Harga Perak Antam Hari Ini 31 Agustus 2026 Naik Rp 150

Harga perak PT Aneka Tambang Tbk (Antam) saat harga perak dunia melemah pada perdagangan Senin, (31/8/2026).

Diterbitkan 31 Agustus 2026, 09:43 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga perak PT Aneka Tambang Tbk (Antam) menguat pada perdagangan Senin, (31/8/2026). Harga perak Antam hari ini berlawanan arah dengan harga perak dunia dan harga emas Antam yang stabil.

Mengutip laman logammulia.com, Senin pekan ini, harga perak Antam naik Rp 150 menjadi Rp 44.150. Pada perdagangan sebelumnya, harga perak Antam ditetapkan Rp 44.000.

Antam menawarkan perak batangan 250 gram, 500 gram dan perak butiran murni 99,95%. Harga perak batangan 250 gram dibanderol Rp 11.562.500 dan perak batangan 500 gram dipatok Rp 22.200.000.

Lalu bagaimana harga perak dunia?

Mengutip tradingeconomics.com, harga perak dunia turun 0,45% menjadi US$ 65,86.

Harga perak diperdagangkan di kisaran US$ 66,4 per ons pada Senin pekan ini setelah turun lebih dari 4% pada sesi sebelumnya,menyusul pernyataan bernada hawkish dari ketua the Federal Reserve (the Fed) Kevin Warsh yang kembali memicu harapan kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.

Dalam pidatonya di Jackson Hole pada Jumat, Warsh memperingatkan bahwa inflasi tidak melandai secara signifikan dan menegaskan kembali komitmen bank sentral untuk mengembalikan inflasi ke target 2%, sembari mencatat bahwa kondisi keuangan saat ini tidak bersifat restriktif.

Pasar kini memperhitungkan peluang sekitar 57% untuk kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada September, angka yang melonjak tajam dari sekitar 40% pada pekan sebelumnya. 

Perak juga masih tertekan oleh kenaikan harga minyak setelah militer AS menargetkan peluncur roket Iran yang bersiap menebar ranjau di Selat Hormuz, merupakan serangan semacam itu yang pertama dalam lebih dari sebulan terakhir. Kendati demikian, logam mulia ini berada di jalur untuk mencatatkan kenaikan lebih dari 15% sepanjang Agustus.

 

Harga Emas Pekan Lalu

Sebelumnya, harga emas dunia berbalik melemah pada perdagangan Jumat, 28 Agustus 2026 (Sabtu pagi Jakarta). Koreksi harga emas dunia seiring meningkatnya spekulasi pelaku pasar mengenai kenaikan suku bunga, menyusul pernyataan ketua the Federal Reserve (the Fed) Kevin Warsh mengenai upaya meredam tekanan inflasi.

Mengutip CNBC, Sabtu (29/8/2026), harga emas spot turun 2,75% menjadi US$ 4.474,45 per ons. Kontrak berjangka emas Amerika Serikat (AS) untuk pengiriman Desember terpangkas 3% menjadi US$ 4.524,10.

"Harga emas terpukul keras setelah Ketua Warsh menegaskan bahwa inflasi tidak melambat secara signifikan dan The Fed masih memiliki 'pekerjaan yang harus diselesaikan.' Meskipun pendekatannya mungkin kembali berupa 'bicara lantang namun bertindak terbatas' (speak loudly and carry a short stick), hal ini membuat pasar menilai hasil pertemuan September sebagai situasi yang tidak pasti, layaknya melempar koin," ujar analis independen Tai Wong.

 

Dolar AS Menguat

Pelaku pasar meningkatkan taruhan pada kenaikan suku bunga September setelah Warsh menyatakan The Fed "memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan" jika para pembuat kebijakan tidak yakin bahwa inflasi inti kembali ke target 2%. Pernyataan ini merupakan indikasi terkuat sejauh ini bahwa ia mengakui perlunya kenaikan suku bunga untuk meredakan tekanan harga.

Menurut perangkat CME FedWatch, para pedagang kini memperkirakan adanya peluang sebesar 56% untuk kenaikan suku bunga AS pada September naik dari 36% sebelum komentar Warsh, serta peluang 80% untuk kenaikan pada Desember.

Nilai tukar dolar AS menguat ke level tertinggi dalam lebih dari satu minggu, sehingga harga emas yang diperdagangkan dalam mata uang dolar AS menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

Sebelumnya, pada Selasa, logam mulia ini sempat mencapai level tertinggi dalam lebih dari tiga bulan di US$ 4.696,18, melanjutkan tren kenaikan yang dipicu oleh pengumuman Departemen Keuangan AS pekan lalu mengenai langkah-langkah dukungan untuk obligasi berdurasi panjang.

Emas cenderung kurang diminati dalam lingkungan suku bunga tinggi karena aset ini tidak memberikan imbal hasil (yield).

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6