Kegagalan Timnas Indonesia U-23 di SEA Games 2025 Jadi Alarm Keras

Timnas Indonesia gagal lolos ke babak semifinal SEA Games 2025. Padahal berstatus sebagai juara bertahan.

OlehThomas
Diterbitkan 14 Desember 2025, 21:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Timnas Indonesia U-23 baru saja menelan pil pahit gagal mempertahankan medali emas di SEA Games 2025. Pasukan Indra Sjafri bahkan tidak bisa lolos ke babak semifinal usai terhenti di fase grup.

Indonesia harus pulang lebih awal dari Thailand setelah kalah 0-1 dari Filipina dan cuma menang 3-1 saat melawan Myanmar. Akibatnya Indonesia gagal menjadi runner-up terbaik karena kalah saing dengan Malaysia.

Hasil buruk ini menurut founder Save Our Soccer (SOS), Akmal Marhali harus menjadi momentum evaluasi total, termasuk terhadap penanggung jawab Timnas U22, Zainudin Amali, yang sejak awal mengusung target emas dan menunjuk Indra Sjafri sebagai pelatih. Padahal persiapan tim ke SEA Games 2025 diakui Amali di berbagai media, sangat singkat.

Akmal melihat Amali sebagai sosok yang bertanggung jawab atas kegagalan di SEA Games 2025. Terlebih, apa yang disampaikan Akmal tersebut, sejalan dengan unggahan Instagram anggota Exco PSSI, Arya Sinuligga yang menyatakan “minta maaf, urusan Timnas sepak bola putra untuk SEA Games, saya tidak mengerti (silakan tanya yang mengerti)”.

Dari pernyataan tersebut, jelas urusan Timnas SEA Games berada di bawah kendali Zainudin Amali.

Akmal mengingatkan, kegagalan kali ini mencatat sejarah kelam. Ini menjadi pertama kalinya Timnas SEA Games gagal lolos semifinal sejak 2009, atau yang keenam kalinya sejak Indonesia ikut SEA Games pada 1977. Menariknya, dari enam kegagalan tersebut, tiga terjadi saat Thailand menjadi tuan rumah di 1985, 2007, dan kini 2025.

“Ini bukan sekadar kalah biasa. Ini alarm keras,” tegas Akmal seperti dilansir Antara Minggu (14/12/2025) di Jakarta.

Era Kegelapan Indra Sjafri

Dari sisi kepelatihan, Akmal menyebut kegagalan ini sebagai fase terburuk Indra Sjafri di SEA Games. Setelah meraih perak pada 2019 dan emas pada 2023, Indra kini harus menerima kenyataan pahit tersingkir di fase grup. Padahal rekam jejaknya di level usia terbilang gemilang—juara Piala AFF U19 2013 dan 2024, juara Piala AFF U22 2019, hingga emas SEA Games 2023.

“Setiap orang ada zamannya. Kini, sepertinya kita memasuki era kegelapan bagi Indra Sjafri setelah sekian lama penuh bintang prestasi,” ujar Akmal.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Namun Akmal menegaskan, evaluasi tidak boleh berhenti pada pelatih. Ia menyoroti pengakuan Zainudin Amali sendiri bahwa persiapan Timnas U22 SEA Games 2025 hanya beberapa bulan, jauh dibandingkan SEA Games 2023 yang dibangun lewat proses hampir tiga tahun. “Target emas dicanangkan, tapi fondasi persiapannya jauh dari ideal. Ini kontradiksi kebijakan yang harus dipertanggungjawabkan,” kata Akmal. Menurutnya, fluktuasi prestasi adalah hal wajar dalam sepakbola, terlebih bagi negara berkembang seperti Indonesia. Bahkan negara besar seperti Italia pun bisa gagal lolos Piala Dunia berturut-turut. Namun, justru karena itu, evaluasi harus dilakukan secara menyeluruh dan jujur, bukan defensif. “Evaluasi bukan hanya mengganti pelatih, tapi membangun kembali pondasi yang roboh agar lebih kokoh,” ujarnya.   

Halaman
Show All
ThomasTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan