Sukses

15-1-1970: Awal Muammar Khadafi Memimpin Libya Hingga 41 Tahun

Liputan6.com, Tripoli - Nama Muammar Khadafi dikenal dunia sebagai pemimpin diktator di Libya yang terhitung sebagai penguasa negara dengan sistem non-kerajaan terlama sejak Abad 20. Ia memimpin Libya hingga 41 tahun. Khadafi menyebut dirinya sebagai 'the Brother Leader', 'Guide of the Revolution', dan 'King of Kings (Raja segala raja).

Kepemimpinan dengan waktu kekuasaan yang lama tersebut bermula dari hari ini, 48 tahun silam, 15 Januari 1970. Pada hari itu, Khadafi memproklamirkan diri sebagai Perdana Menteri Libya yang didukung Dewan atau Kongres Rakyat, badan sejenis DPR/MPR, setelah mengkudeta Raja Idris pada September 1969.

Khadafi lahir di sebuah tenda di Gurun Libya. Ia merupakan anak seorang petani Bedoin -- kelompok penduduk di gurun yang hidup nomaden, berpindah-pindah. Meski hidup serba sulit, ia mendapat kesempatan untuk berkuliah di univesitas dan akademi militer. 

Dikutip dari History.com, pria bernama lengkap Muammar Abu Minyar al-Khadafi ini sangat tekun menjalankan pendidikannya dan lulus dengan hasil yang memuaskan. Ia kemudian berkarir di dunia militer Libya dan melesat naik di jajaran petinggi militer.

Di puncak posisi militer tersebut, Khadafi bertekad untuk menggulingkan sistem monarki kerajaan Libya yang saat itu dipimpin oleh Raja Idris. Dan tekad tersebut terwujud. Kudeta berhasil dilakukan oleh Khadafi terhadap Raja Idris pada 1 September 1969. Demikian, Today In History Liputan6.com pada Senin (15/1/2018)

Sejak saat itu, Khadafi memulai tatanan pemerintahan baru sebagai sebuah negara dengan perpaduan ideologi Islam Ortodox, Sosialisme Revolusioner, dan Nasionalisme Arab, serta membentu kediktatoran anti-Barat.

Pada tahun 1970, Khadafi memindahkan basis militer AS dan Inggris di sekitar Libya. Juga mengusir orang-orang Italia dan warga Libya keturunan Yahudi. Pada 1973, ia menasionalisasi ladang minyak milik asing. Selain itu, Khadafi mengembalikan sejumlah aturan dalam hukum fiqih Islam, seperti larangan minuman beralkohol dan perjudian.

Dalam rangka mewujudkan ambisi untuk menguatkan negara Arab, Muammar Khadafi menjalin hubungan dengan negara tetangga, terutama Mesir. Namun saat memulai proses perdamaian dengan Israel, hubugan Mesir dengan Libya menjadi renggang.

 

 

1 dari 2 halaman

Barat Mulai Memusuhi Khadafi Hingga Kematiannya... 

Semasa memerintah, Khadafi disebut membiayai sejumlah grup militan di seluruh dunia, seperti kelompok gerilyawan Palestina dan Filipina. Pada tahun 1980-an, Barat menyebut Khadafi mendukung serangan teroris di Eropa, termasuk pengeboman di balai seni Jerman Barat. Sebagai balasan aksi teror, AS menggempur Tripoli, ibukota Libya, hingga mengakibatkan Khadafi terluka dan anak perempuannya tewas.

Pada akhir tahun 1990, Libya mendapat sanksi dari Eropa lantaran diduga bertanggung jawab atas ledakan pesawat di Lockerbie, Skotlandia. Dalam kondisi makin terisolasi, Khadafi mencoba menjalin hubungan dengan negara Afrika non-Islam, yakni Afrika Selatan.

Pada tahun 2001, Khadafi menuai kontroversi dunia lantaran menjadi salah satu pemimpin muslim yang mengecam Al-Qaeda atas tragedi WTC 9/11. Di tahun selanjutnya, Khadafi mengungkapkan kesalahannya atas pengeboman pesawat di Lockerbie dan bersedia membayar US$ 3 miliar sebagai kompensansi kepada keluarga korban pesawat.

Mulai tahun 2003, hubungan Libya dengan Barat menjadi baik. Khadafi mendapat bantuan dari pemerintahan George W Bush untuk program pembangungan senjata pemusnah massal di Libya. Perdana Menteri Inggris Tony Blair pada tahun 2004 mengunjungi Libya sebagai langkah menjalin hubungan bilateral kedua negara.

Kekuasaan Khadafi berakhir pada tahun 2011. Kamis 20 Oktober 2011 menjadi hari terakhir bagi diktator Muammar Khadafi menghirup udara segar. Pemimpin Libya yang telah berkuasa selama 42 tahun, 1969-2011, menemui ajalnya, Ia tewas di tangan pasukan oposisi yang disebut tentara Transisi Nasional Libya (NTC).

Sejarah lain mencatat pada 15 Januari 2007, Mantan kepala intelijen Iraq sekaligus saudara tiri Presiden Irak Saddam Hussein, bernama Barzan Ibrahim al-Tikriti dan mantan hakim kepala Pengadilan Revolusi bernama Awad Hamed al-Bandar dihukum gantung di Irak. 15 Januari 1973, Presiden AS Richard Nixon mengumumkan penghentian ofensif militer AS di Vietnam Utara dalam rangkaian Perang Vietnam. 

Artikel Selanjutnya
Venezuela Bebaskan Warga AS yang Ditahan Selama Dua Tahun
Artikel Selanjutnya
Donald Trump: Jika Bertemu Korut Lagi, Nanti di Singapura...