Hindari Stres, Orang Dewasa Rela Alokasikan Dana untuk Beli Mainan

Tren “kidulting” menunjukkan banyak orang dewasa AS yang membeli mainan dan rela habiskan ratusan dolar AS.

Diterbitkan 29 Oktober 2026, 15:00 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kini, mainan bukan hanya digemari oleh anak-anak, tetapi juga orang dewasa, atau yang disebut sebagai “kidults” (orang dewasa yang kekanakan). Kabarnya, kini orang dewasa mulai masuk ke industri mainan Amerika Serikat (AS) dan menjadi pembeli terbesarnya.

Dalam sebuah survei Harris Poll yang dirilis Rabu, 27 Oktober 2026, 65% orang dewasa AS melaporkan pernah mengeluarkan US$ 100, yakni Rp 1,8 juta (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 18.183) atau lebih untuk aktivitas atau produk bermain, seperti perangkat kerajinan tangan atau figur karakter, untuk kesenangan pribadi antara Juni 2025 hingga Juni 2026, dilansir dari CNBC Make It, Kamis (28/10/2026).

Sebanyak 13% orang dewasa melaporkan mengeluarkan US$ 500 (Rp 9 juta) atau lebih pada periode sama, menurut survei tersebut, yang mendata 2.158 orang berusia 18 tahun ke atas.

"Orang dewasa kini menjadi kontributor terbesar dalam perkembangan industri mainan,” ujar seorang pemimpin industri pasar konsumen AS di firma jasa profesional PwC, Ali Furman."

Bermain kini tak lagi memiliki batas umur," dia menambahkan.

Menurut dia, nostalgia dan permainan yang melibatkan sentuhan fisik kini semakin menjadi kategori pengeluaran nyata yang didukung oleh dana sungguhan.

Bukan Tren Baru, Namun Semakin Berkembang

Orang dewasa yang membeli atau melakukan aktivitas yang biasanya diperuntukkan bagi anak-anak di AS mencakup pasar industri mainan sebesar US$ 45,6 miliar atau Rp 829,1 triliun pada 2025, menurut seorang juru bicara dari firma riset pasar Circana.

Beberapa analis mendefinisikan “kidults” sebagai konsumen di atas usia 12, dan meskipun ini bukanlah tren konsumen baru, kini mulai berkembang, ujar Furman.

Rumah tangga yang berisi hanya orang dewasa merepresentasikan 55% pembelian mainan pada semester pertama 2026. Ini sedikit melampaui rumah tangga dengan anak-anak, menurut data tambahan dari Circana yang dirilis 12 Agustus.

Bahkan, kini penjual ritel mulai memasukkan kidults dalam rencana pasokan musiman mereka. Hadiah tanpa layar seperti puzzle, mainan papan, dan kerajinan tangan berpotensi populer di musim liburan ini, menurut survei PwC yang dipublikasikan 8 September. Furman mengatakan banyak di antaranya ditujukan untuk orang dewasa.

Pada dasarnya, tren ini didorong oleh keinginan untuk mencari kenyamanan di dunia yang rumit.

Kondisi Dunia yang Memicu Stres Jadi Pendorong Aktivitas Bermain

Bagi beberapa orang AS, “kidulting” bukanlah kemewahan yang kekanakan, ujar seorang pencipta mainan yang berbasis di Kota New York, yang telah bekerja sama dengan para eksekutif di Google, Nike, dan Disney mengenai cara memasukkan unsur bermain ke dalam lingkungan kerja demi meraih kesuksesan yang lebih besar, Cas Holman. Bagi mereka, ini adalah kebutuhan.

Lantaran, bermain dan bersenang-senang dapat meningkatkan level kreativitas dan produktivitas di tempat kerja, menurut sebuah artikel penelitian pada Maret 2023 yang menganalisis bagaimana keseruan di tempat kerja memengaruhi perilaku karyawan di China.

Selain itu, bermain di luar ranah pekerjaan juga dapat meningkatkan kesejahteraan bagi pekerja dewasa berdasarkan studi kecil tahun 2021 di Australia.

Lalu, salah satu pendiri sekaligus mitra pengelola firma riset dan konsultasi The Retail Tracker, Marni Shapiro, mengatakan pada CNBC Make It pada Maret, nostalgia akan muncul saat stres meningkat.

Dia berpendapat, lumrah saja jika warga AS akan mencari pengalaman menyenangkan yang menghubungkan mereka dengan masa kecil di waktu luangnya. Lantaran, banyak sekali sumber kekhawatiran, seperti pasar pekerjaan yang sulit, dan inflasi yang melambung.

Mungkin, yang menjadi kejutan, adalah meskipun sudah membayar mahal untuk bahan pangan dan bahan bakar, orang masih bersedia menghabiskan uang untuk kesenangan. Dalam survei Harris, seperempat responden mengatakan kidulting membantu mereka tetap teguh secara emosional saat keadaan menjadi sulit.

Selain itu, setengah dari responden mengatakan kidulting adalah salah satu cara utama mereka untuk memanjakan diri.

"Meski konsumen menghemat uang, mereka tidak mengesampingkan kesenangan,” kata Furman.

"Mereka menjadi lebih selektif di mana mereka mencari dan membelinya," dia menambahkan.

Sarana Melepas Stres dengan Bermain

Terkadang, orang dewasa mendapat kesenangan dari “fandom” (komunitas penggemar). Orang-orang senang membeli mainan resmi seperti puzzle dan mainan koleksi dari franchise seperti Star Wars atau Barbie karena ini adalah identitas atau komunitas yang mereka sudah gemari, ujar Furman."

Ini juga salah satu cara yang paling mudah diakses untuk memberi diri sendiri pengalaman," ia menambahkan.

Furman juga berpendapat orang AS yang lain lebih condong ke permainan yang melibatkan sentuhan fisik, terutama saat merasa jenuh dengan teknologi dan komunikasi digital. Salah satu contoh tempat di mana orang bisa mendapatkannya adalah The Sloomoo Institute, yang didirikan oleh Sara Schiller dan Karen Robinovitz.

Pengalaman mereka saat bermain dengan “slime” menginspirasi mereka untuk membuka lokasi pertama Sloomoo di Kota New York pada Oktober 2019. Menurut Robinovitz, meskipun kebanyakan keluarga datang dengan ekspektasi akan pengalaman yang ditujukan khusus untuk anak-anak, pada akhirnya para orang tua justru sering kali ikut larut bermain slime.

Robinovitz menuturkan ada seorang wanita yang merayakan pesta kejutan ulang tahun ke-40 di lokasi Sloomoo di Chicago. Ia juga pernah menyaksikan acara kumpul keluarga di Sloomoo di mana “anggota keluarga termudanya berusia 35 tahun, dan sungguh luar biasa melihat mereka berlarian bersama melewati danau slime.

Holman mengatakan bermain tidak selalu harus mengeluarkan uang. Jika seseorang mulai menyadari mereka merasa stres, dia menyarankan untuk mencoba meluangkan waktu sejenak untuk terhubung kembali dengan "sisi konyol" mereka.

Contohnya, dengarkan lagu kesukaan sambil melakukan pekerjaan rumah, atau lakukan dance break secara berkala.

“Saya rasa kita telah diajarkan bahwa bermain itu kekanakan, dan bersikap jenaka itu buang-buang waktu, dan itu tidak benar,” kata Holman.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6