Luhut Temui Investor Global di Singapura, Yakinkan Fundamental Ekonomi Kuat

Ketua DEN Luhut Pandjaitan menyebut ekonomi Indonesia tetap solid dengan pertumbuhan 5,61% dan inflasi terkendali.

Diterbitkan 21 Mei 2026, 14:55 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan memulai rangkaian kunjungan kerjanya di Singapura dengan bertemu sejumlah investor global dan perusahaan pengelola aset (asset management) terkemuka.

Pertemuan tersebut dimanfaatkan untuk mendengar pandangan pelaku pasar sekaligus menjelaskan kondisi ekonomi Indonesia guna meningkatkan kepercayaan investor terhadap prospek jangka panjang nasional.

Luhut mengungkapkan dalam pertemuan tersebut sejumlah investor menyampaikan kekhawatiran mengenai kondisi pasar global yang masih bergejolak. Beberapa isu yang menjadi perhatian antara lain fluktuasi nilai tukar, arus modal akibat tingginya suku bunga global, hingga ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Meski demikian, Luhut menegaskan kondisi fundamental ekonomi Indonesia masih tetap kuat.

"Dari diskusi kami hari ini, memang ada kekhawatiran mengenai volatilitas pasar. Mulai dari fluktuasi nilai tukar, hingga arus modal akibat tingginya suku bunga dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah," tulis Luhut melalui akun Instagram pribadinya, dikutip Kamis (21/5/2026).

Menurut dia, Indonesia masih mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61 persen dengan tingkat inflasi yang tetap terjaga di kisaran 2,4 persen.

Disiplin Fiskal

Luhut mengakui bahwa kondisi fundamental ekonomi yang kuat saja belum cukup untuk menjaga keyakinan pasar.

Menurut dia, investor juga memperhatikan aspek kepercayaan dan kepastian dalam melihat prospek suatu negara.

"Namun, saya sepakat bahwa fundamental saja tidak cukup, karena pasar juga menilai aspek kepercayaan dan kepastian," tulisnya.

Ia menegaskan pemerintah, sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, akan menjaga disiplin fiskal dan mempertahankan defisit anggaran di bawah 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Luhut menilai kredibilitas fiskal merupakan aset penting yang harus dipertahankan pemerintah.

"Kredibilitas fiskal adalah aset berharga yang tidak akan kami pertaruhkan," katanya.

Selain itu, Dewan Ekonomi Nasional juga telah menyiapkan sejumlah skenario antisipasi jika harga minyak dunia mengalami lonjakan hingga mencapai USD 100 per barel.

Luhut menjelaskan DEN telah menyusun simulasi dampak ekonomi apabila harga minyak menyentuh level USD 100 per barel. Kajian tersebut, kata dia, telah disampaikan kepada Presiden Prabowo bersama sejumlah rekomendasi stimulus ekonomi.

GovTech

Pemerintah juga menyiapkan langkah efisiensi melalui transformasi digital menggunakan teknologi GovTech. Sistem tersebut nantinya akan mendukung perubahan mekanisme subsidi energi, termasuk bahan bakar minyak (BBM), dari skema berbasis barang menjadi bantuan tunai langsung yang lebih tepat sasaran.

Di sektor keuangan, Luhut menyebut pemerintah juga mendorong Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk mengoptimalkan penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam sistem pengawasan pasar modal.

Selain itu, pemerintah terus mematangkan ekosistem Indonesia Financial Center (IFC) di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) agar dapat menjadi pusat kolaborasi dan layanan keuangan yang kompetitif secara global.

"Saya memandang kepercayaan dan kepastian sama pentingnya dengan pertumbuhan ekonomi itu sendiri," tulis Luhut.

Ia menilai arah kebijakan ekonomi Indonesia saat ini semakin mengarah pada sistem yang lebih kompetitif, transparan, dan efisien, sehingga peluang investasi jangka panjang masih menjanjikan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6