Prabowo Minta Pemberian THR ASN hingga BHR Tepat Waktu

Presiden Prabowo mengapresiasi pada masa pemerintahannya dibagikan bonus hari raya (BHR) untuk pengemudi online.

Diterbitkan 13 Maret 2026, 19:03 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto meminta sejumlah kementerian untuk memastikan pemberian tunjangan hari raya (THR) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) dan bonus hari raya (BHR) untuk pengemudi online diberikan tepat waktu.

Presiden Prabowo menyampaikan hal itu saat Sidang Kabinet Paripurna pada Jumat, (13/3/2026) di Istana Negara.

“Menteri tenaga kerja, menteri keuangan dan menteri investasi pastikan Tunjangan Hari Raya (THR) untuk semua Aparatur Sipil Negara (ASN) pusat dan daerah dilaksanakan tepat waktu,” kata dia.

Ia juga mengingatkan pembagian bonus hari raya untuk pekerja di sektor informal sesuai dengan yang telah ditentikan. “Bonus hari raya untuk pekerja sektor informal di online yakinkan sesuai kita tentukan harus sampai ke mereka antara Rp 400 ribu-Rp 1,6 juta per orang,” tutur dia.

Prabowo juga bersyukur saat pemerintahannya, pengemudi online mendapatkan bonus hari raya. Ia pun mengapresiasi hal itu.

“Kita juga bersyukur baru pemerintahan kita pengemudi online mendapatkan bonus hari raya, terima kasih,” kata dia.

THR 2026 Tak Boleh Dicicil, Menaker Minta Perusahaan Swasta Patuh

Sebelumnya, Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli meminta seluruh perusahaan mematuhi ketentuan pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) keagamaan kepada pekerja serta bonus hari raya bagi mitra pengemudi ojek online (ojol).

Ketentuan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Menteri Ketenagakerjaan Nomor M/3/HK.04.00/III/2026 tentang Pelaksanaan Pemberian Tunjangan Hari Raya Keagamaan Tahun 2026 bagi pekerja atau buruh di perusahaan. Selain itu, pemerintah juga menerbitkan Surat Edaran Nomor M/4/HK.04.00/III/2026 mengenai pemberian Bonus Hari Raya (BHR) bagi pengemudi dan kurir pada layanan angkutan berbasis aplikasi.

Menaker menegaskan pemerintah berharap seluruh industri mengikuti ketentuan tersebut.

“Pemerintah mengimbau, tentu kita berharap setiap industri bisa kemudian mendengarnya. Sama misalnya seperti BHR, atau bonus hari raya buat teman-teman ojol. Kita mengimbau, presiden juga mengimbau dengan surat edaran dan diikuti,” kata Yassierli dikutip dari Antara, Jumat, 13 Maret 2026.

Pemberian THR keagamaan sendiri merupakan kewajiban pengusaha kepada pekerja sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 36 Tahun 2021 tentang Pengupahan serta Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 6 Tahun 2016 tentang THR Keagamaan bagi Pekerja/Buruh di Perusahaan.

 

THR Wajib Dibayar Tanpa Dicicil

Dalam aturan tersebut, besaran THR keagamaan wajib diberikan sesuai ketentuan yang telah ditetapkan dalam regulasi.

Menaker menegaskan pembayaran THR tidak boleh dilakukan secara bertahap atau dicicil oleh perusahaan.

THR keagamaan wajib dibayarkan paling lambat tujuh hari sebelum Hari Raya Keagamaan. Meski demikian, pemerintah mendorong perusahaan untuk membayar THR lebih awal agar pekerja dapat mempersiapkan kebutuhan menjelang Lebaran.

Kebijakan ini diharapkan dapat menjaga daya beli masyarakat sekaligus memberikan kepastian bagi pekerja menjelang perayaan Idul Fitri.

Pemerintah juga akan terus memantau pelaksanaan pembayaran THR agar berjalan sesuai aturan yang berlaku.

 

Ojol dan Kurir Online Dapat Bonus Hari Raya

Selain THR bagi pekerja formal, pemerintah juga mengimbau perusahaan aplikasi memberikan Bonus Hari Raya (BHR) kepada pengemudi ojek online dan kurir berbasis aplikasi.

BHR diberikan kepada pengemudi dan kurir yang terdaftar secara resmi di perusahaan aplikasi dalam kurun waktu 12 bulan terakhir.

Besaran BHR diberikan dalam bentuk uang tunai dengan nilai paling sedikit 25 persen dari rata-rata pendapatan bersih selama 12 bulan terakhir.

“Perusahaan aplikasi agar transparan dalam perhitungan besaran BHR Keagamaan kepada pengemudi dan kurir online,” kata Yassierli.

Sama seperti THR pekerja di perusahaan, BHR untuk pengemudi ojol dan kurir online juga harus dibayarkan paling lambat tujuh hari sebelum Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah.

Pemerintah berharap kebijakan ini dapat memberikan perlindungan dan kesejahteraan yang lebih baik bagi pekerja maupun mitra pengemudi menjelang Lebaran.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6