Dua Lipa Buka Perpustakaan Buku Terlarang di Portugal, Jadi Simbol Kebebasan Membaca

Dua Lipa memperluas misi literasinya dengan membuka perpustakaan berisi buku-buku yang pernah dilarang atau disensor di Portugal.

Diterbitkan 01 Juli 2026, 15:14 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Dua Lipa kembali menunjukkan kecintaannya pada dunia literasi lewat langkah yang tak biasa. Penyanyi pemenang Grammy tersebut resmi membuka perpustakaan pertamanya di Portugal yang berisi buku-buku yang pernah dilarang maupun disensor di berbagai negara.

Perpustakaan bernama Manifesto Library itu menjadi kelanjutan dari misi literasi yang telah ia bangun melalui Service95 Book Club, komunitas membaca yang diluncurkan pada 2023. Lewat program tersebut, Dua Lipa rutin merekomendasikan satu buku setiap bulan sekaligus berbincang langsung dengan penulisnya dalam sebuah podcast.

Kini, misinya berkembang lebih jauh. Manifesto Library diharapkan menjadi ruang yang mengajak masyarakat berpikir kritis sekaligus merayakan kebebasan membaca, terutama terhadap karya-karya yang pernah dianggap kontroversial.

 

Berisi Hampir 100 Buku yang Pernah Dilarang

Manifesto Library resmi dibuka pada 27 Juni sebagai bagian dari festival buku internasional BABELL – City of Books. Setelah festival berakhir, perpustakaan tersebut akan menjadi koleksi permanen di Livraria Lello, salah satu toko buku paling ikonis di Kota Porto, Portugal.

Dalam pernyataan resminya, Dua Lipa menyebut proyek ini sebagai kolaborasi impian yang lahir dari perjalanan panjang membangun komunitas pembaca.

"Saat mendirikan Service95 Book Club, ambisiku adalah menciptakan rumah bagi para penulis dan pembaca, di mana pun mereka berada dan apa pun keadaan mereka," ujar Dua Lipa.

Ia juga menyoroti masih adanya upaya pembatasan terhadap akses membaca di berbagai belahan dunia.

"Membaca membuat kita semakin dekat dengan dunia. Namun sayangnya, tidak semua orang menyukai hal itu."

Menurutnya, perpustakaan tersebut menghadirkan sekitar 100 buku yang pernah dipertanyakan, dilarang, atau disensor karena mengangkat isu-isu seperti ras, seksualitas, hingga identitas LGBTQIA+.

"Ada buku yang dilarang di sekolah karena membahas ras atau seksualitas. Ada pula karya yang ditulis untuk pembaca LGBTQIA+ sehingga dibatasi peredarannya. Bahkan, dalam beberapa kasus, ada penulis yang harus membayar kata-kata mereka dengan nyawa," ungkapnya.

 

Jadi Pengingat Pentingnya Kebebasan Berekspresi

Bagi Dua Lipa, Manifesto Library bukan sekadar perpustakaan, melainkan penghormatan bagi para penulis yang berani menyuarakan kebenaran melalui karya mereka.

"Perpustakaan ini adalah penghormatan bagi buku-buku yang sempat menghilang, bagi para penulis yang keberaniannya membongkar struktur kekuasaan dan kontrol, serta bagi para pembaca yang menolak diberi tahu buku apa yang boleh mereka baca."

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Lanjut Baca:

Ia pun mengajak setiap pengunjung untuk menentukan sendiri buku mana yang layak dibaca. "Terkadang, tindakan paling berani yang bisa dilakukan adalah membaca sebuah buku, lalu membicarakannya." Hampir 100 koleksi di Manifesto Library disusun berdasarkan empat tema utama, yaitu power (kekuasaan), control (kontrol), voice (suara), dan memory (ingatan). Beberapa karya terkenal yang tersedia di antaranya The Handmaid's Tale karya Margaret Atwood, Felon karya Reginald Dwayne Betts, serta sejumlah buku dari Salman Rushdie dan Olga Tokarczuk.

Halaman
Show All
Liputan6.com, Guntur MerdekawanTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan