Liputan6.com, Jakarta - Semburan lumpur kembali kawasan Oro-oro Kesongo, Dukuh Sucen, Desa Gabusan, Kecamatan Jati, Kabupaten Blora, kembali meletus, Jumat (7/8/2026). Sejak pagi hingga menjelang siang, kawah lumpur panas itu lima kali memuntahkan lumpur dan gas ke udara.
Tidak ada korban dalam peristiwa kali ini. Namun peristiwa ini memunculkan pertanyaan yang sejak dulu belum terpecahkan sepenuhnya. Mengapa Oro-oro Kesongo masih saja meletus dalam beberapa waktu terakhir?
Fenomena tersebut bukan lagi kejadian yang bisa disebut insidental. Dalam kurun enam tahun terakhir, aktivitas di Oro-oro Kesongo berulang kali meningkat. Hampir setiap kali letusan terjadi, kawasan itu menjadi pusat perhatian karena selalu menyimpan potensi bahaya, mulai dari semburan lumpur panas hingga gas beracun yang tidak kasatmata.
Advertisement
Berdasarkan data yang dihimpun Liputan6.com, untuk hari ini aktivitas pada Jumat pagi dimulai sekitar pukul 06.30 WIB. Semburan pertama mencapai ketinggian sekitar 10 hingga 15 meter. Setelah itu, letusan kembali terjadi pukul 06.50 WIB, disusul sekitar pukul 07.15 WIB. Hingga pukul 11.24 WIB, total lima kali letusan tercatat terjadi dengan durasi sekitar lima menit setiap semburan.
Kapolsek Jati AKP Suyadi kepada awak media mengatakan intensitas letusan kali ini masih tergolong sedang dan lebih kecil dibanding sejumlah peristiwa pada tahun-tahun sebelumnya.
"Sampai pukul 11.24 WIB sudah terjadi lima kali semburan. Kami mengimbau masyarakat tidak mendekati lokasi karena potensi gas beracun masih ada," ujarnya.
Polisi telah memasang garis pembatas di sekitar titik semburan. Hal tersebut sebagai langkah antisipasi agar masyarakat tidak memasuki zona berbahaya.
Â
Beda Gunung Lumpur dan Gunung Api
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9318606/original/001717800_1786110353-1786107725520.jpg)
Meski terlihat seperti kolam lumpur biasa, para ahli geologi menyebut Oro-oro Kesongo merupakan mud volcano atau gunung lumpur. Berbeda dengan gunung api yang digerakkan magma, semburan di Kesongo dipicu tekanan gas dari lapisan bawah permukaan bumi. Gas tersebut mendorong lumpur, air, dan material lain keluar melalui rekahan tanah.
Persoalannya, hingga kini belum ada teknologi yang mampu memprediksi secara akurat kapan tekanan gas itu akan meningkat dan memicu letusan. Aktivitasnya bisa berubah hanya dalam hitungan jam, dipengaruhi oleh dinamika tekanan bawah permukaan yang terus berlangsung.
Kondisi itulah yang membuat Oro-oro Kesongo memiliki karakter berbeda dengan objek wisata alam pada umumnya. Saat tenang, kawasan tersebut tampak aman dan sering didatangi pengunjung. Namun ketika tekanan gas meningkat, kawasan yang sama dapat berubah menjadi lokasi berisiko tinggi.
Sejak 2020, pola aktivitasnya menunjukkan kecenderungan berulang. Letusan besar pernah mengubur belasan ekor kerbau, menyebabkan warga mengalami keracunan gas, hingga memicu penutupan kawasan oleh aparat. Beberapa tahun kemudian, peristiwa serupa kembali terjadi dan bahkan menelan korban jiwa akibat dugaan paparan gas beracun.
Fakta itu menunjukkan bahwa persoalan utama bukan semata-mata tinggi rendahnya semburan. Ancaman terbesar justru berasal dari gas beracun seperti hidrogen sulfida (Hâ‚‚S) dan gas lain yang dapat keluar bersamaan dengan letusan.
Dalam konsentrasi tinggi, gas tersebut mampu menyebabkan seseorang kehilangan kesadaran hanya dalam waktu singkat, terutama jika berada di cekungan dengan sirkulasi udara yang buruk.
Â
Â
Advertisement
Bahaya untuk Warga
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9318608/original/023289500_1786110353-1786107754082.jpg)
Sejak dulu, Oro-oro Kesongo selalu menarik perhatian warga yang ingin menyaksikan langsung fenomena alam tersebut. Namun, jangan mencoba-coba karena berbahaya.
Peristiwa Jumat pagi kembali memperlihatkan pola yang sama. Aparat harus memasang garis polisi dan menghalau masyarakat agar tidak mendekati pusat semburan.
Langkah itu dilakukan bukan karena tingginya lumpur yang menyembur, melainkan untuk mengantisipasi bahaya yang tidak terlihat. Pertanyaan berikutnya adalah, apakah mitigasi di kawasan ini sudah cukup?
Hingga kini, pengamanan umumnya masih dilakukan setelah aktivitas meningkat. Padahal, Oro-oro Kesongo telah berkali-kali menunjukkan pola letusan berulang dalam beberapa tahun terakhir.
Fenomena tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, aparat keamanan, hingga lembaga yang menangani kebencanaan dan geologi.
Kajian berkala, sistem pemantauan yang lebih modern, pemasangan papan informasi mengenai bahaya gas beracun, hingga penetapan zona aman permanen dinilai menjadi langkah penting agar setiap aktivitas di kawasan itu tidak lagi hanya mengandalkan respons setelah letusan terjadi.
Letusan pada hari ini memang belum sebesar peristiwa-peristiwa sebelumnya. Namun, setiap dentuman yang terdengar dari perut bumi di kawasan itu bukan sekadar fenomena alam, melainkan peringatan bahwa ancaman yang sama masih terus hidup di bawah permukaan tanah.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8672103/original/092674300_1782711428-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-29T123620.816.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8810983/original/080616100_1782907341-cek_fakta_-_bibit_ayam_dan_ikan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4529326/original/039044100_1691417008-IMG_4489.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9318452/original/095120500_1786096948-Screenshot_2026-08-07_170145.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9318607/original/013492500_1786110353-1786107737537.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9318579/original/055055600_1786105589-IMG_20260807_144428.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4083391/original/042301700_1657334075-ilustrasi_pemerkosaan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4068805/original/076248000_1656588418-ilustrasi_pemerkosaan.jpg)