Rudy Hartono Punya Ambisi Cetak Cucu Jadi Petenis Level Dunia

Rudy Hartono menyatakan ingin mengantar sang cucu, Gwen Kurniawan, menjadi petenis dunia. Apa alasannya?

Diterbitkan 26 Maret 2018, 22:10 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Apalagi Indonesia masih menjadi satu di antara kekuatan utama bulutangkis dunia. Pemain-pemain Indonesia masih rutin merengkuh berbagai gelar di kancah bulutangkis, mulai level rendah hingga yang bergengsi seperti Indonesia Open, All England, SEA Games, Asian Games, hingga Olimpiade. 

Apa yang membuat Rudy begitu yakin mendukung Gwen berkiprah di ajang tenis? 

"Semua olahraga pada dasarnya sama saja. Kalau di olahraga permainan seperti bulutangkis atau tenis mesti punya senjata dan kembangkan senjatanya itu selama 10 tahun. Kalau sudah matang senjata itu, kembangkan terus," papar Rudy. 

"Kalau di bulutangkis kan senjatanya gampang, kalau tidak smes, ya netting, atau defense juga bisa. Kalau di tenis, misal senjatanya groundstroke yang forehand, ya sudah itu dilatih saja terus. Namun, ada faktor lain yang tak boleh dilupakan, ya pemain itu sendiri," sambung Rudy. 

Gwen Kurniawan kini sudah tiga tahun serius berlatih tenis. Rudy menilai permainan sang cucu menunjukkan tanda-tanda positif untuk terus dikembangkan. Gwen menunjukkan adaptasi yang bagus dan bisa menerapkan instruksi-intruksi yang diberikan sang pelatih. Pukulannya juga sudah terarah. 

 

Terinspirasi Li Na

Namun, sesuai dengan program yang disusunnya sejak awal, dia mengevaluasi serius perkembangan sang cucu setelah genap 10 tahun meniti karier di tenis. Jika tak ada perkembangan signifikan, Rudy tak akan memaksakan diri. 

"Kalau 10 tahun tidak bisa berkembang, berarti memang tidak bisa," tegas Rudy. 

Saat ditanya seberapa tinggi batas impiannya untuk sang cucu, Rudy memberikan jawaban realistis.  "Paling tidak dia bisa mewakili Indonesia di kancah tenis dunia. Saya yakin dia bisa melakukannya, asal dididik dengan benar," kata Rudy Hartono.

Impian Rudy mencetak Gwen Kurniawan menjadi petenis dunia, rupanya juga termotivasi oleh sosok Li Na. Perempuan asal China tersebut merupakan satu di antara petenis Asia yang mampu berbicara banyak di pentas elite tenis dunia. 

Li Na, yang kini telah pensiun, mengoleksi dua gelar grand slam di sepanjang kariernya, yaitu juara Wimbledon pada 2011 dan kampiun Australia Terbuka pada 2014. 

"Li Na saja bisa juara. Padahal dia dulu pernah bermain bulutangkis, orang tuanya juga meminta dia berkarier di bulutangkis karena peluang juara dunia lebih terbuka. China kan salah satu kekuatan bulutangkis dunia. Tapi dia ngotot pilih tenis dan ternyata bisa juara," kata Rudy Hartono. 

 

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Yus Mei SawitriTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan