Harga Emas Antam 20 Juli 2026 Turun Rp 4.000, Simak Rincian di Sini

Harga emas PT Aneka Tambang Tbk (Antam) merosot Rp 4.000, dan buyback turun Rp 8.000 pada Senin, (20/7/2026).

Diterbitkan 20 Juli 2026, 09:49 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas batangan yang dijual oleh PT Aneka Tambang Tbk (Antam) turun pada perdagangan Senin, (20/7/2026). harga emas antam hari ini lebih murah Rp 4.000.

Dengan demikian, harga emas antam hari ini ditetapkan Rp 2.610.000 per gram. Pada perdagangan hari sebelumnya, harga logam mulia ini dipatok di Rp 2.614.000 per gram.

Koreksi ini juga diikuti oleh harga buyback (beli kembali) emas Antam yang alami penurunan lebih besar. Harga buyback emas Antam turun Rp 8.000 menjadi Rp 2.341.000 per gram. Dengan demikian, bagi Anda yang ingin melepas logam mulia itu, Antam akan membeli dengan harga Rp 2.341.000 per gram.

Sebagai informasi, harga buyback merupakan harga acuan yang berlaku jika pemilik emas ingin menjual kembali logam mulianya ke Antam.

Adapun harga emas batangan ini bersifat fluktuatif dan bisa berubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan pasar terkini.

Sebagai catatan historis, harga emas Antam pernah mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah pada Kamis, 29 Januari 2026. Kala itu, harga emas meroket hingga menembus Rp 3.168.000 per gram dengan harga buyback berada di level Rp 2.989.000 per gram.

Seluruh informasi mengenai pergerakan harga ini bersumber langsung dari situs resmi Logam Mulia, unit bisnis PT Aneka Tambang Tbk, sehingga data yang disajikan memiliki tingkat akurasi dan kredibilitas tinggi bagi masyarakat.

Daftar Harga Emas Antam Hari Ini

Rincian harga emas batangan Antam:

  • 0,5 gram: Rp 1.355.000
  • 1 gram: Rp 2.610.000
  • 2 gram: Rp 5.170.000
  • 3 gram: Rp 7.737.000
  • 5 gram: Rp 12.865.000
  • 10 gram: Rp 25.650.000
  • 25 gram: Rp 63.960.000
  • 50 gram: Rp 127.755.000
  • 100 gram: Rp 255.360.000
  • 250 gram: Rp 638.090.000
  • 500 gram: Rp 1.275.900.000
  • 1.000 gram (1 kg): Rp 2.550.600.000

Harga Emas Sepekan Anjlok 3%, Ini Penyebabnya

Sebelumnya, harga emas alami koreksi mingguan terbesar dalam enam minggu pada Jumat, 17 Juli 2026 waktu setempat. Tekanan terhadap harga emas dunia seiring meningkatnya konflik Amerika Serikat (AS)-Iran sehingga menekan harga minyak, menambah tekanan inflasi dan memperkuat potensi kenaikan suku bunga AS.

Mengutip CNBC, Sabtu (18/7/2026), harga emas spot naik 1,1% menjadi US$ 4.015,09 per ons, setelah menyentuh titik terendah sejak 1 Juli. Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus menguat 0,7% menjadi US$ 4.018,80.

Logam mulia telah merosot 3% pada pekan ini, dan merupakan penurunan terbesar sejak 1 Juni 2026. Hal ini di tengah konflik Timur Tengah mengalahkan dukungan dari inflasi AS Juni yang lebih rendah yang dirilis pekan ini.

“Emas mulai bergerak naik hari ini setelah harga logam tersebut turun di bawah US$ 4.000 menarik minat pembeli,” ujar Chief Market Analyst KCM Trade, Tim Waterer.

Waterer menuturkan, risiko geopolitik di Timur Tengah masih ada. Kekhawatiran inflasi dan imbal hasil menjadi kekuatan dominan yang menahan harga emas.

 

Sentimen Harga Emas Lainnya

Harga minyak telah naik sekitar 12% pekan ini karena konflik AS-Iran yang meningkat menimbulkan kekhawatiran pasokan.

Lonjakan harga minyak berisiko memicu kembali kekhawatiran inflasi, dan meningkatkan kemungkinan kenaikan suku bunga. Emas yang tidak memberikan imbal hasil biasanya kesulitan dalam lingkungan suku bunga tinggi. Hal ini karena investor cenderung beralih ke aset yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.

Presiden Federal Reserve Dallas, Lorie Logan, menjadi kolega baru Ketua Fed Kevin Warsh pertama yang secara terbuka menyerukan kenaikan suku bunga. Wakil Ketua Fed, Philip Jefferson, juga mengisyaratkan terbuka untuk menaikkan suku bunga jika tidak ada perbaikan inflasi dalam waktu dekat.

Para pedagang memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 73% pada Desember, menurut CME FedWatch Tool.

Diskon emas di India melebar ke level tertinggi dalam satu bulan pekan ini karena harapan akan harga yang lebih rendah membuat pembeli tetap waspada, sementara premi di China sebagian besar tetap stabil.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6