Trump Bawa Puluhan CEO ke Beijing, tapi Belum Ada Kesepakatan Raksasa

Trump bertemu Xi Jinping di Beijing bersama bos teknologi seperti Elon Musk. Sejauh ini, belum ada kesepakatan dagang besar selain kelanjutan gencatan dagang.

Diterbitkan 15 Mei 2026, 13:32 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bertemu Presiden China Xi Jinping di Beijing dalam upaya memperkuat hubungan ekonomi kedua negara. Namun, pertemuan tingkat tinggi itu belum menghasilkan kesepakatan dagang besar.

Melansir BBC, Jumat (15/5/2036), dalam pertemuan yang berlangsung lebih dari dua jam pada Kamis waktu setempat, Trump menyebut hubungan AS-China sebagai hubungan ekonomi paling penting di dunia. Gedung Putih juga menilai pembicaraan tersebut berlangsung sangat produktif.

Meski begitu, belum ada pengumuman terkait perjanjian perdagangan baru. Kedua negara hanya menegaskan kelanjutan gencatan dagang yang sebelumnya telah disepakati.

Trump datang ke Beijing bersama sejumlah bos perusahaan besar AS, termasuk Elon Musk dan CEO Nvidia, Jensen Huang. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa sektor teknologi, terutama AI dan semikonduktor, menjadi fokus utama dalam pembicaraan.

Di sisi lain, Xi mengingatkan bahwa isu Taiwan tetap menjadi persoalan paling sensitif dalam hubungan kedua negara. Ia mengatakan, “Jika tidak ditangani dengan baik, kedua negara bisa berbenturan atau bahkan masuk ke dalam konflik.”

Selain perdagangan, kedua negara juga membahas investasi, akses pasar, serta kerja sama di sektor energi dan pertanian. Namun, hasil konkret dari pembicaraan itu diperkirakan baru akan terlihat dalam pertemuan lanjutan beberapa bulan ke depan.

Jelang Akhir Kunjungannya, Trump Berharap Relasi AS–China Lebih Kuat

Sebelumnya, Presiden Donald Trump pada Jumat (15/5/2026) mengatakan bahwa ia berharap hubungan antara Amerika Serikat (AS) dan China akan menjadi lebih kuat dan lebih baik dari sebelumnya. Pernyataan itu muncul di tengah lawatannya ke Beijing.

Dalam kesempatan yang sama, Trump mengklaim bahwa Xi telah mengucapkan selamat kepadanya atas begitu banyak keberhasilan luar biasa. Berikut pernyataan Trump selengkapnya yang disampaikannya via platform media Truth Social:

 

Ketika Presiden Xi dengan sangat elegan menyebut AS sebagai negara yang mungkin sedang mengalami kemunduran, ia merujuk pada kerusakan besar yang kami alami selama empat tahun di bawah Sleepy Joe Biden dan Pemerintahan Biden — dan dalam hal itu, ia 100 persen benar. Negara kami sangat dirugikan oleh kebijakan perbatasan terbuka, pajak tinggi, promosi agenda transgender secara luas, keterlibatan pria dalam olahraga wanita, DEI, perjanjian dagang yang buruk, tingkat kriminalitas yang merajalela, dan masih banyak lagi!

Presiden Xi tidak merujuk pada kebangkitan luar biasa yang telah ditunjukkan AS kepada dunia selama 16 bulan spektakuler Pemerintahan Trump, yang mencakup pasar saham dan dana pensiun 401(k) yang mencapai rekor tertinggi sepanjang masa, kemenangan militer serta hubungan yang semakin berkembang dengan Venezuela, penghancuran kekuatan militer Iran (akan berlanjut!) — militer terkuat di dunia sejauh ini, kembalinya AS sebagai kekuatan ekonomi besar, rekor investasi sebesar USD 18 triliun yang mengalir masuk ke AS dari negara lain, pasar kerja terbaik dalam sejarah AS, dengan jumlah orang yang bekerja saat ini lebih banyak daripada sebelumnya, penghentian kebijakan DEI yang dianggap merusak negara, dan begitu banyak pencapaian lain sehingga mustahil untuk disebutkan semuanya dengan cepat. Bahkan, Presiden Xi memberi selamat kepada saya atas begitu banyak keberhasilan besar dalam waktu yang sangat singkat.

Dua tahun lalu, memang benar kita adalah negara yang sedang mengalami kemunduran. Dalam hal itu, saya sepenuhnya setuju dengan Presiden Xi! Namun sekarang, AS adalah negara paling bersinar di dunia dan semoga hubungan kami dengan Tiongkok akan menjadi lebih kuat dan lebih baik daripada sebelumnya! 

 

Trump dan Xi dijadwalkan bertemu kembali pada hari ini sekaligus menutup kunjungan kenegaraan selama dua hari.

Kunjungan Trump menandai kali pertama seorang presiden AS melawat ke China sejak tahun 2017, di mana Trump juga adalah yang terakhir melakukannya. Trump berharap kedatangannya ke Beijing menghasilkan capaian nyata yang dapat membantu mendongkrak tingkat persetujuannya menjelang pemilu paruh waktu yang krusial.

Selat Hormuz, Minyak dan Boeing

Ringkasan singkat pihak AS mengenai pembicaraan kedua pemimpin pada Kamis (14/5) menyoroti apa yang oleh Gedung Putih disebut sebagai keinginan bersama kedua pemimpin untuk membuka kembali jalur pelayaran Selat Hormuz dan ketertarikan Xi untuk membeli minyak AS guna mengurangi ketergantungan pada pasokan dari Timur Tengah.

Trump sendiri mengatakan kepada Sean Hannity dari Fox News bahwa China telah sepakat memesan 200 pesawat Boeing. Jumlah tersebut jauh lebih rendah daripada yang diperkirakan pasar.

Sejumlah laporan media sebelumnya menyebut Boeing hampir mencapai kesepakatan untuk menjual 500 pesawat atau lebih kepada China. Saham Boeing dilaporkan turun lebih dari 4 persen setelah pernyataan Trump itu disiarkan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6