Serap 280 Ribu Tenaga Kerja, Industri Pulp dan Kertas Sumbang Ekspor USD 8 Miliar

Industri pulp dan kertas menjadi industri dengan nilai tambah tinggi.

Diterbitkan 07 April 2026, 11:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Perindustrian menegaskan bahwa sektor pulp dan kertas merupakan industri hilir strategis dengan nilai tambah tinggi.

“Pada 2025, industri kertas, barang dari kertas, dan percetakan berkontribusi sebesar 3,73 persen terhadap PDB industri pengolahan nonmigas. Nilai ekspor pulp mencapai USD 3,6 miliar dan kertas USD 4,57 miliar,” kata Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Putu Juli Ardika, dikutip dari Antara, Selasa (7/4/2026).

Sektor ini juga menyerap lebih dari 280 ribu tenaga kerja langsung serta sekitar 1,2 juta tenaga kerja tidak langsung.

Putu optimistis prospek industri tetap solid karena meningkatnya kebutuhan kemasan dari sektor pangan dan perdagangan elektronik (e-commerce), serta tren global substitusi plastik ke material berbasis kertas.

Meski demikian, pemerintah mencatat sejumlah tantangan struktural, seperti keterbatasan bahan baku domestik, hambatan dagang non-tarif, hingga penyesuaian regulasi terkait kewajiban sertifikasi halal.

Untuk menjawab tantangan tersebut, pemerintah bersama pelaku industri terus mendorong penguatan ekosistem melalui konsolidasi kebijakan, inovasi bahan baku alternatif, serta pemberian insentif fiskal dan non-fiskal.

Sementara itu, Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) menegaskan pentingnya konsolidasi strategis lintas pemangku kepentingan untuk memperkuat daya saing industri nasional di tengah tekanan global dan dinamika kebijakan perdagangan internasional.

 

Fase Krusial

Ketua Umum APKI Suhendra Wiriadinata mengatakan industri pulp dan kertas saat ini berada pada fase krusial. Kondisi ini menuntut respons kolektif yang terkoordinasi guna menghadapi ketidakpastian geopolitik serta gangguan rantai pasok global.

“Industri tidak bisa berjalan sendiri. Diperlukan konsolidasi kuat antara pelaku usaha, pemerintah, dan pemangku kepentingan agar mampu merespons dinamika global secara adaptif,” ujar Suhendra dalam acara Halal Bihalal 1447 H di Jakarta, Senin.

Menurut Suhendra, penguatan fundamental industri di tingkat domestik harus dilakukan melalui peningkatan investasi, efisiensi produksi, serta kebijakan tata niaga yang berpihak pada industri dalam negeri. Selain itu, transformasi menuju industri hijau dan penerapan ekonomi sirkular menjadi peluang strategis untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai global yang berkelanjutan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6