Proyek Kripto Rugi Rp 18 Triliun Gara-Gara Peretasan

Blockaid mencatat periode semester pertama 2026 mengalami jumlah peretasan terbanyak, merujuk pada jumlah insiden.

Diterbitkan 29 Juli 2026, 12:26 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Blockaid menyebutkan, berbagai proyek kripto mengalami kerugian lebih dari US$ 1 miliar atau Rp 18,08 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 18.080). Hal itu akibat peretasan selama paruh pertama 2026.

Mengutip the block, Rabu, (29/7/2026) dalam laporan yang diterbitkan pada Selasa pekan ini, Blokaid menyebutkan periode semester pertama 2026 sebagai periode enam bulan dengan jumlah peretasan terbanyak yang pernah tercatat, merujuk pada banyaknya insiden, bukan nilai aset yang dicuri.

Total kerugian dalam nilai dolar AS masih berada di bawah angka tahun sebelumnya, yang saat itu membengkak akibat insiden eksploitasi Bybit senilai US$ 1,5 miliar atau Rp 27,12 triliun.

“Paruh pertama 2026 merupakan periode penting bagi keamanan onchain,” tulis perusahaan tersebut dikutip dari the block.

Perseroan menyebutkan, hanya dalam enam bulan pertama saja, Blockaid memverifikasi lebih banyak insiden eksploitasi dibandingkan jumlah yang tercatat sepanjang 2025.

Peretas yang terkait dengan Korea Utara bertanggung jawab atas sebagian besar dana yang dicuri selama paruh pertama 2026. Blockaid mengaitkan insiden eksploitasi Drift senilai US$ 285 juta atau Rp 5,15 triliun dan eksploitasi KelpDAO senilai US$ 292 juta atau Rp 5,27 triliun dengan pihak-pihak yang berafiliasi dengan Korea Utara (DPRK).

Blockaid memperkirakan serangan yang terkait dengan Korea Utara akan terus berlanjut. "Pola serangan rekayasa sosial melalui LinkedIn yang berujung pada kompromi penandatangan multisig telah menyebabkan dua dari empat insiden terbesar pada paruh pertama tahun ini, dan tidak ada alasan struktural yang mendasari berhentinya pola serangan tersebut," ungkap perusahaan itu.

 

 

Laporan Immunefi

Angka total dari Blockaid berbeda dengan statistik yang dilaporkan oleh Immunefi dalam Pembaruan Ekosistem Juni 2026. Dalam laporannya, Immunefi menyatakan proyek-proyek kripto mengalami kerugian sekitar US$ 972 juta atau Rp 17,5 triliun dari 207 insiden peretasan selama paruh pertama tahun ini; angka ini mendekati laporan Quill Audits yang mencatat kerugian sebesar US$ 935,3 juta atau Rp 16,9 triliun dari 87 insiden peretasan DeFi pada periode yang sama.

Meskipun Immunefi juga mencatat jumlah insiden enam bulanan tertinggi tahun ini, kerugian akibat eksploitasi DeFi sepanjang 2026 sejauh ini telah turun 74% dibandingkan puncak kerugian pada 2022.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual saham. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.