Goldman Sachs Jadi Pemegang Terbesar ETF XRP, Nilainya Triliunan

Goldman Sachs menjadi pemegang institusional terbesar ETF XRP dengan nilai hampir USD154 juta, meski investor ritel diyakini masih mendominasi pasar.

Diterbitkan 12 Maret 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Bank investasi global Goldman Sachs kini tercatat sebagai pemegang institusional terbesar saham exchange-traded fund (ETF) XRP berbasis spot.

Data yang dibagikan analis Bloomberg Intelligence, dikutip dari Bitcoin.com, Kamis (12/3/2026), menunjukkan sejumlah perusahaan Wall Street mulai mengakumulasi posisi di produk investasi kripto tersebut. Namun, kekuatan utama di balik pertumbuhan ETF XRP diyakini masih berasal dari komunitas investor ritel yang dikenal sangat loyal.

Pada 10 Maret, analis Bloomberg Intelligence James Seyffart mengungkapkan melalui unggahan di platform X bahwa Goldman Sachs memiliki porsi kepemilikan ETF XRP terbesar pada akhir tahun lalu.

Berdasarkan data tersebut, 30 investor institusional terbesar secara kolektif memegang lebih dari USD211 juta dalam bentuk saham ETF XRP.

Dari total tersebut, Goldman Sachs sendiri menguasai hampir USD154 juta, menjadikannya investor tunggal terbesar dalam produk investasi tersebut.

ETF XRP spot memungkinkan investor mendapatkan eksposur terhadap pergerakan harga XRP tanpa harus memiliki aset kripto tersebut secara langsung. Struktur ini dinilai menarik bagi investor institusi yang ingin berinvestasi di kripto namun tetap berada dalam kerangka keuangan tradisional.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

 

Investor Ritel Diduga Mendominasi Kepemilikan

Meski Goldman Sachs memiliki porsi besar, para analis menilai sebagian besar investor ETF XRP kemungkinan berasal dari kalangan ritel.

Hal ini karena kepemilikan investor individu umumnya tidak muncul dalam laporan regulasi.

Di Amerika Serikat, hanya perusahaan investasi yang mengelola lebih dari USD100 juta dalam sekuritas tertentu yang wajib mengajukan laporan kuartalan Formulir 13F kepada Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC).

Akibatnya, banyak investor individu dan dana investasi kecil yang tidak tercatat dalam laporan publik tersebut.

“Mayoritas besar tidak mengajukan laporan 13F,” tulis Seyffart. Ia menambahkan bahwa kepemilikan institusional yang terungkap kemungkinan hanya mewakili “sebagian kecil” dari total kepemilikan ETF.

Pandangan tersebut juga disampaikan analis Bloomberg Intelligence lainnya, Eric Balchunas. Ia menilai komunitas XRP yang sangat loyal kemungkinan menjadi kekuatan utama di balik investasi ETF ini.

“Perkiraan saya, ini sebagian besar berasal dari para super fans XRP dibandingkan investor ritel biasa,” ujar Balchunas.

Secara historis, XRP memang dikenal memiliki salah satu komunitas paling besar dan vokal di pasar kripto, dengan jutaan pendukung di seluruh dunia.

 

ETF XRP Tumbuh Meski Harga Kripto Fluktuatif

Sejak peluncuran ETF XRP spot pertama oleh Canary Capital pada November 2025, produk investasi ini terus menarik minat investor.

Data dari SoSoValue menunjukkan ETF XRP telah mengumpulkan sekitar USD1,2 miliar arus masuk bersih sejak diluncurkan.

Sementara itu, total aset kelolaan (assets under management/AUM) ETF XRP kini mencapai sekitar USD1,44 miliar, menurut Bloomberg Intelligence.

Namun demikian, produk investasi tersebut juga mengalami periode volatilitas.

Pada bulan Maret, ETF XRP mencatat gelombang arus keluar terbesar, yakni sekitar USD22,19 juta dalam tiga hari perdagangan pada 5, 6, dan 9 Maret. Kondisi ini terjadi di tengah ketidakpastian pasar akibat konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

Harga XRP sendiri juga mengalami fluktuasi signifikan sepanjang tahun terakhir.

Kripto ini sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high) di level USD3,55 pada Juli 2025, sebelum memasuki periode volatilitas dan penurunan bertahap.