Mobil Listrik Bekas asal China Makin Dicari, Diskonnya Gede

Mobil listrik bekas asal China mulai menemukan celah, untuk memasuki pasar otomotif Barat, terutama di Eropa dan Kanada

Diterbitkan 27 Oktober 2026, 14:09 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Mobil listrik bekas asal China mulai menemukan celah, untuk memasuki pasar otomotif Barat, terutama di Eropa dan Kanada. Menariknya, kendaraan tersebut ditawarkan dengan harga hingga 40 persen lebih murah dibandingkan harga jual awalnya.

Kondisi ini menjadi tantangan baru bagi produsen otomotif Barat, yang selama ini berupaya melindungi pasar domestik dari persaingan mobil listrik Tiongkok.

Selama ini, sejumlah kebijakan perdagangan membatasi masuknya mobil baru asal China ke pasar Barat. Uni Eropa, misalnya, menerapkan tarif tambahan untuk mobil listrik berbasis baterai (BEV) dari Negeri Tirai Bambu, yang besarnya mencapai 45,3 persen.

Namun, pembatasan tersebut justru membuka peluang bagi mobil listrik bekas asal China, yang tidak terkena bea masuk tambahan serupa.

Data dari perusahaan importir dan eksportir China EV Marketplace (CEVM) menunjukkan, penjualan mobil bekas China di Uni Eropa tumbuh 280 persen secara tahunan. Hingga September 2026, jumlah penjualannya mencapai 7.900 unit.

Chief Operating Officer (COO) CEVM, Jakub Geršl menjelaskan bahwa tarif impor telah memengaruhi permintaan mobil listrik baru asal China di Eropa.

Dirinya juga memperkirakan pembatasan impor mobil hibrida akan memberikan tekanan tambahan terhadap penjualan mobil plug-in hybrid (PHEV) baru.

"Mobil bekas dikecualikan dari tarif tambahan BEV dan kuota baru untuk mobil hibrida (PHEV). Karena itulah, kami menjadikan kendaraan bekas sebagai fokus utama bisnis kami di Eropa," ujar Geršl kepada CarNewsChina.

CEVM saat ini memiliki lebih dari 2.600 unit mobil listrik bekas China dalam daftar penjualannya. Pilihannya mencakup kendaraan dari berbagai merek, seperti BYD, Geely, dan Zeekr, dengan persediaan yang diperbarui hampir setiap hari.

Penurunan Harga Mobil Baru

Geršl menambahkan, penurunan harga mobil baru turut menekan harga kendaraan bekas. Tim CEVM yang berbasis di Shanghai, secara aktif mencari unit dengan nilai jual menarik.

"Kami secara rutin menemukan mobil dengan jarak tempuh sekitar 6.000 km yang dihargai 40 persen di bawah harga daftar aslinya di China," katanya.

Kondisi ini turut dipengaruhi pesatnya perkembangan teknologi, banyaknya model baru dan pembaruan kendaraan listrik China, serta tren konsumen domestik yang cenderung mengutamakan kendaraan keluaran terbaru.