Perang AS-Iran Perbesar Risiko Resesi Global

Laporan Market Pulse DBS (2/3/2026) memperingatkan eskalasi konflik AS-Iran berisiko memicu resesi global.

Diterbitkan 02 Maret 2026, 20:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Laporan terbaru dari DBS menilai eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran berpotensi memperbesar risiko perlambatan ekonomi global. Perang yang dimulai secara unilateral oleh AS bersama Israel itu dinilai meningkatkan ketidakpastian geopolitik sekaligus memicu tekanan terhadap stabilitas makroekonomi dunia.

Melansir laporan DBS bertajuk Market Pulse, Senin (2/3/2026), DBS menyoroti dampak lanjutan dari lonjakan harga energi akibat potensi gangguan pasokan. Tekanan tersebut dinilai tidak hanya memengaruhi pasar komoditas, tetapi juga memperburuk ekspektasi inflasi global.

“Lonjakan harga minyak akibat guncangan pasokan akan meningkatkan ekspektasi inflasi dan membatasi ruang bagi The Fed untuk memangkas suku bunga,” isi laporan tersebut.

Menurut DBS, kenaikan ekspektasi inflasi akan mempersempit fleksibilitas kebijakan moneter, khususnya di Amerika Serikat. Jika tekanan harga terus meningkat, bank sentral akan menghadapi dilema antara menjaga stabilitas harga dan mendukung pertumbuhan ekonomi.

Selain membatasi ruang pelonggaran suku bunga, lonjakan inflasi juga dinilai berpotensi langsung menekan aktivitas ekonomi. Biaya energi yang lebih tinggi dapat menggerus daya beli konsumen dan meningkatkan beban biaya produksi bagi pelaku usaha.

“Kenaikan inflasi akan membebani aktivitas ekonomi dan meningkatkan kemungkinan terjadinya resesi global.”

DBS menilai kombinasi antara ketidakpastian geopolitik, tekanan harga energi, dan respons kebijakan moneter yang terbatas menciptakan risiko sistemik bagi pertumbuhan global. Selama konflik belum menunjukkan tanda mereda, pasar dinilai akan tetap sensitif terhadap setiap perkembangan di kawasan Timur Tengah.

Iran Tegaskan Tidak Akan Bernegosiasi dengan AS

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Ali Larijani pada Senin (2/3/2026) membantah klaim pihaknya berupaya memulai kembali perundingan dengan Amerika Serikat (AS).

Pernyataan tersebut disampaikan Larijani melalui platform media sosial X sebagai tanggapan atas laporan yang menyebut Iran telah melakukan inisiatif baru untuk bernegosiasi dengan AS.

Merujuk pada laporan Al Jazeera yang mengutip The Wall Street Journal, yang menyatakan bahwa Larijani berusaha melanjutkan kembali perundingan dengan Washington melalui Oman, ia menegaskan, "Kami tidak akan bernegosiasi dengan AS."

Dalam unggahan terpisah, Larijani juga menanggapi pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait Iran.

Ia mengkritik Trump karena dinilai telah membawa kawasan ke dalam kekacauan melalui apa yang disebutnya sebagai "ilusi kosong".

Larijani mengatakan, "Dia sekarang khawatir akan kerugian lebih lanjut dari tentara AS. Dengan delusinya sendiri, ia telah mengubah slogan 'America First' menjadi 'Israel First' dan mengorbankan pasukan Amerika demi hasrat kekuasaan Israel."

 

 

Serangan Drone

Larijani menuding pula Trump telah menyeret para tentara AS beserta keluarga mereka untuk menanggung dampak dari apa yang ia sebut sebagai rangkaian kebohongan baru yang disampaikan presiden AS tersebut.

Sementara itu, serangan militer gabungan AS dan Israel yang diluncurkan pada Sabtu (28/2) dilaporkan telah menewaskan sejumlah pejabat senior Iran, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatullah Ali Khamenei.

Sebagai respons, Teheran melancarkan serangan drone dan rudal yang menargetkan negara-negara Teluk. Dalam eskalasi tersebut, tiga personel militer AS dilaporkan tewas dan lima lainnya mengalami luka serius.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6