Dolar AS Menguat, Investor Cermati Prospek Suku Bunga The Fed

Dolar Amerika Serikat (AS) menguat terhadap sejumlah mata uang seiring investor mencermati perkembangan Timur Tengah dan kebijakan the Fed.

Diterbitkan 19 Mei 2026, 20:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Dolar Amerika Serikat (AS) menguat terhadap sejumlah mata uang pada Selasa, (19/5/2026). Kenaikan dolar AS seiring investor menyeimbangkan harapan yang hati-hati akan kesepakatan perdamaian Timur Tengah dengan kekhawatiran the Federal Reserve (the Fed) dapat menaikkan suku bunga. Kenaikan suku bunga the Fed ini untuk mengekang inflasi yang dipicu biaya energi.

Mengutip Channel News Asia, Selasa pekan ini, Presiden AS Donald Trump menuturkan, pada Senin, 18 Mei 2026 sekarang ada peluang yang sangat baik untuk mencapai kesepakatan yang membatasi program nuklir Iran.

Dolar AS melonjak pada Maret setelah penutupan efektif Selat Hormuz oleh Iran mendorong harga minyak lebih tinggi, membebani ekonomi yang bergantung pada minyak seperti Jepang dan zona euro. Hal itu meningkatkan permintaan safe haven untuk dolar AS.

Harga minyak turun 2% pada Selasa pekan ini setelah pernyataan Trump.

“Ada beberapa alasan mengapa dolar AS belum menguat kembali ke level yang terlibat pada Maret,” ujar Kepala Riset HSBC, Paul Mackel.

“Terutama, sentimen risiko global telah pulih dengan kuat, ketegangan tetap ada di pasar USD OIS (overnight index swaps) yang belum memperkirakan siklus kenaikan suku bunga Fed yang agresif dan momentum pertumbuhan global bulanan masih positif,”

Pada saat yang sama, investor juga memprediksi kenaikan suku bunga the Federal Reserve (the Fed) mencapai 48,5% pada Desember. Kemudian potensi suku bunga tetap 98,8% pada pertemuan Juni, berdasarkan CME FedWatch.

“Bahkan jika Fed memberi sinyal mereka akan mengadopsi bias netral pada Juni, itu mungkin tidak cukup untuk menstabilkan harapan inflasi dan imbal hasil obligasi pemerintah AS dalam jangka panjang,” ujar Macquarie Group’s Global Foreign Exchange Thierry Wizman.

“Kesempatan untuk mengubah retorika the Fed secara tegas ke arah hawkish akan datang dengan serangkaian pidato singkat dari the Fed,” ia menambahkan.

 

 

Indeks Dolar AS

Indeks dolar AS yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap sekeranjang enam mata uang naik 0,2% menjadi 99,18, setelah mengakhiri kenaikan lima hari berturut-turut pada Senin pekan ini. Hal ini karena kekhawatiran eskalasi perang mereda.

Euro turun 0,2% menjadi USD 1,1633.

Sementara itu, terhadap yen, dolar AS naik 0,15% menjadi 159,10 yen setelah data pemerintah menunjukkan ekonomi Jepang tumbuh 2,1% per tahun pada kuartal pertama. Hal itu mendukung harapan kenaikan suku bunga Bank of Japan pada Juni.

Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama mengatakan kepada wartawan pada Senin kalau Jepang siap bertindak melawan volatilitas nilai tukar yang berlebihan, sambil memastikan intervensi apa pun untuk mendukung yen dan menjual dolar dilakukan dengan cara yang menghindari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS.

Investor telah mengamati tanda-tanda lebih lanjut dari intervensi untuk mendukung yen, yang sedikit lebih kuat daripada sebelum pejabat Jepang bulan lalu memulai intervensi pertama mereka di pasar dalam hampir dua tahun.

Dolar Australia turun 0,5 persen menjadi USD 0,71345 setelah rilis risalah rapat Bank Sentral Australia pada 5 Mei.

Dolar Selandoa baru turun 0,4 persen menjadi USD 0,5854 seiring dengan penurunan dolar Australia.

Terhadap yuan China, dolar AS naik 0,1 persen menjadi 6,8031 yuan dalam perdagangan luar negeri.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6