Prediksi Ketua DEN Luhut Binsar Pandjaitan soal Akhir dari Perang AS-Iran

Ketua DEN Luhut Binsar Pandjaitan menilai perang AS-Iran kemungkinan tidak selesai cepat karena faktor sejarah dan ketahanan Iran.

Diterbitkan 06 Maret 2026, 16:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Konflik geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran diprediksi tidak akan berakhir dalam waktu singkat dan berpotensi berdampak luas pada stabilitas ekonomi global. Hal ini diungkap oleh Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan.

Ia menilai konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran berpotensi berlangsung cukup lama dan tidak akan selesai dalam waktu singkat. Menurut Luhut, dinamika geopolitik di Timur Tengah perlu dicermati secara serius karena dampaknya bisa meluas ke ekonomi global.

“Saya melihat perang ini tidak akan selesai dalam 4 minggu atau 1 bulan ke depan,” kata Luhut, dikutip dari akun instagram resmi, Jumat (6/3/2026).

Ia menjelaskan, salah satu faktor yang membuat konflik berpotensi berkepanjangan adalah karakter bangsa Iran yang dikenal memiliki ketahanan tinggi.

“Karena kita harus kenal bangsa Iran ini. Bangsa Iran ini bangsa yang tidak pernah dijajah ribuan tahun. Dan kalau kita lihat sejarahnya, bangsa ini fighter,” ujarnya.

Luhut juga menilai konflik dapat mereda jika sistem persenjataan Iran benar-benar dilemahkan atau terjadi perubahan rezim di negara tersebut.

“Pertama, kalau tadi semua sistem persenjata mereka bisa dihancurkan. Kedua, bisa tidak penggantian regime. Kalau itu tidak terjadi, maka perang ini akan berkepanjangan,” katanya.

Ia menambahkan bahwa Amerika Serikat juga kemungkinan berpikir panjang untuk mengirim pasukan darat karena risiko korban yang besar.

Menlu Iran: Teheran Tak Pernah Minta Gencatan Senjata dengan AS-Israel

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Seyed Abbas Araghchi mengatakan bahwa negaranya tidak meminta gencatan senjata dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel, serta tidak melihat adanya alasan untuk bernegosiasi dengan Washington.

Dia melontarkan pernyataan tersebut dalam sebuah wawancara dengan saluran televisi AS, NBC News, yang ditayangkan pada Kamis (5/3/2026).

"Kami tidak meminta gencatan senjata, dan kami tidak melihat adanya alasan mengapa kami harus bernegosiasi dengan AS karena kami telah bernegosiasi dengan mereka dua kali, dan setiap kali, mereka menyerang kami di tengah proses negosiasi tersebut," ujar Araghchi, dikutip dari laman Antara News, Jumat (6/3/2026).

Mengenai kemungkinan invasi darat oleh AS ke Iran, Araghchi mengatakan "Kami menunggu mereka karena kami yakin dapat menghadapi mereka, dan hal itu akan menjadi bencana besar bagi mereka".

Araghchi menambahkan bahwa Iran telah sepenuhnya siap menghadapi konflik yang sedang berlangsung dan siap untuk segala kemungkinan lainnya, termasuk invasi darat. Dia menekankan bahwa angkatan bersenjata Iran sudah siap menghadapi skenario apa pun.

Sementara itu, Iran menyatakan pada Kamis bahwa Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) telah menargetkan kapal induk USS Abraham Lincoln dengan menggunakan drone di Teluk Oman, sekitar 340 km di luar perairan teritorial Iran di Teluk Oman.

Markas Besar Khatam al-Anbiya Iran mengatakan kepada stasiun televisi pemerintah, IRIB TV, bahwa setelah dihantam drone Iran, kapal induk USS Abraham Lincoln beserta kapal-kapal perusaknya segera menjauh dan saat ini berada di posisi lebih dari 1.000 km dari kawasan tersebut.

Berbagai perkembangan ini terjadi menyusul serangan gabungan AS-Israel terhadap Teheran dan sejumlah kota lainnya di Iran yang bermula Sabtu (28/2) pagi waktu setempat.

Serangan itu mengakibatkan kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, beserta beberapa anggota keluarganya, jajaran komandan militer tertinggi Iran, serta warga sipil. Iran kemudian merespons dengan beberapa gelombang serangan rudal dan drone yang menargetkan aset-aset Israel dan AS di kawasan tersebut.

 

Siap Hadapi Konflik

"Kami tidak meminta gencatan senjata, dan kami tidak melihat adanya alasan mengapa kami harus bernegosiasi dengan AS karena kami telah bernegosiasi dengan mereka dua kali, dan setiap kali, mereka menyerang kami di tengah proses negosiasi tersebut," ujar Araghchi, dikutip dari laman Antara News, Jumat (6/3/2026).

Mengenai kemungkinan invasi darat oleh AS ke Iran, Araghchi mengatakan "Kami menunggu mereka karena kami yakin dapat menghadapi mereka, dan hal itu akan menjadi bencana besar bagi mereka".

Araghchi menambahkan bahwa Iran telah sepenuhnya siap menghadapi konflik yang sedang berlangsung dan siap untuk segala kemungkinan lainnya, termasuk invasi darat. Dia menekankan bahwa angkatan bersenjata Iran sudah siap menghadapi skenario apa pun.

Sementara itu, Iran menyatakan pada Kamis bahwa Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) telah menargetkan kapal induk USS Abraham Lincoln dengan menggunakan drone di Teluk Oman, sekitar 340 km di luar perairan teritorial Iran di Teluk Oman.

Markas Besar Khatam al-Anbiya Iran mengatakan kepada stasiun televisi pemerintah, IRIB TV, bahwa setelah dihantam drone Iran, kapal induk USS Abraham Lincoln beserta kapal-kapal perusaknya segera menjauh dan saat ini berada di posisi lebih dari 1.000 km dari kawasan tersebut.

Berbagai perkembangan ini terjadi menyusul serangan gabungan AS-Israel terhadap Teheran dan sejumlah kota lainnya di Iran yang bermula Sabtu (28/2) pagi waktu setempat.

Serangan itu mengakibatkan kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, beserta beberapa anggota keluarganya, jajaran komandan militer tertinggi Iran, serta warga sipil. Iran kemudian merespons dengan beberapa gelombang serangan rudal dan drone yang menargetkan aset-aset Israel dan AS di kawasan tersebut.

   

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6