Populasi Lansia China Membludak, Apa Dampaknya ke Ekonomi?

Data resmi menunjukkan lansia di China meningkat menjadi 23%, dibanding jumlah anak-anak yang hanya 22%.

Diterbitkan 28 Oktober 2026, 19:45 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Keluarga di China menanggung lebih banyak lansia dibanding anak-anak untuk pertama kalinya, menurut pemerintah negara tersebut. Data yang dirilis pekan lalu menunjukkan rasio warga lanjut usia yang bergantung pada orang lain di China dibandingkan dengan populasi usia kerja meningkat menjadi 23% tahun lalu. Angka ini lebih besar dari jumlah anak-anak, yakni 22%.

Melansir BBC, Rabu (28/10/2026), angka ini diamati untuk melihat tanda apakah tenaga kerja China yang menyusut akan memengaruhi ekonomi terbesar kedua di dunia dan pertumbuhan global secara keseluruhan.

Selain itu, menurut analis, angka terbaru ini menandai tonggak penting di tengah upaya China menghadapi populasi yang menua, sebuah kondisi yang dapat berdampak pada keluarga, dana pensiun, serta pengeluaran untuk layanan kesehatan.

China telah bersiap untuk pertumbuhan proporsi populasi lansia beberapa tahun terakhir, seiring mendorong generasi muda untuk menikah dan pasangan untuk punya lebih banyak anak.

Lalu, data terbaru dari Biro Statistik Nasional China menunjukkan ada lebih dari 223 juta populasi di atas 65 tahun ke atas, yakni hampir 16% dari populasi total China. Sementara, ada sekitar 213 juta anak berusia 14 tahun ke bawah.

Dampak Ekonomi

Media berita yang dikendalikan oleh China, Global Times, menulis masuknya negara tersebut ke dalam "masyarakat yang mengalami penuaan sedang" merupakan akibat dari perpaduan berbagai faktor, termasuk jumlah kelompok kelahiran di masa lalu serta harapan hidup yang lebih panjang.

Pergeseran ini dapat semakin menekan sistem pensiun, layanan kesehatan, dan perawatan jangka panjang. Namun, media itu menyebutkan, ini juga dapat menciptakan peluang di “silver economy” (ekonomi perak) yang berfokus pada konsumen lansia.

"Ini merefleksikan tren sejarah dalam perkembangan demografis dibandingkan fenomena jangka pendek,” ujar Global Times mengutip peneliti.

Pergeseran demografis ini “simbolis” dan dapat berarti pendanaan publik akan condong ke dana pensiun dan layanan kesehatan, dari yang sebelumnya ke keluarga dan sekolah, ujar profesor di The Hong Kong University of Science and Technology, Stuart Gietel-Basten.

Lalu, hal ini juga berpotensi menghambat ambisi China, karena pertumbuhan ekonominya dapat dibatasi, begitu pula dengan daya beli masyarakatnya, ujar tenaga pengajar sosiologi di National University of Singapore, Mu Zheng.

Kebijakan Lama jadi Dalangnya

Populasi lansia China bertumbuh akibat beberapa faktor, termasuk urbanisasi pesat dan kebijakan satu anak yang kontroversial, yang berlaku dari 1980-2015.

Strategi ini, yang dibuat untuk mengontrol pertumbuhan laju populasi China, diestimasikan oleh pemerintah telah mencegah sekitar 400 juta kelahiran sejak dimulai, meski angka ini telah dipersengketakan.

Mu mengatakan, kebijakan ini memiliki peran besar dalam mengurangi populasi, sehingga artinya lebih sedikit orang muda yang bisa menanggung keluarga lansianya.

Pun begitu, Beijing kesulitan untuk mendorong pasangan untuk memiliki lebih banyak anak, dan tingkat kelahiran mencapai angka terendah dalam sejarahnya.

Faktor lain yang bisa memengaruhi hal ini adalah pergeseran peran gender, biaya hidup yang kian tinggi, dan tingkat pendidikan yang lebih tinggi, yang semuanya memberikan tekanan terhadap angka kelahiran, menurut Mu.

Bantuan Finansial dari Pemerintah China

Beijing menawarkan dukungan lanjutan untuk lansia sebagai rancangan ekonomi lima tahun yang diumumkan tahun ini. Contohnya, bantuan finansial telah menjadi pengeluaran pemerintah China yang terus bertambah. Lebih dari 53 juta lansia menerima dana penduduk lansia dan subsidi lainnya hingga akhir 2025, menurut data resmi.

Kemudian, Global Times menuliskan bahwa orang menuju usia lanjut yang dilahirkan antara 1950-an hingga 1970-an memiliki pendapatan lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya, memiliki daya beli lebih kuat, dan lebih sehat.

Rasio ketergantungan (dependency ratio) banyak digunakan untuk mengukur populasi yang menua, namun sejumlah pakar mempertanyakan dengan alasan cakupan-nya terlalu terbatas.

Gietel-Basten mengatakan, penggunaan statistik tersebut berisiko menghilangkan kemampuan untuk bertindak secara mandiri dari kelompok lansia, yang menurutnya sering kali keliru digambarkan sebagai pihak yang bergantung pada orang lain.

Selain itu, ia menambahkan, statistik tersebut juga tidak memperhitungkan peningkatan dalam layanan kesehatan.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6