UEFA Ancam Boikot Piala Dunia, Desak FIFA Batalkan Penjualan Saham ke Investor Swasta

UEFA dan 55 anggotanya mengancam boikot Piala Dunia jika FIFA tetap menjual saham entitas komersial barunya, FFE, kepada investor swasta, khawatir komersialisas

OlehThomas
Diterbitkan 31 Juli 2026, 03:38 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Federasi Sepak Bola Eropa (UEFA) bersama 55 asosiasi anggotanya telah melayangkan ancaman boikot terhadap seluruh kompetisi yang diselenggarakan oleh FIFA, termasuk Piala Dunia. Langkah tegas ini diambil sebagai respons atas rencana FIFA untuk melibatkan investor swasta dalam entitas komersial barunya, FIFA Forward Enterprise (FFE).

Di bawah kepemimpinan Presiden Gianni Infantino, FIFA berencana membentuk FFE untuk mengelola hak komersial dan operasional turnamen-turnamen besar, seperti Piala Dunia pria dan wanita, serta Piala Dunia Antarklub. FIFA menargetkan pengumpulan dana sekitar 4,2 miliar dolar AS dengan menjual hingga 20% saham minoritas di FFE, yang diperkirakan memiliki valuasi mencapai 20 miliar dolar AS.

Dana yang terkumpul ini diklaim akan digunakan untuk mempercepat pendanaan pengembangan sepak bola global, khususnya bagi 211 asosiasi anggota yang sangat bergantung pada sokongan FIFA.

Untuk mendorong persetujuan, Infantino menawarkan insentif finansial berupa pembayaran satu kali sebesar 20 juta dolar AS, bahkan bisa mencapai 40 juta dolar AS, bagi asosiasi yang menyetujui proposal sebelum 19 September, jauh melampaui model pendanaan sebelumnya yang hanya 10 juta dolar AS. FIFA menegaskan akan mempertahankan kendali mayoritas 79% atas FFE serta otoritas eksklusif atas tata kelola dan keputusan olahraga.

Penolakan Tegas dan Syarat UEFA

UEFA dan seluruh 55 asosiasi anggotanya secara bulat menolak proposal FIFA tersebut. Mereka menyatakan akan menghentikan ancaman boikot jika rencana penjualan saham kepada investor swasta dibatalkan sepenuhnya. Selain itu, UEFA menuntut jaminan mengikat bahwa FIFA tidak akan pernah lagi membuka tata kelola atau kompetisinya untuk kepemilikan swasta di masa mendatang.

Dalam pernyataannya, UEFA menegaskan, "Piala Dunia bukan milik sepak bola untuk dijual" dan "jiwa serta tata kelola sepak bola bukanlah aset untuk diperdagangkan."

Kekhawatiran utama UEFA adalah komersialisasi berlebihan yang dapat mengubah sepak bola secara permanen, dengan prioritas pengembalian finansial menggeser integritas olahraga.

Kekhawatiran Transparansi dan Tekanan Investor

Kritik terhadap proposal FIFA juga datang dari konfederasi lain seperti CONCACAF dan AFC, yang menyuarakan keprihatinan atas kurangnya konsultasi dan proses yang transparan dalam penyusunan rencana ini. Dikhawatirkan, ekspektasi investor akan menciptakan tekanan harian yang berpotensi memengaruhi jadwal pertandingan, format turnamen, dan prioritas komersial.

Perusahaan investasi Thrive Eternal, anak perusahaan Thrive Capital yang didirikan oleh Joshua Kushner—saudara ipar Donald Trump—disebut sebagai calon pemimpin kelompok investor. Bank investasi JPMorgan juga berperan sebagai penasihat keuangan FIFA dalam proses ini.

Komisioner Olahraga Uni Eropa, Glenn Micallef, serta Perdana Menteri Inggris Andy Burnham turut menyuarakan keprihatinan serupa, menekankan bahwa sepak bola seharusnya tetap bertanggung jawab kepada penggemar, bukan kepada investor.

Ini bukan kali pertama Presiden Infantino menghadapi penolakan atas proposal komersialnya. Pada tahun 2018, usulan senilai 25 miliar dolar AS untuk Piala Dunia Antarklub yang diperluas dan Liga Bangsa-Bangsa global gagal akibat oposisi, terutama dari UEFA. Dua tahun kemudian, pada 2021, proposal Piala Dunia dua tahunan juga ditentang keras oleh UEFA dan CONMEBOL.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

John Stones Resmi Gabung Inter Milan, Buka Lembaran Baru usai Tinggalkan Manchester City

ThomasTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan