda, sebagai peserta yang terlibat, kami berharap tarif tersebut akan mencapai nol."

Ditanya mengapa klausul prasyarat tentang tarif otomotif tidak disebutkan dalam pernyataan yang dikeluarkan pemimpin AS dan China setelah makan malam di KTT G20, Kudlow secara eksplisit bersikeras bahwa dirinya "tidak setuju" dengan kesepakatan tersebut.

Kendati demikian, Trump tetap memuji dirinya sendiri atas apa yang ia pandang sebagai sebuah keberhasilan atas China. Ia juga mengklaim bahwa China telah setuju untuk segera membeli lebih banyak produk pertanian AS, selain menghentikan tarif mobil.

Menkeu AS, Steve Mnuchin dalam wawancara dengan CNBC pada hari Senin, memberikan harga US$ 1,2 triliun pada komitmen perdagangan tambahan China, tetapi menekankan rincian bagaimana mereka sampai di sana masih perlu dinegosiasikan.

Loading
Artikel Selanjutnya
China Lepas Liarkan Panda Raksasa ke Luar Sichuan untuk Pertama Kalinya
Artikel Selanjutnya
Donald Trump Minta Bank Dunia Tak Lagi Beri Pinjaman ke China