Ayah Pelaku Penembakan Sekolah Thailand Berlutut di Hadapan Keluarga Korban

Ayah pelaku penembakan sekolah Thailand berlutut di hadapan keluarga korban, memohon maaf atas perbuatan putranya.

Diterbitkan 11 Agustus 2026, 15:05 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Bangkok - Suasana pilu menyelimuti kuil menjelang doa jenazah Naphat Chaimar, gadis berusia 12 tahun yang menjadi salah satu korban penembakan di sekolah Thailand beberapa waktu lalu.

Dikutip dari The Guardian, Selasa (11/6/2026), ketika ayah dan ibu korban termuda dalam penembakan massal di sebuah sekolah pekan lalu tiba di sebuah kuil di utara Bangkok, sejumlah orang tua yang datang berduka menghampiri mereka untuk menyampaikan belasungkawa. Suasana berlangsung haru menjelang doa di depan peti jenazah Naphat Chaimar.

Namun, suasana berubah dalam sekejap.

Seorang pria datang dan berlutut sambil menangis. Ia menundukkan kepala dan melakukan gerakan penghormatan tradisional Thailand, wai, di hadapan pasangan yang baru kehilangan putri mereka. Pria itu adalah Nithi Yimruang, ayah dari remaja berusia 14 tahun yang melakukan penembakan tersebut. Ia datang untuk memohon maaf kepada keluarga Naphat.

Ayah Naphat, Pongthon Chaimar, membantu Nithi berdiri dengan memegang kedua lengannya. Namun, kepala Nithi tetap tertunduk karena rasa malu, bahkan ketika Pongthon menerima permintaan maafnya.

Orang tua Naphat mengatakan kepada Nithi bahwa mereka memahami dirinya juga sedang melalui masa yang sangat sulit. Putranya, Patchat Yimruang, telah menembak kakek dan neneknya hingga tewas sebelum kemudian menewaskan enam orang dan melukai lebih dari 30 lainnya di sekolah bergengsi Debsirin Nonthaburi, di barat laut Bangkok. Remaja tersebut kemudian mengarahkan senjata ke dirinya sendiri.

“Saya mengalami begitu banyak emosi sekaligus. Saya merasa bersalah dan patah hati karena saya juga mengalami kehilangan. Saya kehilangan anak saya, sekaligus orang tua saya. Dan melihat ayah gadis kecil itu begitu baik dan memahami saya membuat saya merasa semakin bersalah,” kata Nithi kepada The Guardian sebelum upacara pemakaman.

Nithi mengaku masih tidak memahami alasan putranya melakukan tindakan tersebut. Ia kini harus menghadapi kenyataan bahwa kekerasan itu dilakukan oleh darah dagingnya sendiri.

Sebelum upacara pemakaman pada Senin dimulai, Nithi meninggalkan Kuil Wat Lat Pla Duk di Provinsi Nonthaburi.

Duka dan Karangan Bunga Kerajaan

Patchat menggunakan senjata milik kakeknya untuk melakukan serangan. Ia tinggal bersama kakek dan neneknya sejak orang tuanya berpisah ketika berusia dua tahun.

Meski demikian, Nithi mengunjunginya setiap akhir pekan dan mengantarnya mengikuti les tambahan.

“Bagi saya, dia adalah nomor satu. Namun, dia adalah anak yang pendiam dan tertutup. Dia tidak banyak bicara dan biasanya menyimpan semuanya sendiri. Menjelang akhir, dia bahkan menjadi lebih pendiam dari sebelumnya,” ujar Nithi.

“Saya cukup sering bertanya bagaimana keadaan sekolahnya, dan dia hanya menjawab, ‘biasa saja’. Saya bertanya bagaimana kelasnya berjalan, dan dia hanya menjawab, ‘biasa saja’," ungkapnya.

“Namun sekarang, tidak ada lagi cara bagi saya untuk mengetahui atau menanyakannya," lanjut dia.

Penembakan tersebut mengguncang seluruh negeri, dengan raja dan perdana menteri memimpin ungkapan duka bagi para korban.

Di dalam paviliun kuil di Provinsi Nonthaburi, peti jenazah Naphat diapit karangan bunga berwarna kuning dari Raja Maha Vajiralongkorn serta karangan bunga berwarna ungu dan merah muda dari Ratu Suthida. Karangan bunga juga dikirim oleh Perdana Menteri Anutin Charnvirakul dan sejumlah menteri kabinet lainnya.

Istana mengumumkan pada Minggu bahwa raja memberikan perlindungan kerajaan kepada para korban, keluarga, dan kerabat mereka. Dengan keputusan tersebut, seluruh korban luka akan dirawat sebagai pasien di bawah perawatan kerajaan. Dukungan kerajaan juga diberikan untuk prosesi pemakaman dan kremasi para korban yang meninggal.

 

“Yang Paling Saya Rindukan adalah Mimpi-Mimpinya”

Pada Senin, ratusan pelayat memenuhi kuil, termasuk wakil perdana menteri, guru, orang tua, dan teman-teman Naphat. Mereka berkumpul di ruangan tempat peti jenazah Naphat berada, sementara para biksu melantunkan doa.

Karangan bunga dan kursi bahkan begitu banyak hingga memenuhi area tertutup di luar ruangan.

Para pelayat membakar dupa di dekat foto-foto yang memperlihatkan perjalanan hidup Naphat, dari seorang bayi hingga tumbuh menjadi gadis muda yang percaya diri di ambang masa remaja. Dalam foto-foto itu, ia terlihat bermain gitar dan tampil di atas panggung.

Naphat baru tiga bulan bersekolah di tempat tersebut. Ia merupakan bagian dari angkatan terbaru siswa kelas 7.

Ayahnya mengatakan hal yang paling dirindukan dari putrinya adalah impian yang dimilikinya.

“Yang paling saya rindukan darinya, dan yang paling dirindukan oleh saya dan ibunya, adalah mimpi-mimpinya,” kata Pongthon.

Setelah tahun ajaran baru dimulai, Naphat mengikuti kompetisi tari dan lomba busana tradisional Thailand. Menjelang akhir bulan itu, ia juga dijadwalkan mengikuti kompetisi pemandu sorak.

“Ia mengikuti semua kegiatan itu, dan ia mampu melakukan semuanya. Ia benar-benar menikmati mengekspresikan dirinya,” ujar Pongthon.

Ketika mendengar kabar penembakan di sekolah, orang tua Naphat terus menelepon ponsel putri mereka. Kemudian, seorang petugas menelepon dan memberi tahu bahwa Naphat berada dalam kondisi kritis di Rumah Sakit Phranangklao.

Naphat meninggal pada Sabtu. Kepergiannya membuat jumlah korban tewas menjadi sembilan orang, termasuk pelaku penembakan.

Guru Naphat, yang tidak ingin disebutkan namanya, mengenang siswinya sebagai sosok yang suka menghibur orang lain. Kepada The Guardian, ia mengatakan Naphat sebenarnya tidak seharusnya berada di gedung tempat penembakan terjadi. Ia berada di sana untuk mendapatkan vaksinasi bersama sejumlah siswa lainnya.

Naphat sedang berjalan keluar dari ruangan tempat ia menerima vaksinasi ketika terkena tembakan.

Ayahnya, Pongthon, mengatakan tidak menyalahkan pihak sekolah.

“Kalau disederhanakan, saya pikir sesuatu seperti ini bisa terjadi di mana saja. Di mana pun di dunia,” katanya.