Dua Lipa Buka Perpustakaan Buku Terlarang di Portugal, Jadi Simbol Kebebasan Membaca

Dua Lipa memperluas misi literasinya dengan membuka perpustakaan berisi buku-buku yang pernah dilarang atau disensor di Portugal.

Diterbitkan 01 Juli 2026, 15:14 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Ia pun mengajak setiap pengunjung untuk menentukan sendiri buku mana yang layak dibaca.

"Terkadang, tindakan paling berani yang bisa dilakukan adalah membaca sebuah buku, lalu membicarakannya."

Hampir 100 koleksi di Manifesto Library disusun berdasarkan empat tema utama, yaitu power (kekuasaan), control (kontrol), voice (suara), dan memory (ingatan).

Beberapa karya terkenal yang tersedia di antaranya The Handmaid's Tale karya Margaret Atwood, Felon karya Reginald Dwayne Betts, serta sejumlah buku dari Salman Rushdie dan Olga Tokarczuk.

Literasi Jadi Bagian Penting Perjalanan Dua Lipa

Pihak Livraria Lello menyebut kehadiran Manifesto Library sejalan dengan filosofi toko buku yang telah berdiri lebih dari 120 tahun.

"Kami selalu percaya bahwa buku adalah teknologi kebebasan. Manifesto Library tumbuh dari keyakinan tersebut," ujar Francisca Pedro Pinto, Head of Brand Livraria Lello.

Menurutnya, yang dipertaruhkan bukan hanya masa depan dunia membaca, tetapi juga kemampuan masyarakat untuk membayangkan, memahami, dan membangun masa depan mereka sendiri.

Selain aktif mengembangkan Service95 Book Club, Dua Lipa juga dijadwalkan menjadi kurator London Literature Festival 2026 di Southbank Centre. Baru-baru ini, dalam salah satu episode podcast klub bukunya, ia juga mengkritik pemberitaan media terkait dokumen kasus Jeffrey Epstein yang menurutnya tidak memberikan keadilan bagi para korban.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

Halaman
Show All
Liputan6.com, Guntur MerdekawanTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan