Premi Lanjutan MSIG Life Rp 1 Triliun, Dana Unit Link Bergeser ke Pendapatan Tetap

Manajemen MSIG Life Insurance Indonesia menyatakan, pendapatan premi baru pada tahun berjalan akan menjadi potensi premi lanjutan.

Diterbitkan 27 Oktober 2026, 19:52 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - PT MSIG Life Insurance Indonesia Tbk mencatat premi lanjutan sekitar Rp 1 triliun pada semester I 2026, yang tumbuh lebih cepat daripada premi bisnis baru.

Premi bisnis baru yang disetahunkan (APE) naik 7% menjadi Rp 790 miliar, di atas pertumbuhan industri sebesar 2%. Premi lanjutan tumbuh 27% saat industri terkoreksi sekitar 6%, menurut data Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI). Pada 2025, premi lanjutan melonjak 48% menjadi Rp 1,82 triliun.

"Setiap pendapatan premi baru pada tahun berjalan ini akan menjadi potensial premi lanjutan pada tahun berikutnya," Direktur MSIG Life Herman Sulistyo menjelaskan lonjakan itu buah peralihan strategi dari single premium ke regular premium, pada MSIG Life Public Expose 2026, Selasa (27/10/2026).

"Kalau tahun ini kita memiliki premi regular Rp 100 miliar, maka Rp 100 miliar ini akan menjadi basis premi lanjutan di tahun depan," kata Herman.

Retensi nasabah ikut menopang, naik dari 77% menjadi 80% pada 2025. "Hampir 80% dari nasabah kita ini akan melanjutkan pembayaran preminya untuk tahun kedua dan seterusnya," ujarnya.

Sementara, Presiden Direktur Wianto Chen mengakui gejolak pasar saham menekan produk unit link, "Secara umum, premi di tahun 2026 ini masih tercatat positif, namun tentunya ada dampak dari sisi produk unit link," ujar dia.

 

Produk Tradisional Jadi Penyeimbang

Menurut dia, produk tradisional menjadi penyeimbang. "Secara produk tradisional kita bertumbuh positif, ini menunjukkan shifting di market dan juga antisipasi kita terhadap situasi yang mungkin terjadi," kata Wianto.

"Sebelumnya di unit link itu dana equity biasanya dominan, sekarang kelihatan shifting ke dana kas dan pendapatan tetap," ia menambahkan.

Mengenai jenis produk unit link yang masih ditawarkan di tengah gejolak pasar, Wianto menilai sudah banyak bergeser.

Menurutnya, porsi unit link dengan regular premium kini sangat kecil, kurang dari 5%, sejak ketentuan terkait terbit pada 2022. Segmen yang masih besar adalah single premium lewat jalur perbankan.

"Yang dulunya dana single premium itu banyak ke saham. Tapi karena pasar terus menurun, sudah banyak shifting ke dana cash maupun dana pendapatan tetap," ujarnya. Ia menegaskan, "Kita tetap monitor, karena kita lihat penurunan ini terus berlanjut. Kita tidak tahu kapan."

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6