Sukses

5 Eksperimen Psikologi Paling Berbahaya dalam Sejarah Manusia

Liputan6.com, Jakarta - Eksperimen tentang pikiran manusia (human psyche) sangat menarik, terutama, bagi yang menekuni psikologi.

Ilmuwan yakin, dengan memahami mengapa kita bersikap dengan cara yang kita lakukan, bisa menjadi kunci untuk melepaskan potensi penuh alam pikiran umat manusia.

Jadi oleh karenanya, barangkali, banyak para peneliti mendorong pada batas-batas kewajaran ketika merancang eksperimen psikologi.

Namun kadang-kadang, para peneliti bertindak terlalu jauh dan keinginan mereka untuk memahami datang dengan menabrak batas-batas etika, serta mengorbankan keselamatan dan kesejahteraan orang lain.

Eksperimen psikologi berikut membuat peserta mereka terluka, trauma, dan yang paling buruk, merenggut nyawa.

Dari berbagai macam kasus yang ada, berikut eksperimen psikologi paling berbahaya yang pernah dilakukan terhadap manusia, demikian seperti dikutip dari Listverse.com, Minggu (28/10/2018).

 

Simak video pilihan berikut:

2 dari 6 halaman

1. Eksperimen Penjara Stanford

Eksperimen penjara Stanford merupakan sebuah studi psikologis yang meneliti tentang studi penal (pemenjaraan). Penelitian itu mengobservasi perilaku terpidana penjara dan petugas institusi pemenjaraan.

Percobaan itu dilakukan pada 1971 oleh tim peneliti Stanford University yang dipimpin oleh psikolog, Philip Zimbardo. Eksperimen itu melibatkan permainan peran yang dilakukan oleh para relawan penelitian.

Para relawan dibagi menjadi dua kelompok peran, yakni para terpidana dan petugas penjara. Tim peneliti membentuk sebuah penjara tiruan di ruang bawah tanah Fakultas Psikologi Stanford University.

Dalam waktu cepat, para relawan penelitian segera mendalami dan menyesuaikan diri dengan peran masing-masing, seolah-olah mereka hidup dalam komunitas panoptikon.

Namun, pendalaman peran para relawan ternyata melampaui batas-batas yang diharapkan oleh tim peneliti. Tak memakan waktu yang cukup lama, para relawan menunjukkan perilaku berbahaya, bertendensi melakukan tindakan kekerasan, serta self-destruct secara psikologis.

Sepertiga dari relawan yang berperan sebagai petugas penjara menunjukkan kecenderungan perilaku sadis dengan menyiksa para terpidana. Sementara hampir sebagian besar relawan yang berperan sebagai tahanan mengalami trauma emosional, bahkan dua di antaranya harus dikeluarkan dari eksperimen lebih awal.

Akhirnya, Zimbardo yang semakin khawatir dengan perilaku para relawan percobaan, harus menghentikan eksperimen lebih dini dari rencana.

3 dari 6 halaman

2. Studi Monster

The Monster Study atau Studi Monster merupakan sebuah eksperimen terhadap 22 anak yatim piatu di Davenport, Iowa, Amerika Serikat pada 1939. Studi itu dipimpin oleh Wendell Johnson dari University of Iowa dan dibantu oleh salah satu mahasiswa pasca-sarjananya, Mary Tudor, untuk memantau eksperimen.

Ke-22 anak yatim piatu tersebut ditempatkan dalam kelompok kontrol dan kelompok eksperimen, dengan diberikan treatment penelitian yang berbeda. Metode penelitian itu dilakukan untuk membandingkan hasil observasi.

Tudor memberikan terapi "perlakuan dan ucapan positif" terhadap kelompok kontrol'. Sementara anak-anak dari kelompok eksperimen diberikan "perlakuan dan ucapan negatif".

Hasil memuaskan ditunjukkan dari kelompok kontrol yang diberikan "perlakuan dan ucapan positif". Sebagian anak-anak yang menjadi subjek penelitian memperlakukan perilaku terpuji setelah penelitian berakhir.

Namun, hasil mencengangkan terjadi pada kelompok penelitian yang lain. Penelitian menunjukkan bahwa kelompok eksperimen mengalami dampak psikologis yang negatif dan bahkan mengalami masalah jangka panjang--yang bertahan cukup lama--pasca-penelitian itu selesai.

Bagi kalangan mahasiswa Fakultas Psikologi University of Iowa, eksperimen itu dijuluki "The Monster Study". Mereka merasa bahwa dampak eksperimen mengerikan itu dianggap "berlebihan", hanya demi memperoleh sebuah pembuktian teori secara ilmiah.

Percobaan itu tetap dilakukan secara tersembunyi, karena Johnson takut reputasinya ternoda jika eksperimen--yang dilakukan di masa Perang Dunia II-- itu diketahui publik. Setelah eksperimen itu menjadi rahasia umum, University of Iowa akhirnya secara terbuka meminta maaf atas studi tersebut pada 2001.

 

4 dari 6 halaman

3. Project MKULTRA

Proyek ini merupakan eksperimen ternama di masanya dan digagas oleh CIA Amerika Serikat. Program MKULTRA, secara keseluruhan, merupakan riset mengenai dampak fungsi otak atas keterpaparan terhadap zat kimiawi tertentu.

Tujuannya adalah untuk mengetahui dampak apa yang dapat dihasilkan dari senyawa kimiawi tertentu jika dipapar pada otak manusia. Zat kimia yang digunakan berupa beragam senyawa narkotika berbasis LSD, yang dilarang menurut Ketentuan Nuremberg.

Perekrutan relawan eksperimen juga dilakukan dengan cara ilegal. Mereka memanipulasi sejumlah individu untuk terlibat dalam uji coba, dan menipu mereka agar tidak menceritakan eksperimen rahasia itu ke publik.

Setidaknya dua orang tetap bungkam untuk selamanya, karena dilaporkan tewas usai menjalani eksperimen itu.

Pada 1973, Direktur CIA Richard Helms memerintahkan MKULTRA dan semua dokumen yang berkaitan dengan eksperimen itu untuk "dilenyapkan" serta memerintahkan Komunitas Intelijen AS membantah keberlangsungan tes tersebut. Alhasil, investigasi resmi tentang uji coba tersebut sulit untuk dilaksanakan.

5 dari 6 halaman

4. Eksperimen Milgram

Dalam salah satu eksperimen psikologi paling terkenal yang pernah ada, pada awal 1960-an, Stanley Milgram berusaha mengeksplorasi batasan antara kepatuhan terhadap otoritas dan hati nurani pribadi, setelah menyaksikan Pengadilan Nuremberg, di mana mantan Nazi yang dituduh melakukan kekejaman mengklaim bahwa mereka hanya mengikuti perintah.

Milgram tertarik melihat seberapa jauh orang akan mematuhi instruksi, bahkan jika mereka terlibat menyakiti orang lain.

Subjek pemelitian pertama kali diperkenalkan ke pasangan mereka dalam eksperimen sehingga mereka dapat bertemu mereka sebagai manusia. Mereka kemudian diminta untuk melakukan undian untuk menentukan siapa yang berperan sebagai guru dan siapa muridnya.

Namun sebagai catatan, faktanya yang berperan sebagai "murid" adalah seorang aktor yang disewa untuk eksperimen itu. Pengundian itu hanyalah fabrikasi semata.

Sementara yang bertindak sebagai guru adalah para subjek riset yang hendak diteliti oleh Milgram.

Para 'guru' kemudian diminta untuk membaca serangkaian pertanyaan kepada siswa, yang berada di ruangan lain tetapi dapat dikomunikasikan dengan lisan.

Guru duduk di depan mesin dengan generator listrik dan deretan tuas yang ditandai dengan peningkatan voltase dari 15 hingga 450 volt. Para guru diinstruksikan untuk mengajukan kepada para siswa serangkaian pertanyaan dan menerapkan kejutan listrik setiap kali mereka memberikan jawaban yang salah.

Setiap jawaban yang salah berarti intensitas kejutan meningkat. Akan tetapi, siswa sejatinya tidak merasakan efek apa-apa, karena, Milgram memang sengaja memasang generator listrik palsu untuk keperluan eksperimen.

Para aktor itupun hanya berpura-pura kesakitan ketika 'guru' menghidupkan generator listrik untuk menghukum mereka. Tujuannya, demi mempertahankan 'ilusi' pada proses eksperimen (itu sebabnya Milgram menyewa aktor).

Semua peserta dalam uji coba memberikan kejutan listrik kepada "siswa" hingga 300 volt, dan dua pertiga dari mereka terus berlanjut hingga 450 volt meskipun fakta bahwa tegangan yang lebih tinggi diberi label sebagai sangat berbahaya.

Dari hasil-hasilnya, Milgram menyimpulkan bahwa subjek penelitian cenderung mengambil keputusan berbahaya itu dengan alasan mengikuti perintah, di mana mereka melihat orang yang memberikan instruksi memiliki otoritas atas mereka. Bahkan, mereka tetap melakukannya ketika tindakan itu melewati titik di mana hati nurani mereka mengatakan harus berhenti.

Bayangkan apa yang terjadi pada para 'siswa' jika Milgram menggunakan alat kejut listrik asli pada percobaannya.

 

6 dari 6 halaman

5. Albert Kecil

Pada akhir 1910-an, ilmuwan studi behavioral, John B. Watson sedang mempelajari apakah reaksi emosional dapat dikondisikan pada manusia, dan, apakah itu berpengaruh pada fobia yang diderita oleh sejumlah orang.

Untuk membuktikan penelitian itu, Watson menggunakan subjek penelitian seorang bayi bernama Albert, berusia sembilan bulan.

Albert terpapar serangkaian rangsangan, dengan dihadapkan pada tikus putih, kelinci, monyet, topeng, dan koran terbakar. Awalnya, Albert tidak menunjukkan rasa takut terhadap benda-benda ini.

Kemudian, ketika Albert dipaparkan dengan tikus, Watson membuat suara keras dengan memukul pipa logam dengan palu, lalu Albert menangis.

Setelah berulang kali dipaparkan dengan tikus putih yang diikuti oleh suara keras, Albert mulai menangis begitu dia hanya melihat tikus saja.

Watson melakukan eksperimen berkali-kali hingga ia mengumpulkan cukup data untuk menemukan bahwa tidak hanya bayi itu menangis pada tikus putih, tetapi, juga mulai menangis pada apa pun yang mungkin terlihat seperti tikus, termasuk berbagai benda putih dan berbagai macam benda berbulu (termasuk, pada satu titik, jenggot Santa Claus).

Bahkan, benda-benda yang sebelumnya dimainkan dengannya mulai membuat bayi itu takut, jika mereka memiliki kemiripan dengan tikus (atau jika mereka diserahkan kepadanya oleh seorang pria yang memegang palu).

Yang semakin tak etis dari riset Watson adalah --di samping ia menggunakan bayi sebagai subjek penelitian-- ia tidak repot-repot untuk membuat dekondisi kepada Little Albert di akhir eksperimen, dan tidak diketahui apakah fobia-nya akan hama tikus, suara keras, atau psikolog tetap bersamanya.

Sayangnya, Albert meninggal pada usia enam tahun. Tidak diketahui apakah ibunya, yang dibayar hanya senilai US$ 1 untuk partisipasi Albert, pernah menyadari apa yang peneliti lakukan kepada si jabang bayi.