Sukses

Bocah 10 Tahun Ingin Akhiri Hidupnya, Alasannya Bikin Miris

Liputan6.com, Jakarta - Di usia anak-anak yang masih muda, biasanya mereka lebih sering menghabiskan waktu dengan bermain dan merasakan bahagia. Menjadi hal yang mengejutkan bagi orangtua jika anak mereka tiba-tiba terbesit pikiran untuk mengakhiri hidup.

Itulah hal mengerikan yang pernah dialami oleh orangtua asal Singapura. Hal itu diketahui sang ibu, ketika ia menemukan catatan putrinya. Dalam catatan itu, putrinya menuliskan kalimat yang menjurus untuk mengakhiri hidupnya.

Dikutip dari World of Buzz, bocah 10 tahun itu dilaporkan merasa terpuruk dan sedih setelah bertengkar dengan ibunya. Ketika masuk ke kamarnya, gadis kecil itu kemudian menulis perasaannya, termasuk berimajinasi untuk membunuh dirinya sendiri menggunakan pisau.

Selain sedih akibat sejumlah hal, gadis itu membenci dirinya sendiri karena terus menangis. Sumber depresinya semakin bertambah karena ia merasa bahwa dirinya merupakan gadis yang jelek.

"Aku bertanya-tanya mengapa dia melahirkanku seperti ini. Pendek, gendut dan jelek. Ibu tidak suka aku menangis terus menerus. Aku penasaran bukankah sebaiknya mengambil pisau dan membunuh diriku sendiri," tulis gadis itu dalam catatannya.

 

Saksikan Video pilihan di Bawah ini:

2 dari 2 halaman

Sering dirisak oleh teman sekolahnya

Ibunya menemukan catatan putrinya setahun kemudian dan dilanda rasa panik. Oleh sebab itu, orangtuanya langsung menghubungi akademi untuk membantu emosional putri mereka.

Ketika diselediki, bocah itu ternyata punya sejumlah masalah di sekolahnya. Ia sering diejek teman-temannya karena penampilannya, sampai akhirnya tidak percaya diri. Sedangkan orangtuanya sibuk bekerja dan akhirnya menyimpan masalah itu sendirian.

Setelah menemui sejumlah konselor, gadis itu kini sudah dalam dalam kondisi emosional yang stabil. Walaupun hal ini terbilang mengerikan dialami anak-anak, sebenarnya kasus depresi sendiri memang tak mengenal usia.

Sudah menjadi kekhawatiran bagi orangtua bahwa di usia yang sangat dini seorang anak bisa mengalami hal demikian. Rupanya di Singapura tak sedikit anak telah didiagnosa dalam kasus depresi. Faktor depresi biasanya terjadi dari tekanan psikologis, stres akademik, cyber bullying, serta masalah keluarga.

 

Artikel Selanjutnya
Inspirasi Gedung Terkenal Singapura... Ini 7 Hal yang Tak Banyak Diketahui Soal Durian
Artikel Selanjutnya
Singapura Berhentikan Sementara Penyalur Tenaga Kerja yang Jual WNI via Situs Online