Stabilitas Sistem Keuangan Terjaga, Waspadai Volatilitas Global 2026

Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menuturkan, KSSK akan terus memantau kondisi ekonomi dan sektor keuangan di tengah volatilitas pasar keuangan global.

Diterbitkan 27 Januari 2026, 18:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan hasil asesmen Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang menilai kondisi fiskal, moneter, dan sektor keuangan Indonesia tetap terjaga sepanjang triwulan IV 2025. Stabilitas tersebut didukung oleh koordinasi dan sinergi kebijakan antar otoritas.

"Hasil asesmen Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menunjukkan bahwa kondisi fiskal, moneter, dan sektor keuangan selama triwulan IV tahun 2025 dalam kondisi terjaga, didukung koordinasi dan sinergi kebijakan antar otoritas,” ujar Purbaya saat Konferensi Pers Hasil Rapat Berkala KSSK I Tahun 2026, Selasa (27/1/2026).

Ia menjelaskan, memasuki Januari 2026, pasar keuangan global sempat mengalami peningkatan volatilitas akibat ketegangan perdagangan dan geopolitik. Karena itu, KSSK akan terus melakukan pemantauan serta asesmen ke depan terhadap kondisi perekonomian dan sektor keuangan.

" Berdasarkan perkembangan tersebut, KSSK yang terdiri dari Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia (BI), Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), akan terus mencermati dan melakukan asesmen forward looking terhadap kondisi perekonomian dan sektor keuangan di tengah ketidakpastian global yang masih berlanjut, sekaligus melakukan upaya mitigasi secara terkoordinasi, baik antarlembaga anggota KSSK maupun dengan Kementerian/Lembaga lain,” jelasnya.

Dalam paparannya, Purbaya juga menyoroti dinamika ekonomi global yang masih dibayangi ketidakpastian, termasuk dampak ketegangan dagang dan kebijakan suku bunga Amerika Serikat. Meski demikian, ia menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap menunjukkan ketahanan.

Pada triwulan IV 2025, sejumlah indikator domestik menunjukkan perbaikan, antara lain PMI manufaktur yang berada di zona ekspansi, penjualan ritel yang tumbuh positif, serta neraca perdagangan yang mencatat surplus. Likuiditas perbankan juga diperkuat oleh penempatan kas negara dan pertumbuhan uang primer.

Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2025 diperkirakan berada di kisaran 5,2%. Sementara pada 2026, pertumbuhan diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 5,4%, didukung penguatan permintaan domestik serta sinergi kebijakan pemerintah dan otoritas sektor keuangan.

 

OJK: Sektor Jasa Keuangan Indonesia Tetap Stabil di Tengah Dinamika Global

Sebelumnya, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Mahendra Siregar memastikan, sektor jasa keuangan nasional tetap stabil di tengah dinamika perekonomian global yang beragam. Penilaian tersebut merupakan hasil rapat Dewan Komisioner OJK yang digelar pada 1 Oktober 2025.

Mahendra menyampaikan, kondisi stabilitas sektor keuangan nasional ditopang oleh sejumlah faktor, baik dari sisi global maupun domestik.

Ia menjelaskan, perekonomian global menunjukkan kondisi yang bervariasi di sejumlah negara utama. OECD telah melakukan revisi terhadap proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia yang kini dinilai lebih kuat dibandingkan perkiraan di awal tahun. Namun demikian, risiko dari ketegangan perdagangan dan geopolitik masih perlu diwaspadai.

"Meskipun kemungkinan tensi perang dagang dan geopolitik akan bisa bergejolak kembali. Di Amerika Serikat, kinerja perekonomian relatif stabil dengan pertumbuhan PDB yang relatif tinggi, meskipun pasar tenaga kerja melemah dan inflasi masih terus persisten. Siklus penurunan Fed Fund Rate juga telah dimulai,” jelas Mahendra dalam Konferensi Pers Asesmen Sektor Jasa Keuangan dan Kebijakan OJK Hasil RDKB September 2025, Kamis (9/10/2025).

 

 

Ekonomi China dan Eropa

Ia menambahkan, langkah The Federal Reserve menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada September turut memperkuat sentimen pasar global.

Sementara itu, ekonomi Tiongkok masih mengalami moderasi, dengan sejumlah indikator utama baik di sisi permintaan maupun penawaran berada di bawah ekspektasi pasar. Di kawasan Eropa, perekonomian juga stagnan dengan negara besar seperti Prancis yang mengalami tekanan.

"Perkembangan-perkembangan itu turut mendukung risk on investor global sehingga pasar saham global cenderung menguat. Di dalam negeri, kinerja perekonomian domestik terjaga dengan PMI manufaktur di zona ekspansi dan surplus neraca perdagangan meningkat,” kata Mahendra.

 

Komitmen OJK

Meski demikian, ia mengingatkan agar tetap mencermati perkembangan permintaan domestik yang masih perlu didorong. Hal itu terlihat dari moderasi inflasi, indeks kepercayaan konsumen, serta tingkat penjualan ritel, semen, dan kendaraan yang masih belum optimal.

Mahendra menegaskan, OJK berkomitmen menjaga stabilitas sektor jasa keuangan melalui penguatan koordinasi, pengawasan, serta kebijakan yang adaptif menghadapi dinamika global maupun domestik. Tujuannya agar sektor jasa keuangan tetap tangguh (resilient), kontributif, dan berdaya saing tinggi.

Selain itu, ia menambahkan, OJK juga akan terus mengoptimalkan kinerja intermediasi dengan mendorong penyaluran pembiayaan ke sektor-sektor prioritas pemerintah, termasuk kepada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), guna memperkuat pertumbuhan ekonomi nasional. Upaya memperdalam pasar keuangan juga menjadi fokus agar likuiditas meningkat.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6