Rupiah Tembus Rp 17.300 per Dolar AS, Pengamat: Lebih Cepat dari Prediksi

Rupiah melemah tajam hingga menembus level Rp 17.300 per dolar AS pada Kamis pagi. Analis memprediksi nilai tukar bisa mencapai Rp17.400 pada akhir April.

Diterbitkan 23 April 2026, 10:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menunjukkan pelemahan tajam dengan menembus level Rp17.300 pada perdagangan Kamis.

Mengutip data Trading Economics, hingga pukul 10.40 nilai tukar rupiah tercatat 17.295 per dolar AS. Rupiah sempat menembus level 17.300 per dolar AS pada Kamis pukul 09.00.

Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi, mengatakan pelemahan ini sekaligus menandai bahwa ekspektasi pelemahan yang sebelumnya diperkirakan baru terjadi dalam waktu lebih lama, justru datang lebih cepat dari proyeksi.

Bahkan, level Rp17.400 yang semula dipatok sebagai target di sepanjang tahun 2026, kini diperkirakan bisa tercapai dalam waktu dekat, tepatnya pada akhir April 2026. Kondisi ini mencerminkan tekanan besar terhadap rupiah yang datang dari kombinasi faktor eksternal dan domestik.

"Hari ini rupiah tembus di atas Rp 17.300," kata Ibrahim kepada Liputan6.com, Kamis (23/4/2026).

Ia mengungkapkan bahwa pergerakan rupiah saat ini sudah melampaui ekspektasi awal. Menurutnya, tembusnya level Rp 17.300 menjadi sinyal kuat bahwa tekanan terhadap rupiah jauh lebih besar dibandingkan perkiraan sebelumnya.

Ia menjelaskan, proyeksi nilai tukar rupiah di kisaran Rp 17.400 sejatinya merupakan target untuk keseluruhan tahun 2026. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa angka tersebut berpotensi tercapai hanya dalam hitungan minggu.

"Artinya, ekspetasi Rp 17.300 sudah kena di hari Kamis dan kemungkinan besar di akhir April yaitu minggu depan kemungkinan akan tembus level Rp 17.400, Rp 17.400 sebenarnya awalnya itu adalah ekspetasi tahun 2026, tetapi kenyataannya di bulan April kemungkinan besar akan tercapai di Rp 17.400," jelasnya.

 

Faktor Geopolitik Iran - AS

Menurutnya, percepatan pelemahan ini dipicu oleh berbagai faktor, terutama dari sisi eksternal. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya antara Amerika Serikat dan Iran, menjadi salah satu pemicu utama yang mengguncang stabilitas pasar keuangan global.

Situasi memanas setelah Iran menolak perundingan dengan Amerika Serikat yang difasilitasi Pakistan. Penolakan tersebut dipicu oleh aksi Amerika yang dinilai melanggar kesepakatan, termasuk penguasaan kapal tanker Iran di Selat Hormuz.

"Salah satu penyebabnya yang pertama adalah tentang masalah eksternal dimana dalam pertemuan di minggu ini antara Amerika dengan Iran yang dipasilitasi oleh Pakistan, nah Iran tidak ikut dalam perundingan tersebut dikarenakan Amerika sudah menyalahi aturan dalam kebijakan senjata dengan melakukan penangkapan, ya penguasaan terhadap kapal tanker Iran yang melewati selat Hormuz," pungkasnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6