Stella Christie Bahas Stephen Hawking, Singgung Aksesibilitas Buka Peluang bagi Disabilitas

Wamendiktisaintek Stella Christie mengungkapkan aksesbilitas memungkinan individu berkembang seperti Stephen Hawking.

Diterbitkan 24 Oktober 2026, 07:40 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie, mengatakan dukungan aksesibilitas memungkinkan potensi individu berkembang dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Stella menegaskan bahwa aksesibilitas bukan sekadar pemenuhan hak penyandang disabilitas. Aksesibilitas juga membuka peluang kontribusi mereka bagi kemajuan ilmu pengetahuan.

“Kesempatan dan akses bagi penyandang disabilitas bukanlah kebutuhan penyandang disabilitas semata. Dunia juga membutuhkan akses tersebut agar potensi dan pemikiran mereka dapat berkembang,” ujar Stella dalam acara Sosialisasi Pembentukan Unit Layanan Disabilitas (ULD) di Perguruan Tinggi, di Universitas Kristen Krida Wacana (UKRIDA) Jakarta pada Selasa (20/10/2026).

Stella mencontohkan ilmuwan Stephen Hawking yang mengidap Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS), yaitu penyakit saraf motorik progresif. Kondisi itu membuat pergerakan Stephen Hawking terbatas tapi pria itu tetap menghasilkan karya ilmiah penting.

Menurutnya, dukungan aksesibilitas memungkinkan potensi individu berkembang dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

 “Jika Cambridge University tidak menyediakan fasilitas yang diperlukan Stephen Hawking, dunia bisa kehilangan pemikiran penting tentang alam semesta. Karena itu, aksesibilitas merupakan investasi bagi kemajuan ilmu pengetahuan,” tutur Stella.

Stella menilai aksesibilitas pendidikan tinggi juga berkaitan dengan pengembangan sumber daya manusia. Menurutnya, kualitas sumber daya manusia menjadi faktor penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi suatu negara.

“Perkembangan ekonomi hanya bisa dicapai melalui kualitas sumber daya manusia yang tinggi. Investasi terhadap sumber daya manusia menjadi penting bagi kemajuan suatu negara,” ujarnya. 

Kampus Mesti Identifikasi Hambatan Mahasiswa Penyandang Disabilitas

 

Stella menekankan bahwa perguruan tinggi perlu melakukan asesmen untuk mengidentifikasi hambatan dan kebutuhan mahasiswa penyandang disabilitas. Pemetaan yang terukur akan membantu institusi menentukan prioritas serta dukungan yang diperlukan.

“Permasalahan dan kebutuhan penyandang disabilitas perlu dikuantifikasikan. Jika kebutuhannya dirumuskan secara tepat, akan lebih mudah menentukan dukungan nyata yang diperlukan,” kata Stella.

Dalam kesempatan itu, ada mahasiswa tuli yang memperlihatkan pentingnya akses informasi. Ia berharap informasi kampus tidak hanya disampaikan melalui suara, tetapi juga tulisan dan bentuk komunikasi lainnya.

“Kuliah tidak hanya terkait bagaimana belajar di kelas, menulis, dan mendapatkan nilai. Saya juga ingin mengikuti kegiatan lain di kampus dan mengembangkan diri seperti mahasiswa lainnya,” ujar mahasiswa tersebut.