CryptoQuant Ramal Bitcoin Bisa Turun ke US$ 53.600, Ini Alasannya

Bitcoin sempat jatuh ke US$ 59.000. CryptoQuant menilai pemulihan tren bullish bergantung pada kembalinya permintaan pasar.

Diterbitkan 11 Juni 2026, 16:01 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Perusahaan analitik blockchain CryptoQuant mengidentifikasi level US$ 53.600 sebagai salah satu area penting yang perlu diperhatikan oleh investor Bitcoin. Angka tersebut merupakan realized price atau harga realisasi Bitcoin saat ini, yakni rata-rata harga beli seluruh pelaku pasar berdasarkan data transaksi on-chain.

Kepala Riset CryptoQuant, Julio Moreno, menjelaskan bahwa realized price selama ini menjadi indikator penting dalam menentukan titik terendah siklus pasar Bitcoin.

Dikutip dari CoinMarketCap, Kamis (11/6/2026), secara historis, harga Bitcoin cenderung mencapai titik dasar (bottom) di sekitar atau sedikit di bawah level realized price pada setiap fase pasar bearish besar. Kondisi serupa pernah terjadi saat gejolak pasar akibat runtuhnya bursa kripto FTX pada November 2022.

Kala itu, harga Bitcoin sempat menembus level realized price sebelum akhirnya kembali pulih. Karena itu, indikator tersebut kini kembali menjadi perhatian investor sebagai salah satu tolok ukur valuasi utama aset kripto terbesar di dunia tersebut.

Meski demikian, Moreno menegaskan level US$ 53.600 bukanlah prediksi pasti mengenai arah harga Bitcoin.

Ia menyebut kemungkinan Bitcoin turun ke level tersebut hanyalah salah satu skenario yang dapat terjadi berdasarkan pola historis pasar. Menurutnya, meskipun pergerakan tersebut sejalan dengan pembentukan titik terendah pada siklus sebelumnya, tidak ada jaminan harga Bitcoin akan benar-benar mencapai level tersebut.

Pekan lalu, Bitcoin sempat menyentuh level terendah baru dalam siklus bearish di kisaran US$ 59.000, hanya sekitar 9 persen di atas realized price. Namun setelah itu, harga kembali pulih dan diperdagangkan di sekitar US$ 62.150.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

 

Ciri Bearish Belum Terlihat

Selain pergerakan harga, CryptoQuant juga menyoroti melemahnya permintaan sebagai faktor yang perlu diwaspadai investor. Dalam sepekan terakhir, permintaan gabungan dari pasar spot dan kontrak perpetual futures tercatat turun hingga 652.000 Bitcoin, menjadi kontraksi mingguan terbesar sejak Januari 2022.

Di sisi lain, pertumbuhan permintaan dari dana yang diperdagangkan di bursa (ETF) Bitcoin spot dalam periode 30 hari tercatat negatif 74.000 Bitcoin. Angka tersebut menjadi yang terlemah sejak ETF Bitcoin spot pertama kali diluncurkan di Amerika Serikat pada Januari 2024.

Menurut CryptoQuant, ETF yang sebelumnya berperan menyerap tekanan jual kini justru ikut menambah pasokan bersih di pasar karena investor mulai mengurangi eksposur mereka terhadap Bitcoin.

Meski harga Bitcoin sempat turun tajam, Moreno menilai salah satu ciri utama terbentuknya dasar pasar bearish masih belum terlihat, yakni kapitulasi besar-besaran investor.

Dalam 30 hari terakhir, kerugian terealisasi (realized losses) investor Bitcoin tercatat sekitar 187.000 Bitcoin. Angka ini masih jauh lebih rendah dibandingkan 400.000 Bitcoin saat harga pertama kali turun di bawah US$ 60.000 pada Februari 2026 maupun 1,2 juta Bitcoin ketika pasar mencapai titik terendah saat krisis FTX pada November 2022.

“Tidak adanya lonjakan kerugian terealisasi pada level kapitulasi menunjukkan bahwa masih banyak pemegang Bitcoin yang berada dalam posisi untung pada harga US$ 59.000 dan belum mencapai titik psikologis untuk melakukan penjualan paksa atau panic selling,” tulis Moreno.

Ia menambahkan, meskipun Bitcoin mungkin mulai mendekati titik terendah dari sisi harga, pemulihan permintaan tetap menjadi faktor kunci agar pasar dapat kembali memasuki fase bullish.