Sukses

Desa Para Miliuner di Swiss Menolak 10 Pengungsi Suriah

Liputan6.com, Bern - Ada banyak hal baik tentang Swiss: keju lezat, cokelat yang lumer di mulut, pisau lipatnya yang serbaguna, jam, markas Palang Merah Internasional, juga Pegunungan Alpen yang menjulang indah.

Namun, penduduk desa ini mungkin tak mewakili keseluruhan masyarakat Swiss.

Oberwil-Lieli, salah satu desa paling kaya di Eropa memilih untuk membayar denda sebesar 200 ribu pound sterling atau Rp 3,9 miliar daripada menerima kedatangan 10 pengungsi dari Suriah.

Ada 300 orang yang masuk kategori miliarder di desa itu -- dari populasinya yang hanya 2.200.

Masyarakatnya memilih 'Tidak' dalam referendum yang digelar terkait pengungsi tersebut. Hasil akhirnya 52 persen melawan 48 persen.

Sebelumnya, Pemerintah Swiss berkomitmen menerima 50.000 warga Suriah yang lari dari negeri mereka yang dilanda perang saudara dan dihantui kekejaman ISIS.

"Sederhana saja, kami hanya tak ingin mereka di sini," kata salah satu warga kepada MailOnline, seperti dikutip dari News.com.au, Senin (30/5/2016).

"Kami bekerja keras sepanjang hidup demi mewujudkan desa yang indah ini. Kami tak sesuai untuk menerima para pengungsi. Mereka juga tak akan cocok di sini."

Angkatan Laut (AL) Italia merilis gambar sebuah perahu yang berisi para migran terbalik di lepas pantai Libya, Rabu (25/5). Tujuh orang tewas tenggelam, sementara 500 orang lainnya berhasil diselamatkan dalam insiden tersebut (STR/AFP MARINA MILITARE/AFP)


Warga mengaku khawatir, para perempuan dan anak-anak akan berisiko menjadi korban kekerasan seksual yang dilakukan para pendatang. Menurut penduduk, kehidupan mereka yang damai -- dengan angka kriminalitas nol -- juga bisa terganggu.

Namun, salah satu warga yang tak ingin disebut namanya mengaku menyesalkan, polemik yang terjadi justru membuat desanya dicap egois dan rasis.

Ieishmaniasis, sejauh ini, mengkontaminasi Suriah, khususnya wilayah kekuasaan ISIS seperti Raqqa, Deir al-Zour dan Hasakah (Reuters/Dailymail) .


"Alangkah baiknya jika kita melakukan sesuatu  untuk membantu sesama yang ditimpa kemalangan,"kata ibu dua anak itu. "Namun, apa yang terjadi membuat kami seakan-akan tak peduli pada orang lain dan hanya peduli dengan diri kita sendiri."

Andreas Glarner, pemimpin desa membantah, penolakan tersebut didasari alasan rasialis.

Dia mengatakan, warga tak tahu apakah pengungsi itu datang dari Suriah atau 'imigran bermotif ekonomi' dari negara lain.

"Benar, pengungsi Suriah harus dibantu. Namun, lebih baik jika mereka ditangani di kamp dekat kampung halaman mereka," kata dia.

"Uang (denda) itu bisa dikirimkan untuk membantu mereka, namun jika kami menampung mereka, itu pesan yang salah. Pengungsi lain akan datang dengan risiko nyawa menyeberangi lautan atau membayar penyelundup manusia untuk membawa mereka."

Artikel Selanjutnya
Militer Suriah: Damaskus dan Sekitarnya Sudah 'Bersih' dari ISIS
Artikel Selanjutnya
Sambangi Putin, Presiden Assad Lakukan Lawatan Mengejutkan ke Rusia