The Fed Bersiap Putuskan Suku Bunga, Bakal Ditahan atau Naik?

The Fed akan mengumumkan keputusan suku bunga. Pasar memperkirakan suku bunga bertahan 3,5%-3,75%, tetapi peluang kenaikan mulai terbuka.

Diterbitkan 29 Juli 2026, 21:50 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Bank sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed) akan mengumumkan keputusan terbaru mengenai suku bunga pada Rabu waktu setempat. Pertemuan kali ini menjadi perhatian karena muncul perbedaan pandangan di antara pejabat The Fed mengenai arah kebijakan moneter selanjutnya.

Dikutip dari CNBC, Rabu (29/7/2026), pelaku pasar secara umum memperkirakan Federal Open Market Committee (FOMC) akan mempertahankan suku bunga. Namun, pernyataan sejumlah pejabat The Fed belakangan menunjukkan ada dukungan untuk setidaknya mempertimbangkan kenaikan suku bunga.

Presiden The Fed Dallas Lorie Logan menjadi salah satu yang paling tegas. Ia menilai suku bunga seharusnya berada pada level yang "sedikit" lebih tinggi.

Presiden The Fed Cleveland Beth Hammack, Presiden The Fed Minneapolis Neel Kashkari, dan Gubernur The Fed Christopher Waller juga menyampaikan pandangan yang mendukung kebijakan moneter lebih ketat apabila inflasi tetap tinggi.

Perbedaan pandangan tersebut berpotensi memunculkan sejumlah suara berbeda dalam pertemuan FOMC kali ini. Kondisi ini juga membuat Ketua The Fed Kevin Warsh menghadapi tantangan dalam menjelaskan arah kebijakan bank sentral seusai pertemuan.

Pelaku pasar memperkirakan probabilitas sekitar 64% bahwa The Fed tidak akan mengubah suku bunga, berdasarkan CME Group FedWatch Tool.

 

Inflasi Jadi Penentu

Head of U.S. Economics Natixis CIB Americas Christophe Hodge mengatakan, perkembangan inflasi akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah kebijakan The Fed.

"Jika data inflasi meningkat, atau bahkan tetap tinggi dan sulit turun, The Fed kemungkinan akan menaikkan suku bunga. Namun untuk saat ini, data inflasi yang menggembirakan memberikan The Fed ruang untuk menunggu lebih banyak sinyal," ujar Hodge dalam sebuah catatan.

Sentimen pasar saat ini mengarah pada perkiraan bahwa The Fed akan mempertahankan target suku bunga acuannya di kisaran 3,5%-3,75%.

Namun, kenaikan suku bunga berpotensi dilakukan pada September apabila data menunjukkan inflasi masih berada jauh di atas target The Fed sebesar 2%.

Data inflasi terbaru setidaknya memberikan sedikit kelegaan. Indeks harga konsumen atau consumer price index (CPI) secara mengejutkan turun 0,4% pada Juni, antara lain dipengaruhi penurunan sementara harga bensin.

Namun, penurunan harga bahan bakar tersebut berbalik dalam beberapa pekan terakhir di tengah tingginya volatilitas situasi di Timur Tengah.

 

Tunggu Data hingga September

Perkembangan harga energi membuat data ekonomi yang akan keluar sebelum pertemuan September menjadi semakin penting bagi arah kebijakan moneter AS.

Mantan analis senior The Fed New York yang kini menjabat Vice President of Economics and Fixed Income Research Mutual of America Capital Management, Jerry Templeman, mengatakan kondisi dapat berubah sebelum pertemuan berikutnya.

"Kita akan mendapatkan serangkaian data yang menarik antara sekarang dan pertemuan September," ujar Templeman.

"Jadi, saya rasa kita belum tentu akan berada dalam posisi yang sama seperti hari ini," lanjutnya.

The Fed dijadwalkan mengumumkan keputusan kebijakan pada pukul 14.00 waktu AS bagian timur atau ET. Ketua The Fed Kevin Warsh kemudian menggelar konferensi pers pada pukul 14.30 ET.

Pada pertemuan kali ini, The Fed tidak akan merilis Summary of Economic Projections (SEP), sehingga perhatian pasar akan tertuju pada keputusan FOMC dan pernyataan Warsh mengenai prospek suku bunga berikutnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6