Konsumen AS Tetap Royal Belanja di Tengah Tekanan Inflasi

Konsumen masih mengandalkan alat pembayaran kartu untuk membayar biaya perjalanan, berbelanja, dan makan di restoran meski makroekonomi bergejolak.

Diterbitkan 28 Oktober 2026, 14:35 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ekonomi Amerika Serikat (AS) dinilai masih kuat di tengah tekanan inflasi, yang didorong pasar pekerjaan yang kokoh serta pertumbuhan pendapatan. Kondisi ini juga terlihat pada kinerja kuartal keempat, perusahaan jasa keuangan Visa yang melebihi ekspektasi.

Konsumen masih mengandalkan Visa sebagai alat membayar biaya perjalanan, berbelanja, dan makan di restoran meski makroekonomi bergejolak. 

"Pertumbuhan di berbagai kelompok tingkat pengeluaran konsumen tetap relatif konsisten dibandingkan kuartal-kuartal sebelumnya, dengan kelompok tingkat pengeluaran tertinggi terus mencatatkan pertumbuhan tercepat. Kami tidak melihat tanda volume dari tingkat pengeluaran rendah melemah,” ujar Kepala Keuangan Visa, Chris Suh, melansir CNA, Rabu (28/10/2026).

Volume pembayaran, sebuah tolok ukur pengeluaran konsumen dan bisnis di jaringan Visa, melonjak 9% pada kuartal yang dilaporkan, berdasarkan nilai dolar AS yang konstan. Sementara, transaksi yang telah diproses naik 10%.

Jaringan pembayaran digital Visa, yang mencakup lebih dari 200 negara dan wilayah, menempatkannya di posisi menguntungkan di era ekonomi yang menurun. Lantaran, miliaran orang di seluruh dunia bergantung pada jaringan kartunya untuk pengeluaran sehari-hari dan pembayaran lainnya.

Insentif Klien dan Perkiraan Laba Menjadi Sorotan

Insentif klien naik 21% ke US$ 5,1 miliar, atau Rp 92,7 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 18.180) pada kuartal dibanding dengan tahun sebelumnya. Hal ini sebagian besar dipicu oleh kesepakatan baru yang disetujui pada Juli hingga September dan pada awal kuartal keempat.

"Satu hal yang wajib disorot adalah insentif klien, yang berada di atas ekspektasi," ujar analis Seaport, Jeff Cantwell.

Ia mengatakan, perkembangan ini kemungkinan besar memengaruhi prediksi Visa untuk tahun fiskal 2027.

Suh mengatakan kepada analis perkembangan insentif akan naik pada tahun fiskal 2027, karena Visa memperkirakan sekitar 25% volume pembayarannya akan diperbarui, termasuk dengan sejumlah klien besar. Angka ini dibandingkan dengan 20% pada tahun fiskal 2026.

Selain itu, perusahaan tersebut mengantisipasi pertumbuhan keuntungan per saham pada tahun fiskal 2027 berada di angka persentase dua digit rendah hingga belasan persen. Sementara, pertumbuhan pendapatan bersih diekspektasikan berada di persentase dua digit rendah.

“Meskipun sebagian pihak mungkin merasa kurang terkesan dengan panduan EPS tersebut, menurut kami hal itu kemungkinan mencerminkan keputusan (manajemen) untuk terus berinvestasi pada inisiatif strategis jangka panjang guna memperpanjang daya tahan pertumbuhan pendapatan,” ujar analis KBW yang dipimpin Sanjay Sakhrani.

Saham Visa turun 1,4% dalam perdagangan di luar jam bursa. Saham Visa telah naik 14,6% tahun ini pada penutupan terakhir.

Berdasarkan perhitungan yang disesuaikan, perusahaan mencatatkan laba sebesar US$ 3,48 (Rp 63.275) per saham dalam periode tiga bulan yang berakhir pada 30 September, melampaui ekspektasi sebesar US$ 3,44 (Rp 62.548) per saham, menurut estimasi yang dihimpun oleh LSEG.

Kekuatan Lintas Batas

Volume lintas batas kecuali intra-Eropa, sebuah pengukuran permintaan perjalanan internasional, menjadi hal lain yang menjadi sorotan, akibat melonjak 14% pada kuartal tersebut berdasarkan nilai dolar konstan

"Ini merefleksikan sentimen konsumen yang kuat, permintaan yang kuat akan pengalaman perjalanan, dan fakta bahwa e-commerce juga berekspansi,” kata Suh.

Suh mengatakan pada Reuters, perjalanan ke dan dari Timur Tengah juga mulai mencapai level normal setelah tertekan akibat konflik AS-Iran.

Selain itu, Piala Dunia FIFA, yang berjalan dari 11-19 Juli, juga membantu mendorong aktivitas di jaringan Visa karena telah membawa banyak pengunjung ke AS.

“XB (lintas batas) menunjukkan peningkatan pertumbuhan yang bagus secara berurutan, dan itu adalah salah satu area yang kami pantau untuk melihat tanda-tanda potensi kelemahan menjelang pengumuman pendapatan,” ujar Cantwell dari Seaport

Pendapatan bersih naik 13% ke US$ 12,1 miliar atau Rp 220 triliun pada kuartal tersebut. Untuk tahun fiskal 2026, Visa mencatatkan rekor pendapatan  US$ 46 miliar atau Rp 836,3 triliun.

Pesaingnya, Mastercard, dijadwalkan untuk melaporkan pendapatan kuartalnya pekan ini.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

  • liputan6
    Visa adalah izin memasuki negara lain atau tinggal sementara di negara lain.
    VISA
  • Amerika Serikat adalah salah satu negara republik konstitusional federal di Benua Amerika
    Amerika Serikat adalah salah satu negara republik konstitusional federal di Benua Amerika
    Amerika Serikat
  • liputan6
    Inflasi adalah kemerosotan nilai uang (kertas).
    inflasi
  • liputan6
    Ekonomi adalah ilmu tentang asas-asas produksi, distribusi, dan pemakaian barang-barang serta kekayaan.
    ekonomi
  • liputan6
    Saham adalah hak yang dimiliki orang (pemegang saham) terhadap perusahaan berkat penyerahan bagian modal sehingga dianggap berbagai dalam pe
    Saham