Dukung Swasembada Protein, BRI Perkuat Pembiayaan Ekosistem Pangan dari Hulu hingga Hilir

BRI dukung swasembada protein melalui pembiayaan ekosistem pangan dari hulu hingga hilir, menjangkau peternak, nelayan, koperasi, dan industri.

Diterbitkan 05 November 2026, 09:35 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pembiayaan yang menjangkau seluruh rantai usaha pangan menjadi bagian dari kontribusi PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI dalam memperkuat ketahanan pangan nasional. Dukungan dari hulu hingga hilir tersebut sejalan dengan agenda pemerintah untuk mewujudkan swasembada protein, termasuk melalui pengembangan perikanan, peternakan, UMKM, koperasi, serta industri pengolahan.

Komitmen itu mengemuka dalam CNN Indonesia Agrifood Forum 2026 yang berlangsung di Jakarta, Senin (19/10), dengan tema “Swasembada Protein di Tengah Tantangan Pangan Global”.

Forum tersebut menghadirkan Menteri Koordinator Bidang Pangan RI Zulkifli Hasan, Menteri Kelautan dan Perikanan RI Sakti Wahyu Trenggono, Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal RI Yandri Susanto, Wakil Menteri Pertanian RI Saleh Mustafa, Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya, serta sejumlah pimpinan BUMN.

Menteri Koordinator Bidang Pangan RI Zulkifli Hasan menyampaikan bahwa swasembada pangan memiliki kaitan erat dengan kedaulatan nasional, selain untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Karena itu, penguatan sektor pangan perlu disertai keberpihakan kepada pelaku usaha di tingkat paling bawah, termasuk nelayan dan pembudidaya ikan.

“Nelayan, dia paling menderita, dia paling miskin, kami harus pikirkan dia dulu,” ujar Zulkifli Hasan dalam forum tersebut.

Ia turut menekankan perlunya infrastruktur pendukung, seperti cold storage, serta akses pembiayaan untuk membantu meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan pelaku usaha pangan.

Senada, Menteri Kelautan dan Perikanan RI Sakti Wahyu Trenggono menyoroti peran strategis perikanan dalam memenuhi kebutuhan protein masyarakat. Menurutnya, ikan dan hasil laut berpotensi diolah menjadi beragam produk pangan bernilai tambah yang semakin mudah dijangkau masyarakat.

“Kalau dari ikan tidak usah ditanya, hampir seluruhnya,” ujar Trenggono saat membahas besarnya potensi pangan berbasis hasil laut.

Ia menilai inovasi pengolahan produk perikanan menjadi langkah penting untuk memperluas konsumsi sumber protein tersebut dengan harga yang terjangkau.

Pembiayaan Terhubung dari Produksi hingga Distribusi

Dalam konteks tersebut, Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya mengatakan BRI memiliki posisi strategis untuk mendukung pengembangan ekosistem pangan melalui pembiayaan yang tidak hanya menyasar pelaku usaha yang telah berkembang, tetapi juga masyarakat yang baru memulai usaha.

“Kalau kita bicara pembiayaan, BRI itu mulai dari orang yang baru punya niat untuk memulai usaha sampai dengan yang sudah besar. Jadi dari sisi ultramikro ada PNM, kemudian Pegadaian, lalu masuk ke segmen mikro, kecil, sampai korporasi. Ini yang membuat kami bisa melihat ekosistem secara lebih menyeluruh,” ujar Akhmad.

Menurut Akhmad, pendekatan ekosistem menjadi penting karena kebutuhan pembiayaan sektor pangan tidak berhenti pada tahap produksi. Pembiayaan dibutuhkan mulai dari sisi hulu, seperti penyediaan benih, pakan, dan peningkatan kapasitas produksi; tahap pengolahan untuk investasi, pengemasan, dan modal kerja; hingga sisi hilir yang mencakup distributor, pedagang, dan kebutuhan persediaan.

Salah satu implementasinya terlihat dalam ekosistem peternakan sapi perah di Malang. BRI dapat membiayai peternak sebagai produsen, mendukung koperasi yang memiliki fasilitas cold storage, sekaligus membiayai industri atau offtaker yang menyerap hasil produksi. Dengan pendekatan tersebut, pembiayaan tidak berdiri sendiri, tetapi terhubung dengan rantai nilai yang menciptakan kesinambungan usaha.

UMKM Jadi Prioritas, Didukung Sekitar 30 Ribu Tenaga Pemasar

Dari sisi pembiayaan, hingga akhir Triwulan II 2026 total portofolio kredit BRI telah mencapai Rp1.645 triliun, dengan sekitar 75,1% disalurkan kepada segmen UMKM. Khusus KUR, sepanjang Triwulan II 2026, sekitar 44% penyalurannya mengarah ke sektor pertanian dan perikanan, yang memiliki peran penting dalam memperkuat ekosistem pangan dan protein nasional.

Akhmad menegaskan bahwa porsi pembiayaan kepada UMKM tetap menjadi prioritas BRI. “Tidak boleh di bawah 75%, itu harus kepada UMKM,” tegasnya.

BRI juga memiliki sekitar 30 ribu tenaga pemasar di lapangan yang memiliki spesialisasi pada berbagai sektor, termasuk peternakan, perikanan, pertanian, dan perdagangan. Kapabilitas tersebut memungkinkan BRI memahami karakteristik usaha sekaligus kebutuhan pembiayaan secara lebih dekat.

“Dari awal kita sudah bisa masuk. Kita bisa membiayai dari hulu, kemudian prosesnya, sampai ke hilir. Jadi bukan hanya soal memberikan kredit, tetapi bagaimana pembiayaan itu bisa membuat ekosistem usahanya tumbuh,” ujar Akhmad.

Melalui pendekatan tersebut, BRI terus memperkuat peran intermediasi perbankan sebagai bagian dari ekosistem pangan nasional. Pembiayaan diarahkan tidak hanya untuk mendorong pertumbuhan pelaku usaha, tetapi juga memperkuat konektivitas antarpelaku dalam rantai pasok sehingga menciptakan ekosistem pangan yang produktif, inklusif, dan berkelanjutan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6