Lalu Lintas Selat Hormuz Meningkat, Harga Minyak Langsung Turun

Lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz yang mulai meningkat membuat harga minyak kembali turun.

Diterbitkan 10 Juni 2026, 08:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia ditutup melemah pada perdagangan Selasa (Rabu waktu Jakarta) setelah Menteri Energi Amerika Serikat (AS) Chris Wright mengungkapkan bahwa lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz mulai meningkat secara signifikan. Pernyataan tersebut memicu optimisme pasar bahwa gangguan pasokan minyak global dapat mulai mereda.

Dikutip dari CNBC, Rabu (10/6/2026), kontrak minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat turun 3,4% dan ditutup pada level US$ 88,20 per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent yang menjadi acuan internasional terkoreksi 2,97% ke posisi US$ 91,45 per barel.

Dalam wawancara dengan CNBC di sela Atlantic Council Global Energy Forum, Wright mengatakan arus ekspor minyak melalui Selat Hormuz menunjukkan peningkatan yang cukup berarti dan diperkirakan akan terus bertambah dalam waktu mendatang.

Meski demikian, Wright tidak merinci data terkait peningkatan volume minyak yang melintasi jalur pelayaran strategis tersebut.

Penurunan harga minyak terjadi meskipun Presiden Amerika Serikat Donald Trump menuduh Iran telah menembak jatuh helikopter Apache milik AS yang sedang melakukan patroli di kawasan Selat Hormuz.

Menurut Trump, kedua pilot berhasil selamat dan tidak mengalami cedera. Namun, ia menegaskan bahwa Amerika Serikat harus memberikan respons atas serangan tersebut.

Arus Minyak Hormuz Mulai Pulih

Analis JPMorgan dalam catatan riset tertanggal 4 Juni menyebutkan bahwa volume minyak yang mengalir melalui Selat Hormuz kemungkinan lebih besar dibandingkan yang terlihat secara publik.

Bank investasi tersebut mengungkapkan Angkatan Laut Amerika Serikat secara diam-diam telah berkoordinasi dengan sejumlah kapal tanker yang berupaya keluar dari kawasan Teluk Persia.

Berdasarkan estimasi JPMorgan, sekitar 2 juta barel minyak per hari kemungkinan berhasil keluar melalui kapal tanker yang mematikan transponder atau sistem pelacakan mereka.

“Terlepas dari blokade laut yang masih berlangsung dan penurunan tajam lalu lintas komersial, volume minyak mentah dan produk petroleum yang melintasi Selat Hormuz ternyata masih cukup besar,” tulis analis JPMorgan dalam laporannya.

Temuan tersebut memberikan sinyal bahwa pasokan minyak global belum sepenuhnya terhenti meskipun kawasan tersebut masih diliputi ketegangan geopolitik.

 

 

 

 

Harapan Kesepakatan dengan Iran

Di sisi lain, Trump berupaya meyakinkan pasar bahwa kesepakatan dengan Teheran untuk membuka kembali akses pelayaran di Selat Hormuz dapat tercapai dalam waktu dekat.

Pada Senin, Trump menyatakan bahwa kesepakatan tersebut kemungkinan hanya berjarak "dua atau tiga hari lagi". Namun hingga kini, kesepakatan resmi masih belum terwujud.

Pemerintah AS dalam beberapa kesempatan menyebut pembicaraan dengan Iran terus berlangsung, meski situasi keamanan di kawasan masih rentan.

Gencatan senjata yang diberlakukan pada April lalu nyaris runtuh pekan ini setelah Iran meluncurkan rudal ke Israel sebagai balasan atas serangan Israel di Lebanon.

Israel kemudian membalas dengan serangan terhadap sejumlah target di Iran. Trump dilaporkan turut menekan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu agar tidak melakukan eskalasi serangan lebih lanjut.

Meski sempat memicu lonjakan harga minyak pada awal pekan, aksi saling serang tersebut sejauh ini belum berkembang menjadi konflik yang lebih besar. Iran dan Israel sama-sama menyatakan telah menghentikan serangan.

 

Pasokan Global Masih Ditopang Cadangan Minyak

Harga minyak dunia telah melonjak sekitar 30% sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari lalu.

Sebagai respons, Iran menyerang kapal tanker yang melintas di Selat Hormuz dan memasang ranjau di jalur pelayaran tersebut. Akibatnya, lalu lintas kapal di Hormuz anjlok tajam dan memicu gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah modern.

Pemerintahan Trump juga terus meningkatkan tekanan terhadap Teheran melalui blokade laut terhadap pelabuhan dan kapal-kapal Iran guna memaksa tercapainya kesepakatan.

Meski demikian, sejumlah pelaku industri energi dan analis menilai harga minyak belum melonjak setinggi yang diperkirakan mengingat masih tersedianya cadangan minyak global yang cukup besar sebagai penyangga pasar.

Namun mereka mengingatkan risiko kenaikan harga minyak masih terbuka pada paruh kedua tahun ini. Seiring berkurangnya cadangan minyak dunia dan meningkatnya permintaan selama musim panas di belahan bumi utara, tekanan terhadap pasokan diperkirakan akan semakin besar.

Kondisi tersebut berpotensi kembali mendorong harga minyak dunia naik apabila situasi geopolitik di Timur Tengah belum sepenuhnya stabil.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6