Indonesia Berpeluang Jadi Pusat Likuiditas Kripto Asia Tenggara

Indonesia berpeluang menjadi pusat likuiditas aset kripto Asia Tenggara, tetapi perlu memperkuat builders, likuiditas, dan regulasi.

Diterbitkan 17 Agustus 2026, 15:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk memperkuat posisi sebagai pusat likuiditas aset kripto atau liquidity hub di Asia Tenggara. Besarnya aktivitas pasar domestik menjadi modal penting, tetapi peluang tersebut perlu diikuti penguatan ekosistem, inovasi, likuiditas, serta kepastian regulasi.

Vice President of Business Development Indodax, James Eugene, mengatakan Indonesia telah menjadi salah satu pasar yang menarik perhatian proyek blockchain global.

“Mereka (proyek global) melihat Indonesia sebagai pasar yang memiliki potensi besar dan likuiditas yang kuat. Namun, likuiditas sendiri jauh lebih kompleks karena melibatkan banyak aktor, sehingga diperlukan sinergi untuk mengembangkan produk dan ekosistem bersama” ujar James dalam keterangan tertulis, Senin (17/8/2026).

Menurut James, besarnya minat terhadap pasar Indonesia dapat menjadi titik awal untuk membangun peran yang lebih besar di kawasan. Namun, likuiditas tidak hanya bergantung pada aktivitas perdagangan di bursa aset kripto.

Ada banyak pihak yang terlibat, mulai dari proyek blockchain, exchange, investor, hingga penyedia infrastruktur. Karena itu, diperlukan kerja sama antarpelaku untuk membangun ekosistem yang mampu mendukung pertumbuhan pasar.

Meski peluangnya besar, Indonesia juga perlu menjaga keseimbangan antara perkembangan inovasi dan kepatuhan terhadap aturan.

 

Dua Aspek yang Perlu Diperkuat

James menilai perlindungan konsumen tetap menjadi salah satu pertimbangan utama ketika proyek dan produk aset digital baru masuk ke Indonesia.

“Yang perlu dilakukan adalah menemukan sweet spot antara regulasi dan inovasi. Kita mencoba mendorong likuiditas, terutama di Indonesia, tetapi tentu saja kita juga harus memperhatikan regulasi. Perlindungan konsumen benar-benar menjadi salah satu hal terbesar yang harus diperhatikan,” ujarnya.

Menurut James, setidaknya ada dua aspek yang perlu diperkuat jika Indonesia ingin berkembang menjadi crypto hub di Asia Tenggara.

Pertama adalah keberadaan lebih banyak builders, yakni pengembang yang mampu menciptakan produk dan infrastruktur blockchain dengan standar global.

Kedua adalah likuiditas yang dapat menghubungkan berbagai bagian dalam ekosistem aset kripto.

“Kita membutuhkan lebih banyak builders. Yang kedua selalu mengenai likuiditas. Likuiditas dibutuhkan oleh proyek, exchange, dan seluruh rails dalam ekosistem blockchain. Venture capital juga memiliki peran penting untuk mendukung pertumbuhan pasar secara keseluruhan,” jelasnya.

Kehadiran modal ventura juga dinilai penting untuk membantu proyek dan perusahaan berkembang sehingga ekosistem aset digital Indonesia semakin kuat.

 

Kepastian Regulasi

Selain builders dan likuiditas, kepastian regulasi menjadi faktor penting untuk menarik perusahaan dan investor institusi global.

James mengatakan Indonesia sebenarnya telah memiliki regulasi yang mengatur aset digital. Namun, pelaku industri membutuhkan kejelasan mengenai arah aturan dan infrastruktur hukum dalam jangka panjang.

“Yang penting adalah kepastian mengenai bagaimana regulasi dan infrastruktur hukum akan berjalan ke depan. Bagi institusi atau perusahaan asing, hal tersebut menjadi salah satu pertimbangan ketika menentukan apakah mereka ingin membangun bisnis di Indonesia,” ujarnya.

Menurut James, Indonesia perlu terus mengembangkan produk dan infrastruktur yang dapat digunakan secara global. Pada saat yang sama, ekosistem harus mampu menciptakan kondisi yang memungkinkan likuiditas tumbuh, baik dari sisi permintaan maupun pasokan.

Dengan memperkuat builders, likuiditas, dan kepastian regulasi, Indonesia dinilai memiliki peluang untuk memainkan peran yang lebih besar dalam industri aset digital di kawasan.