Inter Milan Sukses Kalahkan Kairat Almaty, Tapi Sang Pelatih Malah Mengaku Gagal, Kenapa?

Cristian Chivu secara mengejutkan mengaku tidak puas meski Inter Milan menang 2-1 atas Kairat Almaty di Liga Champions.

Diterbitkan 06 November 2025, 08:41 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Dalam pertandingan tersebut, gawang Inter akhirnya kebobolan untuk pertama kalinya di turnamen musim ini. Chivu yang kecewa berat merasa harus bekerja lebih keras, bukan para pemainnya. Ia bertekad mencari motivasi yang tepat.

"Saya perlu bekerja lebih keras, bukan para pemain. Saya harus menemukan kata-kata dan motivasi yang tepat untuk meningkatkan level konsentrasi dan sikap mereka," lanjut Chivu yang terlihat jelas kecewa.

"Saya mengambil tanggung jawab itu dan jelas harus berbuat lebih banyak daripada yang saya lakukan dalam mempersiapkan pertandingan ini selama beberapa hari terakhir," tegasnya.

Soroti Buruknya Pengambilan Keputusan 

Kritikan Chivu tidak berhenti pada soal mentalitas di awal laga. Ia juga menyoroti buruknya manajemen pertandingan saat timnya sudah unggul 2-1. Para pemain dinilai mengambil keputusan yang salah di lapangan.

Alih-alih membunuh permainan, para pemain Inter justru terus mengoper bola di antara bek tengah dan kembali ke kiper. Chivu juga menyebut timnya menjadi panik dan kekurangan ketajaman. Ini membuatnya frustrasi di pinggir lapangan.

"Saat kami unggul 2-1, kami terus mengopernya di antara bek tengah dan kemudian kembali ke kiper. Saya harus membuat mereka mengerti lebih baik, Kairat melakukan segala kemungkinan untuk menyamakan kedudukan, jadi kami seharusnya memanfaatkan lebih banyak ruang terbuka mereka," balas Chivu.

"Kami kekurangan kualitas dan ketajaman yang tepat untuk membuat keputusan yang benar. Pada satu titik, kami menjadi panik dan melakukan hal-hal di saat yang salah. Saya mengerti, saya juga seorang pemain dalam jenis pertandingan ini, tetapi saya tetap bertanggung jawab atas apa yang tidak dapat saya sampaikan kepada mereka."

Alasan Penarikan Lautaro Martinez 

Salah satu sorotan dalam laga tersebut adalah ditariknya sang kapten, Lautaro Martinez, saat jeda. Ia digantikan oleh Ange-Yoan Bonny. Chivu menjelaskan bahwa ini murni keputusan taktikal yang sudah direncanakan.

Chivu menyebut penting untuk memberi Lautaro kesempatan memimpin tim di babak pertama, dan ia berhasil mencetak gol. Setelah itu, sang kapten memang dijadwalkan istirahat. Apalagi ia terus bermain dalam enam laga terakhir.

"Sudah disepakati bahwa dia hanya akan bermain di babak pertama. Penting untuk memberinya kesempatan memimpin tim di babak pertama, dia juga berhasil mencetak gol setelah beberapa pihak mencoba menimbulkan masalah di sekitarnya karena tidak mencetak gol selama beberapa pertandingan," jelas Chivu.

"Dia menginspirasi mereka sebagai kapten, dia melakukan apa yang perlu dia lakukan, lalu setelah gol itu kami memutuskan dia harus beristirahat. Dia telah bermain hampir terus-menerus selama enam pertandingan terakhir."

Tuntutan Tinggi Sang Pelatih 

Inter Milan akan menghadapi jadwal padat sebelum jeda internasional. Mereka harus melawan Lazio asuhan Maurizio Sarri akhir pekan ini. Setelah jeda, laga besar Derby della Madonnina melawan AC Milan sudah menanti.

Meski laju tim terbilang baik di beberapa bulan pertamanya, Chivu menegaskan bahwa standarnya sangat tinggi. Ia mengaku tidak pernah puas dan merasa masih banyak hal yang bisa dilakukan lebih baik. Namun, ia tetap memuji skuadnya.

"Saya tidak pernah puas. Itu tidak berarti saya mengharapkan kesempurnaan, tetapi kami bisa melakukan beberapa hal dengan lebih baik," jawab pelatih asal Rumania itu.

"Saya akan mengambil yang baik dan buruk, karena tidak mudah mengatasi momen-momen tertentu dan menerima bekerja dengan pelatih baru setelah sekian lama, tetapi saya bekerja dengan para juara yang menginginkan musim yang hebat."

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Afdholud DzikryTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan