Purbaya Tepis Isu Fiskal Goyah Jadi Penyebab Rupiah Melemah

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membantah isu yang mengaitkan pelemahan rupiah dengan kondisi fiskal nasional. Ia menegaskan fundamental ekonomi solid.

Diterbitkan 05 Mei 2026, 16:33 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Isu pelemahan rupiah yang dikaitkan dengan kondisi fiskal Indonesia mendapat tanggapan dari Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Ia menilai anggapan tersebut tidak sepenuhnya didukung oleh data, terutama jika melihat kekuatan fundamental ekonomi nasional, termasuk ketahanan energi.

Purbaya menegaskan bahwa dalam konteks global yang penuh tekanan, Indonesia justru berada dalam posisi relatif kuat dibanding banyak negara lain. Ia merujuk pada sejumlah kajian internasional yang menempatkan Indonesia dalam jajaran teratas ketahanan energi saat menghadapi potensi krisis global.

“Orang juga banyak bilang, Indonesia fiskalnya goyah. Maka rupiahnya lemah-lemah dan lain-lain. Kalau rupiah nanti tanya BI ya, jangan tanya saya, mereka yang berhak menjawab. Tapi kalau kita lihat dari ketahanan energi, kita itu amat kuat.” ujar Purbaya dalam Konferensi Pers, Selasa (5/5/2026).

Ia juga menyinggung perbandingan posisi Indonesia dengan negara besar lain, yang menurutnya menunjukkan daya tahan ekonomi domestik masih solid di tengah risiko global.

“Itu nomor dua tuh. Perbandingan ketahanan energi terhadap krisis energi global. Kalau ada krisis global, Kita nomor dua paling kuat dibanding negara-negara lain,” ujarnya.

Lebih lanjut, Purbaya membantah narasi yang menyamakan kondisi saat ini dengan krisis 1998. Menurutnya, situasi ekonomi saat ini justru masih berada dalam fase ekspansi dan akselerasi, berbeda jauh dengan kondisi resesi yang terjadi sebelum krisis 1998.

Ia mengingatkan agar publik tidak terjebak pada spekulasi yang tidak berbasis data, serta menegaskan bahwa kondisi ekonomi Indonesia saat ini tetap stabil dan terkendali.

Rupiah Tembus Rp 17.400, BI Ambil Langkah Ini

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) akhirnya buka suara terkait pelemahan rupiah yang kini telah menembus Rp 17.400 per dolar Amerika Serikat (AS). BI menegaskan, pergerakan rupiah sejak awal konflik di Timur Tengah hingga saat ini masih sejalan dengan mayoritas mata uang emerging market lainnya.

Erwin mengatakan BI terus hadir di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dalam rangka menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan nilai fundamentalnya.

"Pergerakan Rupiah sejak awal konflik di Timur Tengah hingga saat ini masih sejalan dengan mayoritas mata uang emerging market lainnya," kata Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset BI Erwin Gunawan Hutapea dalam keterangan BI, Selasa (5/5/2026).

Menurut BI, Rupiah tidak melemah sendirian, melainkan nilai tukar mata uang negara tetangga seperti Philippine Peso melemah sebesar 6,58%, Thailand Baht melemah 5,04%, India Rupee melemah 4,32%, demikian pula dengan Chile Peso (-4,24%), Indonesia Rupiah (-3,65%), dan Korea Won (-2,29%).

Erwin mengatakan, Bank Indonesia akan terus mengoptimalkan intervensi di pasar valuta asing melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian SBN di pasar sekunder. Langkah ini dilakukan secara konsisten untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah berlanjutnya tekanan global.

"Bank Indonesia terus menegaskan komitmen untuk senantiasa hadir di pasar dan mengambil langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur guna menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah," pungkasnya. 

Kurs Rupiah Melemah, Tembus 17.400 per Dolar AS

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah pada Selasa 5 Mei 2026 pagi. Dikutip dari Antara, Selasa (5/5/2026), kurs rupiah bergerak melemah 11 poin atau 0,07 persen menjadi 17.405 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level 17.394 per dolar AS.

Kemarin, nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Senin melemah 57 poin atau 0,33 persen menjadi 17.394 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level 17.337 per dolar AS.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah dipicu serangan Ukraina terhadap kilang-kilang minyak di Rusia.

“Yang menyebabkan rupiah melemah ini masih dari eksternal, dimana di Eropa Timur, Ukraina terus melakukan penyerangan terhadap wilayah-wilayah minyak di Rusia dan kita lihat bahwa kilang-kilang minyak di Rusia banyak yang terkena drone dari Ukraina,” ucapnya.

Mengutip Xinhua, Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan serangan Kiev terhadap infrastruktur minyak Rusia dapat memicu kenaikan harga minyak lebih lanjut.

Pengurangan pasokan minyak Rusia ke pasar global disebut akan memicu kenaikan harga yang lebih tajam.

   

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6