Sukses

Korut Luncurkan Rudal, Jepang Desak PBB Gelar Pertemuan Darurat

Liputan6.com, Seoul - Korea Selatan mengumumkan, tetangga dekatnya Korea Utara menembakkan sebuah rudal pada Selasa pagi. Peluru kendali tersebut melintasi langit Jepang.

Ini merupakan kali kedua dalam empat hari terakhir Korut meluncurkan rudal. Pada Sabtu 26 Agustus lalu, negeri pimpinan Kim Jong-un itu diketahui menembakkan tiga rudal jarak pendek.

Seperti dilansir The New York Times, Selasa (29/8/2017), menurut militer Korsel, rudal teranyar yang diluncurkan Korut lepas landas dari dekat Pyongyang dan terbang ke arah timur. "Rudal tersebut terbang setinggi 1.677 mil dan berada pada ketinggian 341 mil sebelum mendarat di laut," demikian ungkap pihak militer Korsel.

Terkait dengan peluncuran rudal Korut, pemerintah Jepang mengirim peringatan berupa pesan teks kepada warga dan menyarankan agar mereka berlindung. Tidak lama, Sekretaris Kabinet Jepang Yoshihide Suga menegaskan bahwa langkah Pyongyang merupakan "ancaman yang paling serius dan genting bagi Jepang".

Pejabat Korsel dan Jepang mengatakan, peluru kendali tersebut terbang di langit Pulau Hokkaido, yang terletak di utara Jepang. Ini merupakan kali pertama rudal Korut melintasi Jepang sejak 1998 dan 2009.

Melalui sebuah pernyataan yang dimuat di akun Twitter-nya, Perdana Menteri Shinzo Abe mengonfirmasi rudal ditembakkan pada pukul 05.58 waktu setempat sebelum akhirnya pecah menjadi tiga bagian dan mendarat sekitar 730 mil di lepas pantai Tanjung Erimo, Hokkaido, pada pukul 06.12.

PM Abe menegaskan bahwa pemerintahannya siap untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan demi melindungi masyarakat.

"Kami telah mengajukan protes keras ke Korut. Kami telah meminta DK PBB menggelar pertemuan darurat. Di bawah aliansi AS-Jepang yang kuat, kita akan mengambil seluruh tindakan demi memastikan keamanan warga," ujar PM Abe.

Sementara itu, di Washington, Pentagon mengatakan, "Kami dapat memastikan bahwa rudal yang diluncurkan Korut terbang di langit Jepang. Kami masih dalam proses mengidentifikasi peluncuran ini. Komando Pertahanan Ruang Angkasa Amerika Utara atau NORAD memastikan bahwa tembakan rudal Korut tidak memicu ancaman bagi Amerika Utara".

Pada saat bersamaan, ketika Korut meluncurkan rudalnya, Pasukan Bela Diri Jepang dan Angkatan Udara Amerika Serikat tengah mendemonstrasikan sistem pertahanan rudal PAC III di pangkalan udara Yokota.

Dalam sebuah konferensi pers di Yokota, Komandan Pasukan Bela Diri Udara Jepang, Letnan Jenderal Hiroaki Maehara mengatakan bahwa pihaknya tidak berusaha menembak jatuh rudal tersebut karena pemerintah tidak mendeteksi ancaman ke wilayahnya. Saat pertama kali terdeteksi, menurut Maehara, pemerintah hanya memperingatkan warga yang berada di jalur terbang rudal untuk berlindung dari bagian rudal yang kemungkinan akan jatuh.

2 dari 2 halaman

Ancaman Korut

Awal bulan ini, Korut mengancam akan meluncurkan empat rudal balistik jarak jauh, Hwasong-12, ke Guam, pangkalan utama Angkatan Udara dan Angkatan Laut AS di Pasifik. Pyongyang mengatakan, jalur rudal akan melintasi bagian selatan Jepang.

Ancaman Korut ini muncul nyaris bersamaan dengan peringatan Presiden Donald Trump bahwa AS akan mengirimkan "api dan kemarahan" jika Korut tidak mengendalikan diri. Sontak, hal ini memicu ketegangan spesifik di Semenanjung Korea. Pada 5 Agustus, DK PBB menjatuhkan sanksi baru atas Korut terkait dengan uji coba rudal antarbenuanya.

Kecemasan sedikit mereda setelah Kim Jong-un mengatakan, ia akan mengamati perilaku AS sebelum akhirnya memutuskan apakah akah menyetujui rencana peluncuran rudal ke Guam.

Sejak Kim Jong-un berkuasa pada akhir 2011, Korut telah melakukan lebih dari 80 kali uji coba rudal. Namun, peluru kendali tidak pernah mengarah ke Jepang.

Menurut para analis, Korsel bersama dengan Jepang dan Guam merupakan sasaran pertama serangan Korut jika perang meletus di Semenanjung Korea. Baik Jepang dan Guam, sama-sama merupakan rumah bagi pangkalan militer AS yang akan menjadi kunci serangan AS jika terjadi perang di Semenanjung Korea.

Peluncuran rudal Korut ini terjadi di tengah latihan militer gabungan yang melibatkan AS, Korsel, Inggris, dan Australia di Semenanjung Korea. Latihan ini ditujukan untuk mempersiapkan kemungkinan menghadapi serangan Pyongyang.

Korut sejak lama menggambarkan latihan gabungan ini sangat provokatif dan bertujuan invasi.