Harga Telur Merangkak Naik, Terkerek Dapur MBG Kembali Beroperasi

Harga telur sempat anjlok sampai Rp 15.000 pe kg dari peternak di kandang.

Diterbitkan 20 Juli 2026, 12:43 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Badan Pangan Nasional (Bapanas) mencatat harga telur ayam ras mulai berangsur pulih, setelah sempat anjlok akibat melemahnya permintaan dalam beberapa pekan terakhir. Kini harga telur dijual naik ke kisaran Rp 22.000 sampai Rp 23.000 per kilogram (kg).

Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa mengatakan pemulihan harga telur didorong meningkatnya kembali penyerapan telur oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk Makan Bergizi Gratis (MBG), berakhirnya bulan Suro, serta dimulainya kembali kegiatan belajar mengajar.

"(Harga) telur naik Alhamdulillah, karena kan kemarin telur itu harganya di kandang saja sampai Rp 15.000," kata Ketut melansir Antara di Jakarta, Senin (20/7/2026).

Namun, seiring berakhirnya bulan Suro (Muharam), dimulainya kembali kegiatan belajar mengajar, serta beroperasinya kembali SPPG, Ketut menyebut permintaan telur mulai meningkat sehingga harga berangsur pulih.

"Nah ini sudah tepat sekali dengan mulainya SPPG, bulan Suro sudah kita lewati, anak-anak sekolah sudah mulai masuk dan harga linier mulai naik," ujarnya.

Ketut mengatakan harga telur di tingkat peternak kini telah bergerak naik ke kisaran Rp 22.000-Rp 23.000 per kg, meski masih berada di bawah tingkat yang dinilai ideal, yakni sekitar Rp 24.000-Rp 25.000 per kg.

Dijaga Harga Tetap Wajar

Sementara itu, berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional yang dikelola Bank Indonesia, harga rata-rata telur ayam ras di tingkat produsen tercatat sebesar Rp 25.750 per kilogram pada 20 Juli 2026.

Ia menilai kenaikan tersebut perlu dijaga agar harga tetap berada pada level yang wajar, sehingga memberikan keuntungan bagi peternak tanpa membebani masyarakat.

"Jangan sampai peternak kita, petani kita, harganya terlalu jatuh sekali. Nanti mereka tidak mau berproduksi, masa kita impor lagi," katanya.

Ketut mengakui pemulihan harga telur berpotensi mendorong inflasi pangan.

Namun, menurut dia, kondisi tersebut masih berada dalam koridor yang diharapkan pemerintah selama harga bergerak di sekitar harga acuan.

"Pemerintah menjaga ritmenya. Jangan terlalu tinggi, jangan terlalu rendah. Pada saat rendah intervensi, pada saat tinggi intervensi. Selama masih di harga acuan berarti masih bagus," ujarnya.

PIHPS Nasional juga mencatata, harga rata-rata nasional telur ayam ras di pasar tradisional bervariasi. Dari sebesar Rp 29.250 per kg pada 6 Juli 2026, kemudian menjadi Rp 29.000 per kg pada 14 Juli, sebelum naik menjadi Rp 31.300 per kg pada 20 Juli 2026.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6