Bitcoin di Ambang Bahaya! Ancaman Government Shutdown AS 30 Januari Jadi Ujian Hidup-Mati Kripto

Di tengah kebuntuan anggaran di Washington, Bitcoin diprediksi akan mengalami volatilitas tinggi dengan kecenderungan melemah, mematahkan mitos "emas digital".

Diterbitkan 27 Januari 2026, 18:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pasar kripto kembali berada di ujung tanduk. Bitcoin kini menghadapi ujian berat seiring membayangnya risiko penutupan pemerintahan federal Amerika Serikat atau government shutdown yang dijadwalkan jatuh pada 30 Januari 2026.

Para anggota parlemen di Washington tengah berpacu dengan waktu untuk mencapai kesepakatan anggaran. Jika buntu, sebagian operasional pemerintah AS dipastikan akan berhenti beroperasi.

Mengapa Penutupan Bisa Terjadi?

Dikutip dari Yahoo Finance, Selasa (17/1/2026), ancaman penutupan ini muncul setelah Kongres AS gagal merampungkan rancangan undang-undang alokasi anggaran tahun fiskal 2026. Titik buntu utama terletak pada negosiasi pendanaan Departemen Keamanan Dalam Negeri.

Tanpa adanya resolusi lanjutan atau pengesahan anggaran penuh sebelum 30 Januari, aliran dana federal akan terhenti. Pelaku pasar kini memandang tanggal tersebut sebagai momen "hidup mati" yang akan menentukan arah harga aset berisiko, termasuk Bitcoin.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

 

Rekam Jejak Bitcoin

Banyak pihak menganggap Bitcoin sebagai "emas digital" yang bakal bersinar saat kondisi politik tidak stabil. Namun, data historis berkata lain. Dalam satu dekade terakhir, Bitcoin justru cenderung mengikuti tren pasar yang sedang berlangsung ketimbang menjadi aset pelindung.

Dari empat peristiwapenutupan sistem keuangan terakhir, Bitcoin justru melemah atau memperpanjang tren penurunan harga.

Hanya satu kali Bitcoin tercatat menguat saat penutupan pemerintah pada Februari 2018. Itu pun dinilai sebagai pantulan teknis karena kondisi pasar yang sudah jenuh jual, bukan reaksi langsung terhadap isu politik.

Artinya, jika tren saat ini sedang lemah, penutupan kemungkinan besar hanya akan memperparah koreksi harga.

Tekanan dari Sektor Penambang dan Investor

Kondisi internal pasar kripto sendiri sedang tidak baik-baik saja. Data dari CryptoQuant menunjukkan tekanan pada sisi produksi.

Perusahaan besar seperti CleanSpark, Riot Platforms, dan Marathon Digital dilaporkan menurunkan produksi akibat badai musim dingin yang membebani jaringan listrik AS.

Data Net Realized Profit/Loss (NRPL) menunjukkan banyak investor mulai "buang barang" di harga yang tidak menguntungkan. Ini menandakan adanya fase distribusi atau pengurangan risiko, bukan akumulasi atau aksi beli.

 

Prediksi Harga Bitcoin pada 30 Januari

Analis memprediksi jika pemerintah AS benar-benar tutup pada 30 Januari, Bitcoin akan bereaksi sebagai aset berisiko. Artinya, kemungkinan besar akan terjadi lonjakan volatilitas dengan kecenderungan harga yang merosot.

Tanpa adanya dorongan positif dari sisi permintaan dan arus modal masuk, tanggal 30 Januari akan menjadi ujian sesungguhnya bagi ketahanan kepercayaan investor kripto di awal tahun 2026 ini.

Â