Sukses

19-2-1978: Baku Tembak Militer Mesir Vs Siprus di Bandara Larnaca

Liputan6.com, Siprus - Hari ini, 40 tahun lalu, tepatnya 19 Februari 1978, Mesir menghadapi aksi pembunuhan dan pembajakan pesawat yang dilakukan oleh dua pria bersenjata. Seorang redaktur koran ternama Mesir dan rekan Presiden Mesir Anwar Sadat bernama Youssef Sebai dibunuh di kawasan Nicosia Hilton, Siprus.

Selain dua korban, masih ada 11 orang yang disandera pelaku. Aparat Mesir mencoba bernegosiasi dengan mengizinkan kedua pelaku meninggalkan Siprus menggunakan pesawat yang dikemudikan otoritas setempat. Pelaku membajak pesawat untuk melarikan diri.

Namun, seperti dimuat BBC, tak ada negara yang mengizinkan pesawat tersebut untuk mendarat. Sehingga pesawat maskapai Cypriot Airlines DC8 itu kembali ke Bandara Larnaca, Siprus. Di waktu bersamaan, pesawat militer Mesir datang menuju bandara tersebut untuk menyelamatkan sandera.

Miskomunikasi terjadi antara aparat Siprus dan tentara Mesir. Mesir bermaksud menyelamatkan sandera, namun aparat Siprus menilai aksi tentara Mesir bisa membahayakan negosiasi dengan pembajak pesawat. Akibatnya, terjadi baku tembak antara petugas Siprus dan Mesir di Bandara Larnaca ketika pelaku dan sandera tiba di bandara.

Menurut laporan reporter BBC John Bierman, pasukan Siprus mulai melepas tembakan ke arah pasukan Mesir, hingga terjadi baku tembak selama 50 menit. Akibatnya 15 tentara Mesir tewas. Sementara Presiden Siprus Kuprianou dan pejabat senior Siprus segera dievakuasi dari menara bandara yang terkena serangan peluru.

Pasukan Mesir ketar-ketir di lokasi. Setelah pesawat militer Hercules hancur, para tentara negeri piramida terpaksa bersembunyi di balik reruntuhan pesawat. Dalam kondisi terdesak, pasukan Siprus terus menyerang.

Salah satu prajurit Mesir tergeletak menyerah, tersungkur di tanah. Dalam posisi tersebut, pasukan Siprus tetap menyerang. Tindakan ini disebut sebagai "aksi yang gila".

Baku tembak berakhir setelah Garda Nasional Siprus menguasai komando militer Mesir. Dan kru DC8 berhasil membujuk pembajak pesawat untuk melepaskan senjata mereka. Para korban segera dilarikan ke rumah sakit.

Setelah kejadian ini, hubungan Mesir dan Siprus terus memanas. Presiden Mesir Anwar Sadat menyebut Presiden Siprus Kyprianou sebagai "kurcaci politik". Sadat mengecam Siprus karena berkolusi dengan teroris karena memiliki kedekatan dengan Organisasi Pembebasan Palestina.

Presiden Kyprianou meminta maaf dan menawarkan untuk berdamai dengan Mesir. Tapi ia juga menegaskan terkait insiden di bandara, bahwa pihaknya tak bisa membiarkan pasukan Mesir bertindak semena-mena.

Sementara itu, dua pembajak pesawat diadili. Awalnya mereka divonis hukuman mati, tapi kemudian putusan berubah menjadi hukuman penjara seumur hidup.

Sejarah lain mencatat pada 19 Februari 2003, pesawat terbang militer Ilyushin Il-76 jatuh dekat Kerman, Iran, menewaskan 275 orang. 19 Februari 2006, ledakan gas metana terjadi di tambang batubara dekat Nueva Rosita, Meksiko, menewaskan 65 orang petambang.

Artikel Selanjutnya
17-2-1947: Di Tengah Perang Dingin, Siaran Radio AS Menyusup ke Uni Soviet
Artikel Selanjutnya
16-2-1923: Arkeolog Inggris Temukan Mumi Langka Penguasa Mesir Kuno