Bola Ganjil: Pembunuh Bayaran yang Membuat Johan Cruyff Ciut

Simak kelanjutan kisah Ramon Aguirre Suarez saat melanjutkan karier ke Spanyol.

Diterbitkan 23 Januari 2021, 00:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Saat itu ada empat tim utama di Spanyol: Real Madrid, Barcelona, Valencia, dan Atletico Madrid. Semuanya memiliki kesamaan yakni terkaparnya penyerang andalan saat menghadapi Granada.

Carlos Santillana saat itu baru berusia 21 dan dalam perjalanan menjadi legenda Real Madrid. Namun, dia harus absen tiga bulan pada awal karier bermainnya karena cedera patah rahang akibat sikut Suarez.

Duo Atletico Madrid Jose Garate dan Luis Aragones juga mengeluh atas permainan kasar Suarez. Begitu pula striker Barcelona Marcial Pinal dan Juan Asensi. "Bermain Granada seperti menjalani perang," ujar Asensi.

Reputasi Suarez membuat klub besar Spanyol menggunakan cara alternatif agar selamat dari pembantaian. Alfredo Di Stefano, ketika itu menjabat pelatih Valencia, menurunkan pemain muda setiap menghadapi Granada. Tujuannya agar pemain andalan Los Che bebas dari cedera.

Taktik tersebut kemudian diadaptasi tim lain. Johan Cruyff absen membela Barcelona, begitu pula Gunter Netzer untuk Real Madrid.

Provokator Andal

Ibarat pembunuh bayaran, Suarez memiliki target yang ingin dilukainya. Namun, dia juga piawai memprovokasi lawan.

Menghadapi Real Madrid, perlakuan kasar Suarez membuat Amancio Amaro yang biasanya tenang kehilangan emosi. Dia marah sehabis ditekel rekan Suarez, Fernando Fernandez. Amancio membalas dengan menendang kepala lawan saat kedua pemain sama-sama terjatuh. Aksinya memancing keributan pemain kedua tim.

Lalu di mana Suarez? Dia hanya melihat kejadian dari jauh dengan tangan di pinggang. Suarez sudah menyulut api dan membiarkan orang lain menjadi korban. Akhirnya Amancio dan Fernandez diusir wasit.

Insiden lain terjadi pada laga melawan Valencia yang berstatus juara Spanyol. Suarez mengirim striker Jose Claramunt ke rumah sakit saat laga baru berusia 30 menit. Dia terus mengasari pemain lawan dan melepas ciuman ke bangku cadangan Valencia setiap kali melakukannya.

Dalam laporannya, pengawas wasit menilai Suarez semestinya sudah diusir pada 10 menit awal laga. Namun dia hanya mendapat kartu kuning sepanjang laga.

Sosok lain juga jadi tumbal. Wasit yang memimpin laga disanksi karena dinilai tidak becus menjalankan tugas. Sementara Di Stefano didenda karena coba menyerang Suarez selepas pertandingan.

 

Granada Terangkat

Kontribusi Suarez membuat Granada ditakuti. Tim pun berprestasi dan menduduki peringkat enam pada 1971/1972 dan 1973/1974. Mereka tergusur ke posisi 13 musim 1972/2973 karena Suarez dibekukan usai berseteru dengan presiden klub terkait gaji.

Meski berkontribusi positif, Granada tidak memperpanjang kontrak Suarez pada 1974. Dengan berat hati dia kemudian pergi ke tim promosi lain, Salamanca, tapi hanya tampil tiga kali dalam semusim.

Suarez lalu pensiun dan pulang ke kampung halaman. Dia sempat kembali beraksi pada 1977 untuk memperkuat Lanus di tiga pertandingan.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Harley Ikhsan, Marco TampubolonTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan