Sukses

Bertamu ke Kampung Halaman Suku Tsou, Warga Asli Taiwan Bagian Selatan

Liputan6.com, Alishan - Puluhan wisatawan lokal dan mancanegara dibuat kagum oleh lima pasang penari wanita dan pria dari Suku Tsou, Taiwan. Tarian apik tersebut dipercantik dengan kostum warna-warni khas penduduk lokal.

Langkah kaki kesepuluh penari yang saling berpegangan tangan tersebut begitu seirama. Sesekali kepala mereka angkat ke atas sebagai bentuk perwujudan rasa syukur pada pencipta alam.

"Tarian ini menggambarkan rasa syukur pada Tuhan," ujar Lu Shan Bao, pemandu wisata lokal kepada Liputan6.com.

Suku Tsou adalah penduduk lokal di bukit Alishan yang terletak di kabupaten Chiayi, Taiwan. Wisatawan dapat menyaksikan penampilan mereka di Yuyupas -- sebuah panggung penampilan yang jadi lokasi unjuk bakat mereka.

Suku Tsou yang juga dijuluki permata bagi warga Taiwan dikenal sebagai pendulang minat turis mancanegara. Sebab, tak hanya ramah pada pengunjung, mereka yang didominasi kaum muda ini punya banyak talenta.

Terbukti dari penampilan tarian dan nyanyian lagu daerah yang begitu apik. Menurut Mooh, seorang penari pria di Yuyupas, setiap hari ada 400 wisatawan lokal dan mancanegara yang hilir mudik secara bergantian.

"Setiap hari ada 400 orang yang datang. Jika hari libur tiba, maka jumlah bisa bertambah," ujar Mooh.

"Saya penduduk asli Alishan. Sudah 5 tahun saya bekerja sebagai penari," tambahnya.

Mooh, penari sekaligus penduduk asli suku Tsou yang sudah bekerja di Yuyupas selama lima tahun (Liputan6.com/Teddy Tri Setio Berty)

Bagi Mooh, bekerja di Yuyupas bukan hanya sekedar untuk menari saja. Berpakaian ala suku Tsou ini dianggapnya sebagai cara melestarikan budaya.

"Meski terlahir dari keluarga tentara, saya tetap merasa senang ketika bekerja di Yuyupas," ujar pria berusia 26 tahun tersebut.

Legenda menyebut bahwa ada sekelompok orang yang tiba di Pulau Taiwan. Sekelompok orang itu lantas ingin meloloskan diri dari kawasan Alishan dan Pulau Taiwan lewat jalur laut.

Pakaian suku Tsou yang tinggal di Alishan, Taiwan (Liputan6.com/Teddy Tri Setio Berty)

Tetapi langkah itu gagal. Sebab, ada sejumlah ikan raksasa yang menghalangi jalan mereka.

Lalu, Tuhan mengirimkan burung raksasa yang kemudian menjelma jadi wanita cantik. Pada bagian kaki burung tersebut, terdapat pola garis hitam, biru dan merah -- yang kemudian jadi warna utama pada pakaian suku Tsou.

Untuk menikmati suasana liburan di Yuyupas, pengunjung harus membeli tiket seharga NT 300 atau setara dengan 136 ribu (NT 1 = Rp 480).

Dengan harga tersebut, Anda dapat melihat hamparan kebun teh, penampilan tari dan menyanyi serta suasana alam tempat tinggal suku Tsou. Namun, harga itu belum termasuk biaya makan siang.

Dikenal Cantik dan Ganteng

Saat memasuki area Yuyupas, tak sedikit pengunjung yang terkesima dengan paras para muda-mudi yang berasal dari Suku Tsou.

Sebab, prianya begitu ganteng dan wanitanya begitu cantik. Jadi tak heran jika banyak dari mereka yang sukses merantau di kota.

"Orang Tsou memang dikenal ganteng dan cantik. Kini jumlah penari tak sebanyak dahulu, sebab banyak dari mereka yang merantau ke kota dan ingin jadi artis," ujar Lu Shan Bao.

"Di antaranya penyanyi dan aktris Taiwan Tang Lanhua," tambah Lu.

1 dari 2 halaman

Ada Sakura di Taiwan

Selama ini kita mengira bahwa Bunga Sakura hanya tumbuh di Jepang. Padahal, keindahan dari bunga merah muda yang dapat menghipnotis pasang mata ini, juga dapat Anda temui di Taiwan.

Ada sejumlah wilayah di Taiwan yang ditumbuhi Bunga Sukura pada Musim Semi. Seperti, Taipei, Nantou dan Taichung. Kota lain yang juga menawarkan keindahan yang sama adalah Chiayi County, tepatnya di kawasan bukit Alishan.

Suhu udara di Alishan terbilang dingin. Pada awal Maret saja, suhu pada siang hari dapat mencapai 22 derajat Celcius. Sedangkan pada malam hari bisa turun drastis menjadi 15 derajat Celcius.

Salah satu keunggulan Bunga Sakura yang tumbuh di Alishan, Chiayi, Taiwan ini adalah lokasinya yang menyuguhkan hamparan bukit yang sangat indah.

Pada Musim Semi, ada banyak Bunga Sakura bermekaran di Alishan, Taiwan (Liputan6.com/Teddy Tri Setio Berty)

Di tambah suhu yang sejuk, membuat suasana nyaman dapat rasa. Terlebih bagi Anda yang sedang menghabiskan masa liburan bersama keluarga atau orang terdekat.

Beberapa waktu lalu, tim dari Liputan6.com berkesempatan untuk mewawancarai Lu Shan Pao, seorang pemandu wisata lokal yang pernah bekerja di Indonesia.

"Bagi masyarakat Taiwan, Sakura adalah simbol dari keindahan," ujar pria 63 tahun yang akrab di panggil Bapak Lu tersebut.

Pada Musim Semi, ada banyak Bunga Sakura bermekaran di Alishan, Taiwan (Liputan6.com/Teddy Tri Setio Berty)

"Alishan itu juga permata bagi kami. Sebab, tak hanya menyajikan hamparan Sakura di Musim Semi, tetapi wilayah ini juga jadi tempat tinggal suku Tsou -- warga asli Taiwan bagian selatan.

Tak ada biaya yang dikenakan untuk wisatawan yang ingin menikmati suasana Sakura bermekaran di kas awan Alishan.

Sebab, hamparan Bunga Sakura tumbuh di beberapa titik sehingga Anda dapat memilih spot paling sempura untuk menghabiskan momen.

Namun, tak ada kendaraan umum yang dapat membawa Anda menuju puncak Alishan. Satu-satunya cara ialah membawa kendaraan pribadi atau menyewanya.

Sangat jauh apabila Anda ingin berjalan kaki menuju puncak. Sebab, ketinggian bukit Alishan mencapai 1500 meter di atas permukaan laut.

"Meski demikian, ada saja orang kulit putih yang memilih jalan kaki. Biasanya perlu dua hari untuk sampai puncak," ujar Lu.

Artikel Selanjutnya
Tak Hanya di Jepang, Seperti Ini Penampakan Bunga Sakura di Taiwan
Artikel Selanjutnya
Taiwan Siap Bidik Wisatawan Muslim Indonesia