Liputan6.com, New York - Laporan mengejutkan dirilis Badan PBB untuk Anak-anak, UNICEF. Lembaga itu menguak, 1 dari 10 anak perempuan di dunia mengalami pelecehan seksual.
Sementara, 6 dari 10 anak di seluruh dunia, yang total jumlahnya mencapai 1 miliar, mengalami kekerasan fisik antara usia 2-14 tahun.
Berbekal data dari 190 negara, UNICEF mencatat bahwa seluruh anak-anak di dunia secara terus menerus dilecehkan secara fisik maupun emosional mulai dari pembunuhan, tindakan seksual, bullying, dan penegakkan disiplin yang terlalu kasar.
"Kekerasan terhadap anak-anak tak memandang batas usia, geografis, agama, etnis, dan tingkat ekonomi," kata Anthony Lake selaku direktur eksekutif UNICEF seperti dikutip dari Daily Mail, Sabtu (6/9/2014).
"Kekerasan justru terjadi di rumah mereka, sekolah dan masyarakat di mana seharusnya anak-anak merasa aman. Kekerasan bahkan dilakukan oleh anggota keluarga, guru, tetangga, dan anak-anak lainnya," tambahnya.
Laporan yang bertajuk "Hidden in Plain Sight" itu menunjukkan kasus pembunuhan menjadi penyebab utama kematian anak laki-laki usia 10-19 tahun di beberapa negara seperti di Amerika Tengah dan Selatan yakni Brasil, Panama, Venezuela, El Salvador, dan Guatemala.
Nigeria -- di mana kelompok teroris Boko Haram menculik dan mengancam akan menikahkan 200 anak sekolah pada April lalu -- menjadi negara dengan tingkat pembunuhan anak-anak tertinggi dengan 13.000 kasus pada tahun 2012 disusul Brasil dengan 11.000 kasus. Sedangkan untuk negara Eropa Barat dan Amerika Utara, Amerika Serikat memiliki tingkat pembunuhan anak tertinggi.
Menurut laporan, kekerasan seksual menyebar luas. Satu dari 3 remaja perempuan yang telah menikah -- sekitar 84 juta orang telah menjadi koban kekerasan emosional, fisik atau seksual yang dilakukan oleh suami mereka sendiri. Kekerasan oleh pasangan sendiri paling tinggi terjadi di Kongo dan Guinea.
Lebih dari sepertiga jumlah siswa berusia 13-15 tahun menjadi korban bullying di sekolah. Di Latvia dan Rumania jumlah itu meningkat menjadi 60 persen.
Dampak kekerasan pada anak-anak telah berkembang selama satu dekade terakhir. Laporan tersebut mengungkapkan sejumlah alasan mengapa tindakan ini terus terjadi.
"Kekerasan terhadap anak di beberapa negara dapat diterima secara sosial, hal tersebut dibiarkan dan tidak dilihat sebagai sesuatu yang kasar. Korban menjadi terlalu takut untuk melaporkan kejahatan yang dialaminya, sistem hukum yang ada juga tidak bisa langsung menanggapi, lembaga perlindungan anak juga sangat sedikit," demikian pernyataan UNICEF.
Ironis menghadapi kenyataan bahwa sebagian besar kekerasan justru dilakukan oleh orang-orang yang seharusnya merawat mereka dengan kasih sayang.
Susan Bissell, kepala unit perlindungan anak UNICEF mengatakan, "kekejaman mengerikan dialami anak di mana-mana setiap harinya di dunia. Semua negara harus didesak untuk menanggulangi masalah serius ini."
Laporan tersebut menyebutkan hanya ada 39 negara di seluruh dunia yang memiliki perlindungan anak-anak secara hukum.
UNICEF menjabarkan 6 langkah untuk mencegah dan menanggapi kekerasan pada anak. Langkah-langkah tersebut termasuk memberikan dukungan kepada keluarga dan pengasuh dengan harapan dapat mengurangi terjadinya kekerasan dalam rumah dan pelecehan seksual. (Imelia Pebreyanti)
Baca juga: `Wasiat` Terlupakan dari Kuburan Arie Hanggara...
UNICEF: 1 dari 10 Anak Perempuan Alami Pelecehan Seksual
"Kekerasan terhadap anak-anak tak memandang batas usia, geografis, agama, etnis, dan tingkat ekonomi."
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/733237/original/034292200_1409975806-4sept14hpevac.jpg)
Perbesar
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
Sixtainability
- Subholding Gas Tekan Emisi 29 Ribu Ton CO2 dari Efisiensi Energi14 jam yang lalu
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3559193/original/024993600_1630573027-vlcsnap-2021-09-02-11h09m01s068__2_.jpg)
- RPTRA Kebon Sirih, Oase Hijau di Tengah Padatnya Jakarta1 hari yang lalu
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385978/original/063727200_1793288759-IMG-20261029-WA0009.jpg)
- Sektor Kelistrikan Bidik Hidrogen dan Amonia untuk Tekan Emisi2 hari yang lalu
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385027/original/054806600_1793210212-WhatsApp_Image_2026-10-27_at_8.55.27_PM.jpeg)
- BRI Salurkan KUR Rp144,59 Triliun ke 2,76 Juta Debitur, Sektor Produksi Mendominasi3 hari yang lalu
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9384251/original/014376200_1793163977-WhatsApp_Image_2026-10-26_at_16.11.48.jpeg)
- Cegah Perubahan Iklim, Badan Geologi Petakan Lokasi Penyimpanan Karbon3 hari yang lalu
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5193655/original/000476600_1745236051-ChatGPT_Image_Apr_21__2025__06_46_46_PM.jpg)
- Ketika Antibiotik Tak Lagi Mempan, AI Bikin Virus untuk Bunuh Infeksi Kronis5 hari yang lalu
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4058765/original/090496100_1655735658-Vaksinasi_Flu.jpg)
- Abrasi dan Rob Ancam 400 Hektare di Batang, 1.000 Mangrove Ditanam1 minggu yang lalu
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381694/original/075241200_1792850777-IMG-20261023-WA0078.jpg)
- PHE Bidik Peluang Indonesia Jadi Hub Penyimpanan Karbon Asia1 minggu yang lalu
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381185/original/054329400_1792762607-IMG-20261023-WA0048.jpg)
- Limbah Dibidik Jadi Sumber Energi Rendah Karbon1 minggu yang lalu
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360246/original/072582700_1790602854-1000446717.jpg)
- Startup Ini Klaim Sembuhkan Infeksi Pakai Virus Buatan AI, Ilmuwan Minta Bukti1 minggu yang lalu
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335798/original/047657000_1788064938-AI.jpg)
- Cerita Puluhan Istri Petani di Sorong Ubah Jantung Pisang Jadi Abon1 minggu yang lalu
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379459/original/051652600_1792631921-WhatsApp_Image_2026-10-21_at_12.39.32.jpeg)
- Menyemai Harapan dari Limbah Kelapa Lewat Karya Kreatif Komunitas Disabilitas2 minggu yang lalu
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4160798/original/079359000_1663319947-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360581/original/074488200_1790655511-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-29T111631.534.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360712/original/030827900_1790662146-cek_fakta_--_BLT_UMKM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261063/original/026293200_1781677316-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-17T130056.370.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1849025/original/048768400_1517211073-20180128-Gaya-Super-Cuek-Pink-di-Panggung-Grammy-AP-6.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4887995/original/062540200_1720596126-AP24190447290414.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4945879/original/007570600_1726560771-fotor-ai-2024091714533.jpg)